PEMPROV KALTENG

Huma Betang Night Jadi Panggung Persatuan Dayak Borneo

63
×

Huma Betang Night Jadi Panggung Persatuan Dayak Borneo

Sebarkan artikel ini
SEMARAK- Suasana Huma Betang Night (HBN) Volume 11, di Palangka Raya, Sabtu (23/8) malam. Tampak hadir Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran didampingi istri, Aisyah Thisia Agustiar Sabran. Tampak Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran bersama Ketua TP PKK Kalteng Aisyah Thisia Agustiar FOTO ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID Gelaran Huma Betang Night (HBN) Volume 11 terasa istimewa dengan hadirnya delegasi peserta Seminar Internasional Pumpung Hai Borneo yang mewakili Suku Dayak se-Kalimantan serta perwakilan dari negara tetangga Malaysia, yakni Sabah dan Serawak.

HBN edisi Sabtu (23/8) malam, digelar bersamaan dengan Seminar Internasional Pumpung Hai Borneo (The Great Borneo’s Assembly) yang berlangsung pada 21-23 Agustus 2025 di Kota Palangka Raya.

Kegiatan ini juga sekaligus memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (International Day of The World’s Indigenous Peoples) yang jatuh setiap 9 Agustus.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Leonard S Ampung menyampaikan ucapan selamat datang kepada para delegasi. Ia menegaskan bahwa HBN menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus ruang ekspresi bagi seniman dan generasi muda.

“Ini adalah sebagai pelestarian dari budaya Dayak. Kemudian, di sini juga pelaku-pelaku seni kita bisa mengekspos talenta-talenta anak muda untuk mencintai budayanya,” kata Leonard dalam sambutannya.

Pada kesempatan tersebut, Leonard juga mengungkapkan rencana pembangunan Huma Betang terbesar yang akan dibangun di Kota Palangka Raya.

“Nantinya posisi yang kita sebut sebagai Huma Betang terbesar ada di Kantor Kehutanan di sebelah sana itu, ukurannya 170 meter x 80 meter. Didoakan saja semoga pada 2026–2027 sudah terbangun di sana,” ujarnya.

Terkait Seminar Internasional Pumpung Hai Borneo, Leonard menyebut kegiatan ini memiliki makna mendalam karena memperingati peristiwa bersejarah Perjanjian Damai Tumbang Anoi tahun 1894 sekaligus membangkitkan semangat persatuan masyarakat Dayak.

“Ini bagian daripada kita napak tilas. Kita doakan tahun 2026 kalau infrastrukturnya sudah bagus, kemudian lingkungan di Betang Tumbang Anoi sudah bagus, kita akan selenggarakan di sana,” harap Leonard.

Menurutnya, seminar internasional tersebut lahir dari kebersamaan antara pemerintah, komunitas, dewan adat, dan majelis adat Dayak se-Kalimantan serta Sabah dan Serawak.

“Bersatu-padu orang Dayak berkumpul di Palangka Raya untuk seminar internasional dalam rangka melihat ke depan orang Dayak bisa menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Mari kita bersama-sama bahu-membahu dimulai dari penguatan sumber daya manusia. Itu poin-poin yang telah disepakati dalam seminar,” tegasnya.

Leonard juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran yang telah menginisiasi HBN Car Free Night di Bundaran Besar Palangka Raya.

“Ini juga berkat inisiatif Bapak Gubernur. Kami sangat berterima kasih karena HBN menjadi ruang yang memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan rasa kebersamaan,” ucap Leonard.

Sementara itu, HBN malam tersebut dimeriahkan penampilan Sanggar Seni Bawi Bahalap, Dayak Pride, Karungut Joni, Sangsaka featuring Leo Band, artis lokal Elsa Meriska, serta Tari Kapakat Dayak DAD yang menampilkan kisah peristiwa bersejarah Tumbang Anoi.

Kehadiran delegasi dari Malaysia semakin menambah semarak acara. Putri Sabah, Elka Alika Pijeh, yang merupakan finalis ajang pemilihan Unduk Ngadau se-Malaysia, ikut memukau penonton dengan menyanyi dan menari bersama tamu undangan.

Director of Sabah Museum, Datuk Joanna Kitingan, menjelaskan bahwa unduk ngadau berarti “kecantikan yang bersinar seperti matahari”.

“Saya Ibu Unduk Ngadau. Kalau ingin tahu lebih jauh, datanglah ke Sabah untuk menyaksikan pertandingan Unduk Ngadau seluruh Malaysia,” ucapnya.

HBN Volume 11 juga dihadiri Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran bersama Ketua TP PKK Kalteng Aisyah Thisia Agustiar Sabran, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemprov Kalteng, serta para delegasi Seminar Internasional Pumpung Hai Borneo. ldw

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *