-
Spirit Kalteng

Psikolog Ungkap Tantangan Peralihan dari Kanak-kanak ke Remaja

69
×

Psikolog Ungkap Tantangan Peralihan dari Kanak-kanak ke Remaja

Sebarkan artikel ini
Diaphenia Wahyu Hutami
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja, momen yang paling berharga sekaligus paling menakutkan untuk sebagian remaja, bahkan orang tua. Seperti halnya menanti seorang anak yang baru lahir, begitu pula para orang tua menantikan anak mereka, menjadi seorang remaja yang sesuai dengan harapan mereka.

Psikolog sekaligus tenaga pendidik bidang Bimbingan Konseling  di SMK Karsa Mulya Palangka Raya, Diaphenia Wahyu Hutami SPsi menyampaikan, akan tetapi momen berharga ini sangat krusial, bahkan tidak jarang pula menjadi boomerang bagi sebagian orang tua.

“Perjalanan panjang yang harus ditempuh seorang anak menuju masa remaja, memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi pula. Banyak anak-anak remaja yang sering kali gagal dalam perjalanan mencari jati diri ini, namun banyak pula yang berhasil menemukan jati diri yang bisa diterima oleh masyarakat luas,” kata Pheni, Jumat (25/8).

Perempuan kelahiran Palangka Raya 1999 ini menambahkan, pengalaman yang luar biasa bagi dirinya untuk melihat berbagai macam karakter remaja yang berbeda-beda, selama perjalanan menjadi seorang guru Bimbingan Konseling. Setiap remaja seperti berlomba untuk menunjukkan jati diri mereka, dari hasil pengalaman yang sudah mereka dapatkan dari berbagai lingkungan yang sudah mereka sambangi, selama memulai petualangan mencari jati diri.

Menurut perempuan lulusan Sanata Dharma Yogyakarta ini, tentu peranan orang tua menjadi peringkat pertama, dalam memberi pengaruh ke anak remaja mereka, tentang bagaimana mencari jati diri yang baik.

Misalnya, lanjut Pheni, menciptakan pengalaman yang baik bagi perkembangan remaja, merupakan sebuah hal yang memerlukan sinergi antara anak dan orang tua. Permasalahan yang sering kali ia temukan terkait perjalanan mencari jati diri dan perjalanan peralihan ini, lebih banyak berkaitan dengan lingkungan sekitar.

Masih menurut Pheni, remaja bisa dikatakan sebagai sebuah produk dari lingkungan tempat dirinya mencari pengalaman. Pengaruh lingkungan ini pun saling berkaitan, baik lingkungan yang terdekat keluarga, sampai ke lingkup yang lebih luas. Sebagai contoh, beberapa remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, remaja yang hidupnya berada di lingkungan serupa dengan dirinya.

“Jika kita menilik lebih jauh, remaja ini bisa saja berasal dari lingkungan keluarga yang kurang peduli terhadap dirinya. Atau, remaja ini mendapatkan pola asuh tertentu, misalnya permisif yang cenderung memprioritaskan kenyamanan anak, akan tetapi jarang memberikan ketegasan kepada anak dan cenderung memanjakan,” imbuh Pheni.

Biasanya pola asuh seperti ini, kata Pheni, dapat menyebabkan dirinya memiliki kontrol diri yang rendah hingga menjadi tidak dapat mengikuti aturan dengan baik. Tidak hanya pengaruh lingkungan atau orang tua, namun terdapat pula pengaruh dari anak yang juga sering kali cenderung menyalahkan apa yang diterima, namun tidak adanya usaha untuk memperbaiki. Hal ini berangkat dari kebiasaan para remaja untuk mencari hal yang menyenangkan untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan dampak ke depannya.

Maka dari itu, Pheni menyarankan perlu adanya usaha dan kerja sama antara orang tua dan anak, untuk bersama-sama menciptakan pengalaman yang positif, dalam masa perkembangan di tahap remaja ini. Mulailah dari diri sendiri, kalimat yang sering ia sampaikan kepada peserta didik yang merasa dirinya memiliki banyak kekurangan ataupun permasalahan.

“Mahatma Gandhi dalam kalimat motivasi terkenalnya mengatakan bahwa sebuah perubahan dimulai dari diri sendiri. Harapannya, para orang tua maupun remaja juga memiliki semangat untuk memperbaiki dan melakukan perubahan, mulai dari dirinya sendiri. Apapun yang menjadi kesalahan, tidak perlu berusaha untuk memperbaiki orang lain, namun mulai dari sendiri sendiri,” pungkas Pheni.

Bagi para remaja, Pheni berpesan bisa memulai dengan melihat lingkungan yang sekarang sedang menjadi tempat favorit untuk mendapatkan pengalaman, apakah lingkungan tersebut lingkungan yang bisa membantu diri mereka untuk membangun pribadi yang lebih baik, atau sebaliknya.

Bagi para orang tua, Pheni juga berpesan mulailah melihat apakah pola asuh dan hal sederhana yang telah diberikan kepada anak remaja di rumah, sudah bisa membantu para remaja dalam berkembang. Berilah kesempatan bagi diri sendiri, untuk mulai berbenah dalam rangka memberikan yang terbaik bagi satu dan yang lain. yml

-
-
-