Penolakan 5000 Ekor Babi, Peternak Sepakat 150 Ekor Babi Dipasok Tiap Bulan  

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak drh Ganjar Priyatno

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.IDBeberapa waktu lalu, sejumlah peternak lokal melayangkan penolakan terhadap adanya rencana pengusaha yang memasukkan 5.000 ekor babi dari luar Kalimantan Tengah.

Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangka Raya Imbang Triatmaji melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak drh Ganjar Priyatno menuturkan, keluhan tersebut memang ada, namun sudah diluruskan.

“Jadi memang beberapa waktu lalu ada orang pemasok babi yang masuk ke Kalimantan Tengah ini, khususnya Palangka Raya, memasoknya besar-besaran. Ada faktor lain juga dalam permasalahan ini sebenarnya, namun sifatnya bisnis. Tetapi, ini sudah diluruskan,” ungkapnya, Selasa (19/9).

Ganjar menceritakan, pemasok yang skalanya besar-besaran ini membuat para peternak lokal merasa kurang nyaman akan hal tersebut. Para peternak lokal sempat datang ke DPKP Palangka Raya bertemu dengan Kepala Bidang Pembibitan untuk menyuarakan keluh kesah mereka.

“Lalu akhirnya mereka membuat kesepakatan, jika sekali masuk itu dibatasi dan lebih diperkecil menjadi 150 ekor per bulan. Kesepakatan ini juga dihitung berdasarkan kebutuhan untuk konsumsi Kota Palangka Raya yang biasanya per bulan kisaran 150 ekor sampai 250 ekor. Jadi kesepakatannya kemarin, demikian,” lanjutnya.

Ganjar menginformasikan, pada bidangnya yaitu Keswan dan Kesmavet mengatur keluar masuk ternak dan pengantar perizinannya melalui mereka. Tetapi, yang mengeluarkan perizinan tetap PTSP Provinsi. Jadi, jalur awalnya adalah DPKP Kota sebagai pengantarnya lalu ke PTSP Provinsi, selanjutnya meminta persetujuan ke Dinas Perternakan Provinsi, kalau disetujui kembali ke PTSP untuk izin rekomendasi pemasukan.

“Jika terlalu banyak yang masuk akan berefek pada keberlimpahan dan harga juga akan menjadi jatuh. Sementara kemarin, kita dihadapkan pada penyakit babi yaitu ASF (African Swine Fever) dan tingkat kematiannya cukup tinggi, 90 persen. Pada saat itu babi kita tinggal sisa-sisa saja karena dihajar oleh penyakit ASF itu,” ungkapnya.

Saat ini, jelas dia, peternak sedang dalam masa mulai recovery dan karena babi di kota ini sedikit, otomatis ada kenaikan. Kenaikan tersebut bagi peternak untuk menutupi kerugian yang kemarin. Makanya, ketika ada momentum tersebut, para peternak babi lokal merasa resah dan protes.

“Untuk ini tugas pemerintah, kita adalah mengatur semuanya agar seimbang. Jadi kita ada di tengah-tengah,” tutupnya. rba