PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tak lagi dapat dilihat sebatas persoalan lingkungan maupun kesehatan. Gangguan yang ditimbulkan kabut asap telah menjalar ke aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari produktivitas pekerja, mobilitas warga, perdagangan, jasa, hingga keberlangsungan berbagai kegiatan yang menjadi penggerak ekonomi lokal.
Pengamat Ekonomi Kalteng, Fitria Husnatarina mengatakan, karhutla memiliki efek berantai yang jauh lebih luas karena memengaruhi berbagai sektor secara bersamaan. Ketika aktivitas masyarakat dan dunia usaha terganggu, kapasitas produksi maupun konsumsi ikut mengalami tekanan dan pada akhirnya berimbas terhadap pergerakan ekonomi daerah.
“Dampak ekonomi karhutla ini memiliki variabel yang sangat banyak (multiplier effect). Kita melihat penurunan kapasitas dan intensitas kerja para pekerja, hingga pelaku usaha yang tidak optimal dalam menjual produk maupun layanannya. Aktivitas dan produktivitas di sektor riil turun tajam, sehingga pasar secara keseluruhan ikut terpengaruh,” ujar Fitria saat diwawancarai Tabengan, Rabu (7/10/2026).
Menurut Fitria, tekanan tersebut juga tercermin dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Kondisi kabut asap membuat sebagian pendapatan yang dalam situasi normal dapat dialokasikan untuk kebutuhan produktif maupun konsumsi lainnya harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan.
Pembelian obat-obatan, vitamin hingga tabung oksigen menjadi pengeluaran tambahan, terutama bagi masyarakat yang memiliki gangguan atau riwayat penyakit pernapasan.
“Prioritas masyarakat berubah dari kondisi normal. Pengeluaran yang tadinya bisa digunakan untuk sektor produktif atau konsumsi lainnya, kini terpaksa dialihkan untuk proteksi kesehatan,” jelasnya.
Di sisi lain, keterbatasan mobilitas masyarakat turut mempersempit ruang perputaran ekonomi. Aktivitas penerbangan yang terganggu akibat rendahnya jarak pandang, ditambah kendala transportasi antardaerah, berpotensi menghambat arus orang dan barang. Kondisi tersebut kemudian berimbas pada sektor perdagangan, jasa, pariwisata, serta usaha lain yang bergantung pada mobilitas masyarakat.
Fitria juga menyoroti dampak pembatalan atau pengurangan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang. Agenda pemerintah, kegiatan UMKM, rapat koordinasi maupun rapat kerja yang biasanya menciptakan permintaan terhadap katering, konsumsi, transportasi dan jasa pendukung lainnya ikut terdampak.
“Banyak event yang tidak bisa terlaksana. Padahal event tersebut merupakan pengungkit ekonomi bagi pelaku UMKM, usaha katering, pembuat kue, dan jasa pendukung lainnya,” tambahnya.
Ia menilai dampak ekonomi karhutla tidak cukup diukur hanya dari kondisi transaksi di pasar dalam hitungan harian. Efek kumulatif akibat bergesernya pola konsumsi, melemahnya produktivitas, tertahannya aktivitas usaha dan investasi, gangguan pendidikan, hingga meningkatnya beban sektor kesehatan dapat membentuk tekanan ekonomi yang lebih luas.
“Karhutla ini adalah bencana ekonomi. Dampak akumulatifnya merembet ke seluruh sektor, yang pada akhirnya akan menurunkan indikator ekonomi Kalteng secara keseluruhan,” pungkasnya. rmp/rca-red











