-
Ekobis

MBG Libur, Harga Telur Anjlok

268
×

MBG Libur, Harga Telur Anjlok

Sebarkan artikel ini
SIDAK TELUR- Wakil Bupati Kotim Irawati ketika sidak ke distributor telur ayam ras di Kota Sampit, Senin (29/6/2026).  FOTO TABENGAN/MAYA SELVIANI
-

Wabup Kotim Sidak Harga Telur Ayam di Distributor dan Agen Sampit

SAMPIT/PALANGKA RAYA – Turunnya harga telur ayam yang terjadi hampir di seluruh Indonesia mulai berdampak pada peternak ayam petelur lokal di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Kotim Irawati bersama tim terjun langsung ke lapangan melihat kondisi dan harga telur di sejumlah distributor dan agen telur ayam ras di Kota Sampit, Senin (29/6/2026).

Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan, pihaknya berkomitmen mengawal kebijakan agar peternak lokal tetap terlindungi dan tidak mengalami kerugian lebih besar.

Irawati juga telah menerima audiensi dari Aliansi Peternak Ayam Petelur Lokal Kotim yang mengeluhkan anjloknya harga jual telur di tingkat peternak. Menurutnya, pemerintah telah menetapkan harga acuan penjualan telur di Pulau Jawa berkisar Rp26.500 hingga Rp30.000 per kilogram. Namun, untuk Kalimantan Tengah penyesuaian akan dilakukan sesuai kondisi daerah.

“Kita akan mengikuti acuan pemerintah, namun tetap disesuaikan dengan kondisi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Kotawaringin Timur karena karakteristik biaya di setiap daerah berbeda,” ujarnya.

Irawati mengungkapkan, pihaknya telah menemui sejumlah distributor dan meminta mereka mengikuti harga acuan pemerintah agar tidak menjual telur terlalu murah kepada agen. Pasalnya, harga jual distributor yang terlalu rendah memaksa peternak lokal ikut menurunkan harga, sementara biaya produksi, terutama pakan ayam petelur, masih tinggi.

“Kalau distributor menjual ke agen dengan harga sangat murah, peternak lokal yang akan paling terdampak. Mereka tidak bisa menutup biaya produksi karena harga pakan masih mahal,” katanya.

Ia menambahkan, untuk mencari solusi bersama, Komisi II DPRD Kotim juga akan segera menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan mengundang distributor, agen, serta perwakilan Aliansi Peternak Ayam Petelur Lokal. Pertemuan itu diharapkan menghasilkan kesepakatan mengenai harga acuan yang adil bagi seluruh pihak.

Selain melindungi peternak, langkah tersebut juga bertujuan menjaga stabilitas pasokan telur di Kotim. Jika banyak peternak gulung tikar, daerah akan semakin bergantung pada pasokan dari luar sehingga berpotensi memicu inflasi komoditas telur.

“Saat ini kita ingin melindungi peternak lokal. Kalau mereka berhenti berproduksi, suplai telur akan bergantung dari luar daerah dan itu bisa memicu inflasi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kondisi di lapangan, di mana penurunan harga di tingkat distributor belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Harga telur di pasar dinilai masih relatif tinggi sehingga pengawasan juga akan dilakukan terhadap agen maupun pedagang besar.

“Kita akan mengawasi rantai distribusi bersama Satgas Pangan Polres Kotim agar penurunan harga benar-benar sampai kepada masyarakat, bukan hanya berhenti di distributor,” tegasnya.

Menurutnya, produksi telur di Kalimantan Tengah masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan daerah. Karena itu, keberadaan peternak lokal harus terus dipertahankan agar dapat membantu menjaga kestabilan harga dan pasokan telur di Kotim.

Dampak Liburnya MBG

Harga telur ayam ras di Kota Palangka Raya juga mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, kondisi tersebut bukan merupakan anjloknya harga, melainkan penyesuaian akibat melimpahnya pasokan di pasaran sehingga harga jual ikut mengalami tekanan.

Berdasarkan pantauan di Pasar Besar Palangka Raya, Senin (29/6/2026), harga telur ayam ras dijual sekitar Rp29.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Penurunan tersebut dinilai masih berada dalam batas yang wajar dan dipengaruhi oleh mekanisme pasar.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangka Raya Fajar Bhakti menegaskan, penurunan harga telur bukan berarti terjadi anjlok harga, melainkan penyesuaian akibat pasokan yang melimpah.

“Terkait harga telur kalau dikatakan anjlok ya tidak juga, hanya saja terjadi penyesuaian penurunan harga mengingat suplai melimpah sehingga harga juga tertekan mengalami penurunan,” ujar Fajar kepada Tabengan, Senin (29/6/2026).

Selain tingginya pasokan, Fajar menyebut berkurangnya permintaan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan harga. Menurutnya, kondisi tersebut kemungkinan berkaitan dengan liburnya aktivitas sekolah yang berdampak pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Mungkin juga salah satu faktor penyebab karena pengaruh program MBG menyesuaikan waktu libur siswa sehingga permintaan menurun dan berdampak juga pada penurunan harga,” jelasnya.

Meski demikian, DPKUKMP Kota Palangka Raya terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok di pasaran untuk memastikan kondisi tetap stabil. Pemerintah berharap penyesuaian harga ini dapat memberikan manfaat bagi konsumen melalui harga yang lebih terjangkau, sekaligus tetap menjaga keseimbangan usaha para peternak dan pedagang telur di daerah tersebut. may/rmp/jsi/rca-red

 

 

 

 

 

-
-
-