-
PENDIDIKAN

Mental Siswa Diduga Terganggu, Kepala MAN 1 Pulpis Minta Maaf  

53
×

Mental Siswa Diduga Terganggu, Kepala MAN 1 Pulpis Minta Maaf  

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI
-

PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – Diduga akibat perilaku arogansi Wakil Kepala MAN 1 Pulang Pisau terhadap anak didiknya, seorang siswa inisial ZF mengalami trauma dan mentalnya terganggu. Tak terima, orang tua ZF melayangkan somasi dan keberatan atas perlakuan oknum dimaksud.

Dalam surat somasi tersebut, orang tua ZF, Adi Waskito, Sabtu (12/8), menyampaikan, tindakan yang dilakukan Wakamad Bidang Kesiswaan terkait dengan memanggil anaknya pada Jumat (11/8), berdampak mengakibatkan mental dan psikologis anaknya terganggu dengan masalah yang bukan kapasitasnya untuk mengerti dan bukan dikonsumsi untuk anak yang saat itu masih dalam lingkungan pelajaran/jam sekolah.

Dijelaskan Adi, yang menjadi ganjalan, seperti apa prosedur pemanggilan terhadap peserta didik, dan kesalahan apa yang dilakukan oleh peserta didik?

“Akibat pemanggilan ini, anak saya mendapat asumsi miring dari teman-temannya yang membuat dirinya malu (menuju ke bullyng) hingga menyebabkan gangguan mental dan psikologis, hingga mengubah sikap peserta didik kepada orang tuanya serta malu untuk kembali masuk sekolah,” jelasnya.

Adi juga menuntut ada tindakan yang dilakukan pihak MAN 1 Pulang Pisau terhadap masalah ini, dan dapat mengembalikan psikologis anaknya ke kondisi semula.

Selain itu, ia juga mempertanyakan pengertian Full Day di MAN 1 Pulang Pisau yang selama ini dinilai tidak diterapkan dengan baik.

“Seharusnya pengertian Full Day yang kami dapat dari sejumlah referensi diartikan seluruh aktivitas sekolah dituntaskan di sekolah, sehingga lepas dari lingkungan sekolah peserta didik sekembali ke rumah bisa berinteraksi dengan lingkungan sosial dan keluarga juga bisa beristirahat tanpa dibebani tugas atau PR, sehingga esok harinya peserta didik lebih siap dan fresh dalam menerima pelajaran,” jelasnya.

Tugas tambahan atau PR, tambah Adi, menjadi momok bagi peserta didik, karena selama di rumah anaknya tidak lagi bisa berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sosial, seperti mengaji, menambah ilmu agama, membantu orang tua, mencari literatur pengetahuan/wawasan, dan lainnya. Hanya dipenuhi untuk menyelesaikan tugas sekolah karena ditakutkan dengan nilai yang diberikan oleh guru.

“Apabila tidak mendapat tindak lanjut, saya berjanji akan menempuh berbagai jalur sebagai konsekuensi terganggunya mental dan psikologis anak kami,” tegasnya.

Ketika dikonfirmasi, Minggu (13/8), Kepala MAN 1 Pulpis H Sriyadi menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua siswa, apalagi sampai membuat anak didiknya menjadi trauma atau terganggu mental.

“Kami meminta maaf pak kepada orang tua siswa, dan tidak ada niatan untuk menjatuhkan mental anak didik kita. Apalagi, anak didik kita ini adalah anak berprestasi. Jadi kesiswaan dan anak didik kita ini sudah biasa, dan ZF ini mengikuti KSN Tingkat Kabupaten dan Provinsi Juara. Itu yang membuat kita bingung, kok sampai seperti itu,” kata Sriyadi.

Sriyadi mengakui, kalau di sekolah ZF ini adalah anak yang baik dan supel, sehingga membuat pihaknya menjadi bingung, kenapa sampai ZF menjadi down atau terganggu mentalnya.

Untuk itu, ujar Sriyadi, pada Senin, 14 Agustus 2023 pihaknya akan bertemu dengan orang tua siswa, Adi Waskito, dan pihaknya pun siap untuk membantu memulihkan psikoligis ZF sampai bisa bersekolah kembali.

“Tidak ada arogansi, dan yang pasti kami ingin yang terbaik untuk anak didik di sekolah. Dan di sekolah ini adalah kewajiban kami memberikan nasihat, masukan dan yang jelas tidak ada hal-hal yang aneh terhadap siswa kami,” katanya.

Sriyadi pun belum memahami, kenapa sampai terjadi terhadap ZF. Sebab, menurutnya, saat dia menanyakan kepada pihak Kesiswaan, dan disampaikan bahwa hanya ada pemanggilan biasa, dan yang biasa terjadi kepada semua siswa yang lainnya, seperti memberikan nasihat dan lainnya kepada siswa.

 

Diminta Saling Komunikasi

Menyikapi terjadinya permasalahan antara orang tua siswa dan guru di MAN 1 Pulpis, Ketua PGRI Kabupaten Pulpis Suparno meminta agar pihak sekolah dan orang tua dapat saling berkomunikasi untuk diselesaikan permasalahan tersebut di sekolahnya.

“Untuk permasalahannya apa kita masih belum tahu. Tetapi, alangkah baiknya antara orang tua murid dan pihak sekolah dapat saling berkomunikasi terlebih dahulu. Sehingga orang tua murid tahu apa yang terjadi di sekolah, dan pihak sekolah juga dapat menyampaikan apa yang terjadi terhadap anak didiknya. Harapan kita, kedua belah pihak dapat saling memahami, baik itu terkait aturan dan tata tertib di sekolah itu,” kata Suparno.

Sementara terkait penerapan Full Day, menurut Suparno, bukan tidak harus bebas tugas siswa di sekolah. Masih tetap ada penugasan yang sifatnya tidak memberatkan, dan bersifat memberikan penguatan terhadap materi yang dipelajari di sekolah.

Dengan permasalahan tersebut, ia mengharapkan dapat diselesaikan di sekolah, sebab hal itu merupakan masalah internal antara orang tua murid dan pihak sekolah.

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Pulpis Ambransyah belum bisa berkomentar banyak, sebab menurutnya permasalahan apa yang terjadi, sehingga menyebabkan orang tua murid menyampaikan somasi dan juga terganggunya mental anak didik.

“Sampai hari ini kita belum mendapatkan informasi akurat terkait hal-hal itu, dan nanti kita akan mengonfirmasikan ke pihak sekolah, apa yang terjadi sebenarnya,” ucap Ambransyah.

Ambransyah mengharapkan, agar pihak sekolah dan orang tua murid bisa saling berkomunikasi terlebih dahulu, dan duduk satu meja, sehingga dapat saling tahu apakah ada yang menyebabkan anak didiknya terganggu, dan sebaliknya orang tua juga mengetahui apa yang diterapkan di sekolah, baik itu aturan dan tata tertib di sekolah tersebut. c-mye

 

 

 

-
-
-