Oleh: drg Cahyono Yudianto, SpBMM
RSUD Mas Amsyar Kasongan Kabupaten Katingan
Abstrak
Latar belakang: Deep neck infection (DNI) merupakan infeksi ruang fasia leher dalam yang berpotensi mengancam nyawa akibat risiko obstruksi jalan napas, sepsis, mediastinitis, pneumonia aspirasi, dan henti jantung. Infeksi odontogenik masih menjadi salah satu penyebab utama DNI pada dewasa. Penatalaksanaan memerlukan pengenalan dini, pengamanan jalan napas, antibiotik intravena spektrum luas, drainase abses, eliminasi sumber infeksi, serta perawatan intensif bila terdapat gangguan respirasi atau disfungsi organ.
Tujuan: Meninjau prinsip penatalaksanaan DNI odontogenik pada dewasa berdasarkan literatur terkini, dengan ilustrasi kasus anonim sebagai pembelajaran klinis.
Metode: Review naratif berdasarkan literatur terkini mengenai DNI, infeksi odontogenik berat, airway management, source control, dan pedoman Surviving Sepsis Campaign.
Hasil: Pilar utama tata laksana DNI meliputi: evaluasi jalan napas, pemberian antibiotik empiris yang mencakup flora aerob dan anaerob rongga mulut, pemeriksaan radiologi terutama CT scan kontras bila pasien stabil, drainase abses, ekstraksi atau perawatan sumber odontogenik, serta evaluasi sepsis menggunakan parameter objektif seperti laktat dan SOFA. Pada pasien dengan trismus, edema dasar mulut, elevasi lidah, atau gangguan napas, jalan napas harus diprioritaskan sebelum tindakan bedah. Pada kasus berat, perawatan ICU dan kolaborasi multidisiplin sangat diperlukan.
Kesimpulan: DNI odontogenik adalah kegawatdaruratan bedah mulut dan kepala-leher. Keberhasilan terapi bergantung pada pengamanan airway, source control dini, antibiotik adekuat, dan monitoring sistemik. Keterlambatan pasien mencari pertolongan dan tidak lengkapnya dokumentasi parameter sepsis dapat menyulitkan evaluasi perjalanan klinis serta outcome.
Kata kunci: deep neck infection; odontogenic infection; submandibular abscess; difficult airway; sepsis; source control.
Pendahuluan
Deep neck infection adalah infeksi pada ruang fasia leher dalam yang dapat berkembang cepat dan mengancam nyawa. Pada dewasa, sumber odontogenik merupakan etiologi penting, terutama dari infeksi molar mandibula yang menyebar ke ruang submandibula, sublingual, submental, pterigomandibular, parafaring, retrofaring, hingga mediastinum. Komplikasi yang ditakuti meliputi obstruksi jalan napas, pneumonia aspirasi, sepsis, descending necrotizing mediastinitis, trombosis vena jugularis, dan kematian.
Literatur terbaru menekankan bahwa tata laksana DNI tidak boleh hanya mengandalkan antibiotik. Bila sudah terbentuk abses atau terdapat ancaman jalan napas, terapi definitif adalah drainase bedah dan eliminasi sumber infeksi. StatPearls menyatakan bahwa terapi DNI mencakup antibiotik sesuai mikrobiologi yang mungkin serta drainase koleksi abses bila ada. (NCBI) Studi tersier besar juga menekankan pentingnya pencitraan yang tepat dan drainase dalam manajemen DNI. (PMC)
Metode
Artikel ini merupakan review naratif yang disusun dari literatur 2021–2026 mengenai deep neck infection, odontogenic infection, difficult airway, source control, dan sepsis. Sumber utama meliputi tinjauan klinis DNI, laporan kasus infeksi odontogenik berat, serta pedoman Surviving Sepsis Campaign terbaru. Pedoman Surviving Sepsis Campaign 2026 menekankan pengenalan dini, strategi diagnostik yang tepat, penggunaan antibiotik bertanggung jawab, dan prinsip de-eskalasi berdasarkan data mikrobiologi. (Society of Critical Care Medicine (SCCM))
Patofisiologi dan Penyebaran Infeksi Odontogenik
Infeksi odontogenik biasanya dimulai dari karies, nekrosis pulpa, periodontitis apikal, atau infeksi periodontal yang tidak tertangani. Bila perforasi tulang terjadi di bawah perlekatan otot mylohyoid, infeksi molar mandibula dapat menyebar ke ruang submandibula. Bila berada di atas mylohyoid, penyebaran lebih dominan ke ruang sublingual.
Ruang submandibula dan sublingual memiliki hubungan anatomi yang erat. Akibatnya, edema dasar mulut dapat menyebabkan elevasi lidah, lidah tampak membesar, disfagia, hipersalivasi, suara berubah, dan obstruksi orofaring. Pada kasus lanjut, infeksi dapat menyebar ke parafaring, retrofaring, danger space, dan mediastinum.
Faktor risiko perburukan meliputi keterlambatan terapi, diabetes melitus, imunosupresi, usia lanjut, malnutrisi, kebersihan mulut buruk, infeksi polimikroba, dan keterlibatan multipel ruang leher.
Manifestasi Klinis
Gejala DNI odontogenik dapat berupa:
- Nyeri rahang atau gigi.
- Bengkak submandibula/submental.
- Trismus.
- Disfagia atau odinofagia.
- Demam.
- Hipersalivasi.
- Suara berubah.
- Elevasi dasar mulut atau lidah terdorong ke posterior.
- Sesak napas atau stridor.
- Tanda sepsis atau respons inflamasi sistemik.
Trismus merupakan temuan penting karena menunjukkan keterlibatan ruang mastikator, pterigomandibular, atau inflamasi luas. Secara praktis, trismus juga menjadi prediktor anticipated difficult airway.
Diagnosis
Diagnosis DNI ditegakkan dari kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pencitraan.
Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan harus mencakup:
- status jalan napas,
- kemampuan membuka mulut,
- elevasi dasar mulut,
- posisi lidah,
- disfagia,
- stridor,
- saturasi oksigen,
- pembengkakan leher,
- fluktuasi,
- sumber infeksi gigi.
Laboratorium
Pemeriksaan awal meliputi:
- darah lengkap,
- hitung jenis leukosit,
- elektrolit,
- ureum/kreatinin,
- fungsi hati bila perlu,
- CRP atau prokalsitonin bila tersedia,
- laktat bila dicurigai sepsis,
- kultur darah bila dicurigai sepsis,
- kultur pus saat drainase.
Surviving Sepsis Campaign menempatkan laktat dan kultur sebagai komponen penting dalam evaluasi sepsis; kultur sebaiknya diambil sebelum antibiotik bila tidak menunda terapi. (Society of Critical Care Medicine (SCCM))
Radiologi
CT scan leher dengan kontras merupakan modalitas utama untuk menentukan:
- lokasi abses,
- jumlah ruang yang terlibat,
- adanya gas jaringan,
- perluasan ke parafaring/retrofaring,
- kemungkinan mediastinitis,
- hubungan dengan jalan napas,
- kebutuhan drainase tambahan.
Pada pasien dengan kecurigaan komplikasi toraks, CT toraks kontras dapat dipertimbangkan bila pasien transportable.
Prinsip Penatalaksanaan
Penatalaksanaan DNI odontogenik terdiri dari beberapa pilar utama.
- Airway Management
Airway merupakan prioritas pertama. DNI dapat menyebabkan obstruksi jalan napas melalui edema dasar mulut, elevasi lidah, trismus, edema laring, atau kompresi orofaring. Pasien dengan trismus berat, suara berubah, hipersalivasi, stridor, desaturasi, atau pembengkakan dasar mulut harus dianggap sebagai anticipated difficult airway.
Pilihan airway dapat mencakup:
- intubasi sadar dengan fiberoptic bila tersedia,
- intubasi oleh anestesi berpengalaman,
- video laryngoscopy,
- trakeostomi bila intubasi tidak aman atau gagal,
- mempertahankan intubasi pascaoperasi bila edema masih bermakna.
Pada DNI berat, ekstubasi tidak boleh dilakukan terburu-buru. Evaluasi kesiapan ekstubasi dapat meliputi:
- status mental,
- sekret terkendali,
- cuff leak test,
- FiO₂ rendah,
- PEEP rendah,
- tidak ada edema progresif,
- tidak ada koleksi abses residual yang menekan jalan napas.
- Antibiotik Intravena
Antibiotik empiris harus mencakup flora rongga mulut aerob dan anaerob, termasuk Streptococcus anginosus group, Streptococcus viridans, anaerob oral seperti Prevotella, Fusobacterium, Peptostreptococcus, dan bakteri penghasil beta-laktamase.
Pilihan empiris yang umum:
- ampicillin-sulbactam,
- ceftriaxone + metronidazole,
- piperacillin-tazobactam pada kasus berat atau risiko resistensi,
- meropenem pada kasus terpilih seperti syok septik, infeksi nosokomial, kegagalan terapi awal, atau kecurigaan kuman resisten,
- clindamycin bila alergi beta-laktam, dengan mempertimbangkan pola resistensi lokal.
Medscape mencatat bahwa clindamycin, ampicillin-sulbactam, dan cefuroxime termasuk antibiotik yang sering digunakan pada DNI. (Medscape) Namun, pemilihan antibiotik harus disesuaikan dengan berat penyakit, antibiogram lokal, alergi, dan hasil kultur.
- Source Control
Source control merupakan terapi definitif. Pada DNI odontogenik, source control meliputi:
- insisi dan drainase abses,
- eksplorasi ruang yang terlibat,
- debridement jaringan nekrotik,
- irigasi,
- pemasangan drain,
- ekstraksi atau perawatan gigi penyebab.
Literatur 2023–2025 tetap menegaskan bahwa drainase bedah merupakan cornerstone pada abses leher dalam yang terbentuk. (IJORL) Review 2024 mengenai infeksi odontogenik berat juga menekankan antibiotik spektrum luas, ekstraksi sumber odontogenik, airway management, dan drainase bedah dini. (LAB Publishers – Scientific Publisher)
- Sepsis-Oriented Management
Pada pasien dengan infeksi berat dan SIRS atau kecurigaan sepsis, evaluasi sepsis harus dilakukan paralel dengan source control. SSC 2026 menekankan pengenalan dini, strategi diagnostik, antibiotik bertanggung jawab, dan de-eskalasi. (Society of Critical Care Medicine (SCCM))
Komponen penting:
- ukur laktat,
- ambil kultur darah sebelum antibiotik bila tidak menunda,
- berikan antibiotik segera,
- cairan 30 mL/kg bila hipotensi atau laktat ≥4 mmol/L,
- vasopresor bila MAP tetap <65 mmHg setelah resusitasi.
Namun, bundle sepsis tidak boleh menunda airway dan drainase. Pada DNI, airway dan source control adalah time-critical intervention.
- Perawatan ICU
Indikasi ICU meliputi:
- airway compromise,
- ventilasi mekanik,
- sepsis atau risiko sepsis,
- multi-space infection,
- komorbid berat,
- pasca difficult airway,
- kebutuhan monitoring ketat.
Monitoring ICU mencakup:
- ventilator,
- saturasi,
- AGD bila perlu,
- hemodinamik,
- urine output,
- drain,
- edema leher,
- tanda mediastinitis,
- nutrisi enteral,
- profilaksis stress ulcer,
- profilaksis tromboemboli sesuai indikasi.
Ilustrasi Kasus Klinis Anonim
Seorang laki-laki dewasa datang ke instalasi gawat darurat dengan pembengkakan submandibula progresif lebih dari satu minggu, sebelumnya diduga sebagai pembengkakan kelenjar non-odontogenik. Saat evaluasi ditemukan trismus, pembengkakan submandibula unilateral, leukositosis berat dengan neutrofilia, serta sumber infeksi odontogenik pada pemeriksaan radiografi panoramik.
Pasien diputuskan menjalani operasi emergensi untuk eliminasi fokus infeksi dan drainase abses. Sebelum tindakan, pasien mengalami gangguan napas akut sehingga dilakukan pengamanan jalan napas oleh tim anestesi. Setelah intubasi berhasil, dilakukan ekstraksi gigi penyebab, insisi-drainase abses, debridement, irigasi, dan pemasangan drain.
Pascaoperasi pasien dirawat di ICU dengan ventilasi mekanik. Selama perawatan dilakukan terapi antibiotik intravena, evaluasi drain, pemantauan respirasi, dan konsultasi multidisiplin. Kebutuhan oksigen sempat menurun, namun pada hari berikutnya pasien mengalami perburukan akut berupa gangguan respirasi, kejang, sianosis, dan henti jantung. Resusitasi dilakukan tetapi tidak berhasil.
Ilustrasi ini menunjukkan bahwa DNI odontogenik terlambat dapat berakhir fatal meskipun telah dilakukan source control, terutama bila terdapat anticipated difficult airway, respons inflamasi sistemik, dan komplikasi respirasi akut. Karena data objektif tertentu seperti autopsi, CT lanjutan, atau biomarker serial tidak tersedia, mekanisme kematian tidak dapat dipastikan secara definitif.
Pembahasan
Kasus anonim tersebut mencerminkan tantangan utama DNI odontogenik. Pertama, keterlambatan pasien mencari pertolongan dapat menyebabkan infeksi berkembang dari infeksi lokal gigi menjadi infeksi ruang leher dalam. Kedua, trismus dan elevasi lidah menandakan risiko airway sulit. Ketiga, source control harus dilakukan segera setelah airway aman.
Pertanyaan penting dalam kasus fatal DNI bukan hanya apakah drainase telah dilakukan, tetapi apakah seluruh sistem perawatan telah mengantisipasi tiga risiko utama: airway compromise, sepsis, dan komplikasi toraks. Oleh karena itu, pendekatan modern harus menggabungkan prinsip bedah mulut dan maksilofasial dengan critical care.
Antibiotik empiris perlu diberikan dini, tetapi tidak boleh dianggap sebagai pengganti drainase. Pada abses yang sudah terbentuk, antibiotik memiliki penetrasi terbatas ke rongga abses, sehingga drainase tetap menjadi pilar utama. Pemeriksaan kultur pus saat drainase idealnya dilakukan untuk menyesuaikan antibiotik, terutama pada pasien ICU atau infeksi berat.
Di sisi lain, sepsis bundle memberikan kerangka evaluasi sistemik yang penting. Pemeriksaan laktat, kultur darah, SOFA, AGD, dan parameter organ lain membantu menilai berat penyakit dan memudahkan audit klinis bila terjadi luaran buruk. Tidak tersedianya data tersebut dapat menyulitkan penentuan apakah pasien mengalami sepsis menurut Sepsis-3 atau hanya memenuhi SIRS menurut definisi lama.
Rekomendasi Praktis
Untuk pasien dewasa dengan kecurigaan DNI odontogenik, direkomendasikan alur berikut:
- Triase airway segera
- nilai trismus, stridor, elevasi lidah, disfagia, saturasi, suara berubah.
- Aktifkan tim multidisiplin
- Bedah Mulut/THT, Anestesi, ICU, Penyakit Dalam, Pulmonologi bila perlu.
- Antibiotik IV segera
- mencakup aerob dan anaerob oral.
- Evaluasi sepsis
- laktat, kultur darah, darah lengkap, fungsi ginjal, fungsi hati, AGD bila perlu, SOFA.
- Pencitraan
- CT leher kontras bila pasien stabil; jangan menunda airway bila airway terancam.
- Source control
- drainase abses dan eliminasi gigi penyebab.
- ICU pascaoperasi bila berisiko
- difficult airway, edema, ventilator, multi-space infection.
- Evaluasi harian
- drain, edema leher, leukosit/CRP, kebutuhan FiO₂, AGD, tanda mediastinitis.
- Rencana ekstubasi hati-hati
- cuff leak, sekret, edema, status mental, ventilasi, dan kesiapan tim airway.
- Dokumentasi audit
- timeline, SOFA, laktat, kultur, ventilator, tindakan suction, dan alasan keputusan klinis.
Kesimpulan
Deep neck infection odontogenik pada dewasa merupakan kegawatdaruratan dengan risiko fatal. Penatalaksanaan harus dilakukan secara paralel: airway management, antibiotik dini, source control, evaluasi sepsis, dan perawatan ICU. Keterlambatan pasien mencari pertolongan, trismus, edema dasar mulut, dan keterlibatan ruang leher dalam meningkatkan risiko difficult airway dan komplikasi respirasi. Literatur terbaru menegaskan bahwa outcome optimal memerlukan koordinasi multidisiplin, source control dini, serta dokumentasi objektif parameter sepsis dan organ dysfunction. Ilustrasi kasus anonim menunjukkan bahwa luaran fatal masih dapat terjadi meskipun dilakukan tata laksana intensif, sehingga evaluasi sistem berbasis RCA dan peningkatan implementasi bundle sepsis perlu menjadi bagian dari pembelajaran klinis.****











