-
PENDIDIKAN

KBRI MANILA KEMBALI JADI WAKIL NEGARA ASEAN-Narasumber CHED dan DepEd Filipina untuk Promosikan Beasiswa dan Program Internasional Indonesia

132
×

KBRI MANILA KEMBALI JADI WAKIL NEGARA ASEAN-Narasumber CHED dan DepEd Filipina untuk Promosikan Beasiswa dan Program Internasional Indonesia

Sebarkan artikel ini
WAKILI ASEAN- Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila dan Plt. Kepala Sekolah Indonesia Davao pada kegiatan Foreign Scholarships and Training Program (FSTP) yang diselenggarakan oleh Commission on Higher Education (CHED) Filipina, 26 Mei 2026. FOTO HMS KBRI MANILA
-

MANILA/TABENGAN.CO.ID – Kiprah diplomasi pendidikan Indonesia di Filipina kembali mendapat pengakuan internasional. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Manila melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan dipercaya menjadi narasumber dalam dua forum pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh Commission on Higher Education (CHED) dan Department of Education (DepEd) Filipina. Dalam kedua kegiatan tersebut, Indonesia menjadi satu-satunya negara anggota ASEAN yang mempromosikan program pendidikan tinggi, beasiswa, dan internasionalisasi perguruan tinggi Indonesia.

Pada 26 Mei 2026, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila berpartisipasi dalam kegiatan Foreign Scholarships and Training Program (FSTP) yang diselenggarakan oleh CHED melalui International Affairs Service (IAS). Program ini merupakan salah satu layanan unggulan CHED yang mempertemukan berbagai negara mitra untuk memperkenalkan peluang beasiswa, pelatihan, dan kerja sama pendidikan internasional bagi mahasiswa, dosen, dan akademisi Filipina.

Forum tersebut dihadiri oleh perwakilan kedutaan besar dan lembaga pendidikan dari berbagai negara di kawasan Eropa, Kanada, Australia, dan Asia Timur. Di tengah kehadiran berbagai negara mitra global tersebut, Indonesia tampil sebagai satu-satunya wakil ASEAN yang diberikan kesempatan untuk memaparkan berbagai program unggulan pendidikan tinggi Indonesia.

Kepercayaan terhadap Indonesia kembali ditunjukkan melalui undangan resmi DepEd Filipina kepada KBRI Manila untuk menjadi narasumber pada kegiatan “Borderless Pathways: Global Scholarships and Exchanges for Educators” yang diselenggarakan pada 29 Mei 2026. Kegiatan tersebut bertujuan memperluas akses para pendidik Filipina terhadap program beasiswa, pertukaran internasional, dan pengembangan profesional di berbagai negara.

Dalam kedua forum tersebut, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Prof. Nina Yulianti, memperkenalkan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), berbagai skema beasiswa yang ditawarkan perguruan tinggi Indonesia, program pertukaran mahasiswa dan dosen, serta peluang kerja sama riset antara perguruan tinggi Indonesia dan Filipina.

Prof. Nina Yulianti yang juga merupakan Guru Besar Universitas Palangka Raya menegaskan pentingnya memperkuat mobilitas akademik antara Indonesia dan Filipina sebagai bagian dari penguatan kerja sama pendidikan di kawasan ASEAN. Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan implementasi kebijakan baru Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Kepmendiktisaintek Nomor 358/M/KEP/2026 tentang Indikator Kinerja Utama (IKU) Baru.

“Kebijakan ini merupakan transformasi dari delapan IKU sebelumnya untuk mendorong perguruan tinggi menjadi lebih adaptif, inovatif, relevan, dan berdampak. Kerja sama internasional, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta kolaborasi riset menjadi instrumen penting dalam meningkatkan daya saing perguruan tinggi Indonesia di tingkat global,” ujarnya.

Dalam wawancaranya, Nina juga menyoroti pentingnya internasionalisasi perguruan tinggi di Kalimantan. Berdasarkan pengalamannya selama lebih dari 20 tahun sebagai akademisi di Kalimantan, ia menyampaikan bahwa sebenarnya mobilitas akademik internasional di wilayah tersebut telah berlangsung cukup lama.

“Selama lebih dari dua dekade saya berkiprah sebagai akademisi di Kalimantan, cukup banyak mahasiswa, dosen, dan peneliti asing yang datang untuk melakukan penelitian dan kolaborasi akademik. Mereka berasal dari Amerika Serikat, berbagai negara Eropa, Asia Timur, hingga Rusia. Kalimantan memiliki daya tarik yang kuat dalam bidang keanekaragaman hayati, kehutanan tropis, lingkungan, perubahan iklim, dan masyarakat adat,” jelasnya.

Namun demikian, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi program internasionalisasi kampus yang terstruktur dan berkelanjutan. Ia menilai perguruan tinggi di Kalimantan masih perlu lebih aktif dalam promosi internasional, penyediaan beasiswa, pengembangan program berbahasa Inggris, serta penguatan jejaring kemitraan global.

Nina juga berbagi pengalaman saat mengikuti berbagai forum dan diskusi terkait pemeringkatan perguruan tinggi dunia. Menurutnya, mobilitas akademik transnasional kini menjadi salah satu indikator penting dalam berbagai sistem pemeringkatan internasional, termasuk QS World University Rankings dan Times Higher Education (THE) World University Rankings.

“Hingga saat ini belum ada perguruan tinggi di Kalimantan yang masuk dalam pemeringkatan internasional utama tersebut, sementara perguruan tinggi di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Padahal Kalimantan merupakan lokasi Ibu Kota Nusantara yang akan menjadi pusat pertumbuhan Indonesia di masa depan,” ungkapnya.

Ia berharap keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan implementasi IKU Baru dapat menjadi momentum bagi perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kalimantan untuk memperkuat internasionalisasi, meningkatkan mobilitas akademik, memperluas kerja sama global, dan menarik lebih banyak mahasiswa serta akademisi internasional.

“Sebagai wilayah yang menjadi lokasi IKN, Kalimantan harus mampu menjadi pusat unggulan pendidikan tinggi yang berdaya saing global. Perguruan tinggi di Kalimantan perlu mengambil peran strategis dalam mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 melalui penguatan kualitas pendidikan, riset, dan jejaring internasional,” tegasnya.

Keikutsertaan KBRI Manila sebagai narasumber dalam forum CHED dan DepEd Filipina menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai mitra strategis Filipina dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pengembangan sumber daya manusia. Selain mempererat hubungan bilateral kedua negara, partisipasi tersebut juga memperkuat peran Indonesia dalam mendorong integrasi pendidikan dan mobilitas akademik di kawasan ASEAN. red

 

-
-
-