PULANG PISAU/TABENGAN.CO.ID – Musim kemarau sering sekali menjadi tantangan bagi petani dalam budidaya tanaman cabai. Tanaman cabai membutuhkan kelembapan yang cukup dan kondisi tanah yang lembap untuk pertumbuhan yang optimal.
Untuk diketahui, karakteristik tanaman cabai membutuhkan air yang cukup, tetapi juga bisa jenuh akan air jika pengairan yang dilakukan terlalu berlebihan. Selain faktor kekeringan, musim kemarau juga identik dengan serangan hama.
Dari tantangan di tengah kemarau saat ini, Kelompok Tani Tanginin Lestari, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), Kalimantan Tengah, berhasil mengembangkan tanaman cabai varietas ORI 212, dengan keuntungan Rp6,5 juta sampai Rp10 juta per minggu.
“Usaha budidaya tanaman cabai dengan varietas ORI 212 menghasilkan pendapatan sekitar Rp6,5 sampai Rp10 juta per minggu,” kata Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Pulpis Tata Ali Sumitra melalui Kepala Bidang (Kabid) Hortikultura Irenhad.
Saat harga cabai rawit di pasaran melonjak tajam hingga mencapai Rp83 ribu per kilogram, para petani di wilayah tersebut mulai bersemangat agar produksi meningkat.
Irenhad menambahkan, dengan jumlah tanam lebih kurang 2.200 bibit cabai, maka petani memperoleh hasil per satu kali petik sekitar 50-100 kilogram cabai selang waktu 3 sampai 5 hari, dari luas lahan yang ditanam sekitar 0,7 hektare.
Cabai hasil panen dijual dengan harga kisaran Rp65 ribu per kilogram ditingkat petani. Dari harga tersebut, maka pendapatan yang diraih dalam 3 sampai 5 hari per satu minggu mencapai Rp6,5 juta dalam sekali panen, atau bisa lebih mencapai Rp10 juta per dua kali panen dalam satu minggu.
Irenhad menambahkan, Kelompok Tani Tanginin Lestari di pimpin oleh Muhlidi dengan didampingi penyuluh lapangan Desa Jabiren Via Erika.
Keberhasilan budidaya cabai petani Tanginin Lestari ini, tambah Irenhad merupakan keuletan dan ketekunan dalam hal perawatannya. Karena menurutnya harus menjaga ranting daun dari tanaman lain yang tak jarang menutupi tanaman cabai, sementara tanaman cabai harus memperoleh sinar matahari secara penuh.
“Keberhasilan budidaya cabai Tanginin Lestari pada musim kemarau ini, karena petani kita rajin merawat dan juga kebersihan lahannya. Dengan pola ini, maka hasil yang didapatkan sangat menguntungkan dan dapat meningkatkan perekonomian keluarga,” tambahnya.
Selain itu, tambah Irenhad, para petani mempertahankan tanaman cabai di tengah kemarau yakni dengan cara menyiram tanaman pada saat dingin, tepatnya pada malam hari dan dini hari pukul 02.00 Wib.
Irenhad menambahkan, untuk saat ini Kelompok Tani Tanginin Lestari sudah memetik untuk kedelapan 8 kalinya dalam waktu memanen selang 3 sampai 5 hari, dengan sekali panen 50 – 100 kg. Dan umur tanam sekarang ini lebih dari 4 bulan.
“Untuk penjualan, petani kita biasa menjual di sekitar Jabiren dan juga di wilayah Kelampangan, Kota Palangka Raya,” tandas Irenhad.
Irenhad mengapresiasi usaha para petani untuk menjaga ketersedian khususnya Cabe dalam kondisi musim kemarau panjang, namun menurutnya tidak menyurutkan usaha para petani dengan hasil yang menggembirakan.
“Kita berharap dengan keberhasilan Kelompok Tani Tanginin Lestari ini, menjadi pemacu bagi petani-petani kita di Bumi Handep Hapakat. Dan ini juga yang diharapkan melalui visi misi Bupati dan Wakil Bupati Pulang Pisau yaitu Berkeadilan, Maju dan Berkelanjutan atau Bersatu Jaya,” pungkasnya. mye/gie-red











