-
Hukrim

Dugaan Bullying di SMAN 1 Palangka Raya Berujung Lapor Polisi

345
×

Dugaan Bullying di SMAN 1 Palangka Raya Berujung Lapor Polisi

Sebarkan artikel ini
Foto: Kepala SMAN 1 Palangka Raya Husnul Hatimah. Foto istimewa
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Peristiwa dugaan bullying yang terjadi di lingkungan SMAN 1 Palangka Raya pada Senin (3/8/2026), menjadi sorotan setelah persoalan tersebut berkembang hingga dilaporkan ke Polda Kalimantan Tengah.

Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan rangkaian puncak peringatan HUT ke-67 SMAN 1 Palangka Raya. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, persoalan tersebut diduga bermula dari ejekan yang disampaikan seorang kakak kelas kepada adik kelasnya hingga memicu perselisihan.

Staf Waka Humas SMAN 1 Palangka Raya Ernita membenarkan adanya kejadian yang melibatkan sesama siswa tersebut. Ia menyampaikan bahwa peristiwa itu terjadi di lingkungan sekolah, tepatnya di sekitar area dekat perpustakaan.

Menurutnya, lokasi tersebut merupakan ruang terbuka yang terdapat gazebo dan pepohonan, sehingga cukup tertutup dari pandangan. Pada saat kejadian, sekolah sedang melaksanakan kegiatan HUT yang diikuti banyak siswa.

“Pada saat itu kegiatan sedang berlangsung acara penobatan Duta Smansa dan jumlah siswa cukup banyak, sehingga kejadian tersebut tidak terlihat oleh seluruh peserta kegiatan,” ujarnya saat ditemui wartawan, Rabu (26/8/2026).

Ia menjelaskan, lokasi kejadian masih berada di dalam kawasan sekolah. Namun, area tersebut tidak sepenuhnya dapat terlihat oleh tamu undangan maupun peserta kegiatan karena terhalang sejumlah fasilitas dan kondisi lingkungan sekitar.

“Posisi tempat duduk tamu undangan saat itu membelakangi area kejadian. Sedangkan panggung sendiri menghadap ke arah berlawanan. Namun tetap tidak terpantau dari arah panggung. Karena tertutup oleh tenda tamu, pepohonan, dan kerumunan anak-anak yang mengambil konsumsi di belakang tenda tamu undangan,” jelasnya.

Berdasarkan informasi dan klarifikasi yang dilakukan pihak sekolah, peristiwa tersebut diawali dengan adanya ejekan secara verbal antara siswa.

Siswa yang merasa menjadi sasaran ejekan kemudian tidak terima dan memprotes tindakan tersebut. Perselisihan itu kemudian berkembang menjadi pertengkaran yang melibatkan siswa dari tingkat kelas berbeda.

Wakasek Bidang Kesiswaan SMAN 1 Palangka Raya Riani menuturkan, pihak sekolah memperoleh informasi bahwa persoalan tersebut diawali interaksi antara dua siswa yang kemudian berubah menjadi pertengkaran.

Lebih lanjut, satpam sekolah yang mengetahui adanya perselisihan kemudian segera mendatangi lokasi dan berusaha memisahkan siswa yang terlibat.

“Memang awalnya ada ejekan dari kakak kelas kepada adik kelasnya. Mungkin adik kelas itu spontan merasa tidak terima sehingga terjadi pertengkaran. Saat itu belum ada kontak fisik, kemudian datang satpam langsung berupaya melerai,” tuturnya.

Setelah dilakukan pemisahan, situasi sempat dianggap telah selesai. Namun, sekitar 15 hingga 20 menit kemudian, keributan kembali terjadi.

“Siswa yang merasa diejek kemudian tidak terima dan memprotes. Karena melibatkan kakak kelas dan adik kelas, situasinya menjadi pertengkaran,” bebernya.

Satpam, guru, serta siswa yang tergabung dalam PKS kemudian turun tangan untuk mencegah situasi berkembang lebih jauh. Setelah kejadian tersebut, pihak sekolah berupaya mempertemukan siswa yang terlibat bersama orang tua masing-masing untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Orang tua juga sudah hadir saat dipanggil pihak sekolah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Palangka Raya Husnul Hatimah menegaskan, sekolah berupaya menangani persoalan tersebut secara serius dan sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Menurutnya, sekolah telah membuka ruang komunikasi dan mediasi bagi pihak-pihak yang terlibat.

“Dari sekolah kita juga tidak menutup mata terkait kejadian ini. Kita sudah mengupayakan mediasi kedua belah pihak untuk menyelesaikan sesuai prosedur sekolah dan kewenangan yang kami miliki,” tegasnya.

Menurutnya, proses pendampingan juga dilakukan terhadap para siswa yang terlibat. Pihak sekolah telah menerima informasi adanya pendampingan dari Dinas Sosial terhadap pihak pelapor, sementara siswa lainnya juga mendapatkan pendampingan mengingat seluruhnya masih berstatus sebagai pelajar.

“Karena status mereka ini masih pelajar, tentu pendekatan yang dilakukan juga harus memperhatikan kepentingan dan kondisi anak,” lanjutnya.

Husnul menambahkan, pihak sekolah menghormati proses yang sedang berjalan dan akan terus memberikan pendampingan selama penanganan perkara berlangsung. Sekolah juga berkomitmen untuk tetap berkomunikasi dengan pihak terkait agar persoalan tersebut dapat diselesaikan sesuai ketentuan.

“Sekolah juga terus hadir sampai proses di kepolisian selesai,” pungkasnya. dte-red

 

-
-
-