DPRD MURUNG RAYA

Ketua DPRD: Jaga Kelestarian Bahasa Siang

30
×

Ketua DPRD: Jaga Kelestarian Bahasa Siang

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/JOKO WAWANCARA - Ketua DPRD Mura, Doni, bersama Pj Bupati Mura, Hermon, saat diwawancarai wartawan usai Rapat Paripurna, Senin (8/1).

PURUK CAHU/TABENGAN.CO.IDKeprihatinan Ketua DPRD Kabupaten Murung Raya (Mura), Doni, saat mendengar infomasi yang disampaikan wartawan berkenaan dengan krisis penutur bahasa Dayak Siang. Bahkan berdasarkan infomasi, sudah ada 2 desa di wilayah asli Dayak Siang mulai tidak menggunakan basa Dayak Siang.  Ketua DPRD Mura menyikapinya dengan mengajak seluruh masyakarakat Adat Siang untuk mulai memperhatikan pelestarian bahasa Dayak Siang.

Saya terkejut juga mendengar informasi itu. Pasalnya, saya pribadi pun dalam berbahasa daerah aktif. Ketika saya bertemu dengan warga U’ut Danum, Dayak Ngaju, dan Dayak Bakumpai, saya menyapa mereka dengan bahasanya masing-masing. Apalagi bahasa Ibu kami, bahasa Dayak Siang, tentu tiap hari kami pergunakan,” kata Doni, Senin (8/1).

Ke depannya, polititisi PDI Perjuangan ini berharap agar bahasa Dayak Siang terutama di lingkungan warga Dayak Siang menjaga pelestarian bahasa Dayak Siang. Terutama generasi muda Dayak Siang,  jangan malu menggunakan bahasanya dalam berkomunikasi di komunitasnya sendiri.

“Terkait kemampuan berbahasa bukan hanya berkomunikasi dalam bahasa Dayak saja saya aktif. Beberapa bahasa daerah lain seperti Banjar dan Jawa saya juga bisa. Namun, kendati demikian saya akan lebih bangga dan senang jika saya dan lawan bicara saya berkomunikasi dengan bahasa Dayak Siang yang merupakan bahasa ibu di Kabupaten Mura ini,” imbuhnya.

Bahasa menjadi literasi bersama. Kedepan Doni berharap dinas teknis yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan supaya menekankan agar para guru di jenjang SD, SMP, dan SMA untuk memberikan waktu khusus berbicara dalam bahasanya masing-masing. “Hal ini harus kita fasilitasi, bukan hanya memerintahkan semisal guru menanyakan sesuatu dalam bahasa Dayak Siang dan dijawab murid dengan menggunakan bahasa yang sama. Dengan dimulai dari guru yang berbahasa daerah, tentu dengan serta merta para murid akan turut menggunakan bahasa yang digunakan guru tersebut,” tutupnya.  c-sjs

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *