-
Spirit Kalteng

P.Raya Mulai Dikepung Karhulta dan Asap, 265 Kejadian, Luas Lahan Terbakar 241,65 Hektare

222
×

P.Raya Mulai Dikepung Karhulta dan Asap, 265 Kejadian, Luas Lahan Terbakar 241,65 Hektare

Sebarkan artikel ini
KARHUTLA ANCAM RUMAH WARGA – Nampak warga berusaha memadamkan api menggunakan alat seadanya karena sudah mendekati kawasan pemukiman warga Jl. Pangena Induk, Palangka Raya, baru-baru ini. FOTO TABENGAN/YULIANUS
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Palangka Raya masih menjadi ancaman serius di tengah kondisi musim kemarau. Bahkan, frekuensinya belakangan ini terus meningkat.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi menyampaikan, sejak ditetapkannya Status Siaga Darurat Karhutla pada 1 Juni 2026 hingga 17 Agustus 2026, tercatat sebanyak 265 kejadian kebakaran dengan total luas lahan terbakar mencapai 241,65 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah kecamatan.

“Totalnya ada 265 kejadian dengan luasan mencapai 241,65 hektare. Kejadian terbanyak ada di Kecamatan Jekan Raya dengan 172 kejadian, Sebangau 64 kejadian, Pahandut 21 kejadian, dan Bukit Batu delapan kejadian,” ujarnya saat ditemui Tabengan pada Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, kondisi Karhutla saat ini cukup berat untuk ditangani. Pasalnya, ketika petugas masih melakukan pemadaman terhadap kebakaran sebelumnya, laporan mengenai titik api baru kembali bermunculan.

Ia menyebut, tingginya frekuensi kejadian tersebut terlihat dari laporan yang diterima BPBD dalam satu hari. Pada Senin (17/8/2026), tercatat sebanyak 21 kejadian yang harus ditangani.

Kejadian tersebut terdiri atas kebakaran yang masih merupakan lanjutan dari penanganan sebelumnya maupun titik api baru berdasarkan laporan masyarakat.

“Terhitung dalam satu hari kejadian kemarin itu totalnya itu sudah mencapai 21 kejadian, baik yang lanjutan maupun juga titik baru laporan dari warga,” ucapnya.

Selain itu, ancaman Karhutla juga terjadi di kawasan Kecamatan Bukit Batu. BPBD menerima laporan adanya kebakaran di kawasan perbukitan, yakni Bukit Tangkiling dan Bukit Batu Benama.

Kebakaran di kawasan perbukitan menjadi perhatian karena kondisi medan dan vegetasi dapat memengaruhi proses pemadaman. Petugas harus menyesuaikan penanganan dengan kondisi lokasi agar api tidak terus menjalar ke kawasan lainnya.

Dengan terus munculnya titik api, penanganan Karhutla di Palangka Raya tidak dapat hanya dilakukan oleh satu instansi. Pemadaman membutuhkan pengerahan personel, peralatan serta koordinasi dari berbagai pihak agar kebakaran dapat dikendalikan secepat mungkin.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Palangka Raya agar bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Karhutla. Jangan melakukan pembakaran lahan, karena kondisi saat ini banyak muncul titik api baru dan penanganannya cukup berat,” pungkasnya. dte/fwa-red

 

-
-
-