-
Ekobis

Tekan Inflasi, BI dan Bulog Salurkan 150 Ton Beras Premium ke Kalteng

101
×

Tekan Inflasi, BI dan Bulog Salurkan 150 Ton Beras Premium ke Kalteng

Sebarkan artikel ini
-

TPID – Kegiatan sinergi penguatan pasokan dan distribusi beras tim pengendalian inflasi daerah (TPID) Kalteng di Gudang Bulog, Palangka Raya, Selasa (13/10). Tabengan/Yulianus

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Tengah dan Perum Bulog memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui fasilitasi distribusi sebanyak 150 ton beras premium dari Makassar, Sulawesi Selatan, ke sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan, meningkatkan keterjangkauan harga beras, serta mempertahankan daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi yang masih dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas pangan, khususnya beras.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Kalimantan Tengah, Anang Dirjo, saat membacakan sambutan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, menyampaikan bahwa pengendalian inflasi membutuhkan sinergi dan langkah nyata dari seluruh pemangku kepentingan.

“Inflasi merupakan salah satu tantangan ekonomi yang harus kita hadapi dengan sinergi dan langkah nyata. Komoditas pangan, khususnya beras, memiliki andil yang sangat besar terhadap pergerakan angka inflasi di daerah kita,” ujarnya, saat kegiatan Penguatan Pasokan dan Distribusi Beras Premium, di Palangka Raya, Selasa (13/10).

Menurutnya, stabilitas harga dan ketersediaan pasokan beras merupakan instrumen penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kesejahteraan warga Kalimantan Tengah.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memberikan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah yang telah mengambil langkah konkret melalui fasilitasi distribusi beras dari daerah penghasil menuju wilayah yang membutuhkan.

“Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah yang telah bergerak cepat dengan langkah nyata melalui fasilitasi distribusi 150 ton beras premium,” kata Anang saat membacakan sambutan tersebut.

Ia menegaskan, penyaluran beras tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan distribusi semata. Pelaksanaannya harus dipastikan tepat sasaran sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, terutama pedagang dan konsumen yang membutuhkan.

Menurutnya, pengawasan di lapangan menjadi bagian penting agar beras yang disalurkan dapat tersedia dengan harga terjangkau. Selain itu, koordinasi dan komunikasi antarpemangku kepentingan perlu terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di daerah.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Tengah, Erwin Budiana, mengatakan bahwa penyaluran 150 ton beras premium tersebut merupakan hasil sinergi dalam memperkuat pasokan pangan di Kalimantan Tengah.

“Melalui sinergi antara Bank Indonesia dan Bulog, saat ini kami melaksanakan proses pengadaan 150 ton beras premium dari Makassar, Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengadaan beras dari luar daerah menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kalimantan Tengah. Hal tersebut juga berkaitan dengan perlunya penguatan infrastruktur dan sarana pendukung agar distribusi beras berkualitas premium dapat berjalan optimal.

Dari total 150 ton beras yang disiapkan, sebanyak 75 ton dialokasikan untuk tiga wilayah, yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Masing-masing wilayah memperoleh alokasi awal sebanyak 25 ton.

Adapun sisa 75 ton lainnya masih dalam proses pengiriman.

Erwin menyebutkan, kondisi geografis Kalimantan Tengah dengan jarak antardaerah yang cukup jauh menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi pangan. Karena itu, diperlukan dukungan transportasi dan sarana logistik yang memadai agar penyaluran dapat berlangsung efektif.

“Jarak antardaerah yang cukup jauh membutuhkan dukungan transportasi dan penguatan distribusi pangan. Karena itu, sinergi berbagai pihak sangat diperlukan agar pasokan beras dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan,” katanya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansyah Andrias, menjelaskan bahwa fasilitasi distribusi beras tersebut berangkat dari upaya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam mencermati perkembangan inflasi di Kalimantan Tengah.

Ia mengatakan, harga beras masih menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap perkembangan inflasi daerah.

“Ada tiga hal yang ingin kami sampaikan. Pertama, bersama TPID Kalimantan Tengah, khususnya Bulog, kami terus mencermati perkembangan inflasi yang relatif masih tinggi, terutama yang dipicu oleh harga beras,” ujarnya.

Menurut Yuliansyah, langkah tersebut kemudian diterjemahkan melalui upaya konkret untuk memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga. Salah satu kendala yang dihadapi adalah biaya transportasi dari daerah penghasil beras ke Kalimantan Tengah.

Melalui skema fasilitasi distribusi, Bank Indonesia mengambil peran dalam membantu menanggung ongkos angkut agar beras dari Makassar dapat dipasarkan di Kalimantan Tengah dengan harga yang lebih terjangkau.

“Yang kami lakukan adalah memfasilitasi dari sisi ongkos angkutnya. Dengan demikian, beras yang didatangkan dari daerah penghasil diharapkan dapat dijual di Kalimantan Tengah dengan harga yang lebih terjangkau dan tetap memperhatikan ketentuan harga yang berlaku,” jelasnya.

Ia menambahkan, fasilitasi tersebut diharapkan dapat mengurangi beban biaya distribusi yang selama ini menjadi salah satu faktor pembentuk harga beras di wilayah tujuan.

Yuliansyah juga menyampaikan apresiasi atas arahan dan dukungan Gubernur serta Wakil Gubernur Kalimantan Tengah dalam mendorong berbagai strategi pengendalian inflasi, khususnya untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan komoditas pangan bagi masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih atas arahan dan bimbingan Gubernur serta Wakil Gubernur Kalimantan Tengah. Kami berharap melalui fasilitas ini, tekanan harga komoditas beras dapat diminimalkan sehingga masyarakat memperoleh akses terhadap pangan dengan harga yang lebih terjangkau,” tuturnya.

Melalui kerja sama antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, dan seluruh pihak terkait, distribusi 150 ton beras premium ini diharapkan menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga di Kalimantan Tengah.

Ke depan, pengawasan terhadap distribusi dan harga jual di tingkat pasar perlu terus dilakukan agar bantuan fasilitasi transportasi benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat. Dengan pasokan yang terjaga dan harga yang lebih terkendali, upaya pengendalian inflasi di Kalimantan Tengah diharapkan berjalan lebih efektif.(Ldw).

 

-
-
-