-
Spirit Kalteng

KEMARAU MAKIN KERING-2.000 Hektare Padi Pulpis Berpacu dengan Kekeringan-410 KK di Desa Sumber Jaya Lamandau Kekeringan

191
×

KEMARAU MAKIN KERING-2.000 Hektare Padi Pulpis Berpacu dengan Kekeringan-410 KK di Desa Sumber Jaya Lamandau Kekeringan

Sebarkan artikel ini
Teks foto Petugas BPBD Lamandau mendistribusikan air bersih untuk membantu warga di saat kekeringan. (Dok BPBD Lamandau)
-

NANGA BULIK/PULANG PISAU – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Lamandau tahun ini telah menyebabkan kekeringan hingga masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih.

Bahkan, ratusan Kepala Keluarga (KK) di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Menthobi Raya terpaksa meminta bantuan dai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk suplai air bersih.

“Ya, beberapa hari lalu kita ada diminta bantuan untuk suplai air bersih di Desa Sumber Jaya. Sebab itu, kita langsung distribusikan air bersih ke wilayah tersebut,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Lamandau Hendikel.

Ia menyebut, total 8.000 liter air bersih dikirim menggunakan 2 unit truk tangki suplai air ke Desa Sumber Jaya.

“Suplai air bersih tersebut dibagikan ke 410 KK yang ada di desa itu,” bebernya.

Selain Desa Sumber Jaya, suplai air bersih juga diberikan pada SDN Bumi Agung Kecamatan Bulik serta sejumlah warga di Kelurahan Nanga Bulik yang kesulitan mendapatkan air bersih.

“Bagi masyarakat yang memang membutuhkan bantuan air bersih, silakan mengajukan dan kami akan berupaya membantu,” katanya.

Kemarau Makin Kering di Pulang Pisau

Ancaman kekeringan akibat musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering mulai membayangi sektor pertanian Kabupaten Pulang Pisau. Pemerintah daerah kini berpacu menyelamatkan ribuan hektare tanaman padi yang masih berdiri di lahan dan menunggu masa panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau Tata Ali Sumitra mengatakan, sekitar 2.000 hektare tanaman padi saat ini masih menunggu masa panen. Pemerintah berharap seluruh tanaman tersebut dapat dipanen secara bertahap hingga akhir September 2026, sebelum kondisi kekeringan semakin parah.
“Sekarang fokus kita adalah menyelamatkan tanaman padi yang masih standing crop. Harapannya sampai akhir September sudah bisa dipanen,” kata Tata.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi petani saat ini bukan hanya kekeringan lahan, tetapi juga semakin terbatasnya sumber air untuk mempertahankan tanaman hingga panen.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Pertanian telah menyalurkan lima unit pompa air bantuan Kementerian Pertanian kepada kelompok tani di wilayah Desa Sanggang, Desa Tahai, dan Desa Talio Hulu.

Pompa tersebut menjadi salah satu upaya penting untuk mempertahankan tanaman padi di tengah menurunnya ketersediaan air. Meski demikian, Tata mengakui sumber air di sejumlah wilayah mulai sulit diperoleh.

Namun, beberapa lokasi masih beruntung karena dapat memanfaatkan air pasang. Dengan bantuan pompa, air tersebut masih bisa dialirkan ke lahan pertanian untuk menjaga tanaman hingga memasuki masa panen.

Hujan Diperkirakan November

Kondisi tersebut semakin serius karena berdasarkan informasi BMKG yang diterima pemerintah daerah, musim hujan diperkirakan belum segera datang.
Tata mengatakan hujan dengan intensitas yang diharapkan baru berpeluang terjadi sekitar November 2026. Padahal, secara umum September sudah mulai menjadi periode transisi menuju musim hujan.

“Kalau biasanya September sudah mulai ada hujan, berdasarkan informasi BMKG kemarin kemungkinan hujan baru turun sekitar November. Itu pun belum tentu langsung banyak,” ujarnya.

Situasi ini membuat sektor pertanian harus melakukan langkah antisipasi lebih ketat, terutama terhadap tanaman yang belum dipanen dan lahan yang akan memasuki musim tanam baru.

Selain ancaman terhadap tanaman, musim kemarau panjang juga meningkatkan risiko karhutla, terutama saat petani melakukan pengolahan maupun pembukaan lahan.

Dinas Pertanian pun meminta seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) memperkuat sosialisasi kepada kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Instruksi tersebut disampaikan Tata dalam pertemuan bersama seluruh penyuluh pertanian se-Kabupaten Pulang Pisau di BPP Jabiren.

“Kami sudah meminta seluruh penyuluh mengingatkan Poktan dan Gapoktan binaannya agar sama-sama menjaga lahan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar, karena kondisi sekarang sangat kering dan risikonya sangat besar,” tegasnya.

Dinas Pertanian memperkirakan hanya sekitar 5 hektare lahan yang ditargetkan masih melakukan penanaman pada September 2026. Petani yang tetap melakukan pengolahan lahan diminta ekstra hati-hati agar aktivitas tersebut tidak menjadi pemicu kebakaran.

Tata menegaskan, pembukaan lahan pada kondisi kemarau memiliki risiko tinggi. Kebakaran yang bermula dari satu lokasi dapat dengan cepat merembet ke lahan di sekitarnya.

Lahan Padi Relatif Aman

Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, Tata memastikan hingga saat ini belum ada laporan lahan tanaman padi yang terdampak langsung kebakaran. Beberapa kejadian kebakaran di wilayah R2, berdasarkan informasi yang diterima lebih banyak terjadi pada lahan yang sudah selesai dipanen dan tidak sampai merusak tanaman padi yang masih produktif.

Menurutnya, lahan pertanian padi relatif lebih mudah dikendalikan karena umumnya dikelola secara aktif oleh petani dan memiliki sekat-sekat yang lebih jelas.

“Kalau laporan ke kami tidak ada lahan padi yang terbakar. Petani juga sangat menjaga karena mereka tahu kondisi sekarang sangat berbahaya,” katanya.
Ia menilai lahan terlantar atau lahan yang tidak produktif justru menjadi salah satu titik yang lebih rentan terbakar karena tidak terkelola dengan baik. Api dari lahan tersebut berpotensi merembet ke kebun maupun lahan produktif di sekitarnya.
Meski dibayangi kemarau, produksi padi Pulang Pisau hingga Agustus 2026 masih menunjukkan tren positif. Data Dinas Pertanian mencatat luas tanam mencapai 11.077 hektare, sedangkan luas panen mencapai 12.019 hektare dengan produksi 49.219 ton.

Produktivitas padi juga meningkat dari 4,88 ton per hektare pada 2025 menjadi 4,95 ton per hektare pada 2026. Tata menjelaskan, luas panen lebih tinggi daripada luas tanam 2026 karena sebagian tanaman yang dipanen tahun ini merupakan hasil tanam pada tahun sebelumnya.

“Kenaikan produktivitas ini lebih karena awal musim tanamnya tepat. Ketika memasuki musim kemarau, tanaman sudah berada pada fase siap panen,” jelasnya.
Karena itu, tantangan saat ini adalah memastikan tanaman yang masih berada di lahan tidak gagal panen akibat kekurangan air.

Hortikultura Masih Bisa Bertahan

Sementara untuk sektor hortikultura, dampak kemarau dinilai masih relatif dapat dikendalikan. Tanaman seperti cabai, kangkung, sawi dan pakcoy masih dapat dibudidayakan di sejumlah wilayah.

Berbeda dengan sawah yang membutuhkan suplai air dalam jumlah besar, lahan hortikultura umumnya lebih kecil sehingga penyiraman masih memungkinkan dilakukan secara manual.

Tata mencontohkan tanaman cabai di Jabiren yang hingga kini masih cukup produktif meski berada dalam kondisi kemarau. Dengan kondisi tersebut, Dinas Pertanian meminta petani tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga mengutamakan keselamatan lahan. Penggunaan sumber air harus dioptimalkan, sementara pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihindari.
Sebab, di tengah kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang, satu kelalaian di lahan dapat berubah menjadi ancaman bagi pertanian, lingkungan, sekaligus ketahanan pangan Pulang Pisau. kar/mye/rca/gie-red

 

-
-
-