-
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

MENGATASI KULIT BERMINYAK-Mahasiswa UPR Sulap Kayu Tumih dan Daun Putat Jadi Bedak Dingin

138
×

MENGATASI KULIT BERMINYAK-Mahasiswa UPR Sulap Kayu Tumih dan Daun Putat Jadi Bedak Dingin

Sebarkan artikel ini
INOVASI-Mahasiswa UPR melakukan proses penelitian dan pengembangan formulasi kosmetik tradisional berbahan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat sebagai inovasi bedak dingin untuk membantu mengatasi kulit berminyak. FOTO ISTIMEWA
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Potensi bahan alam Kalimantan Tengah kembali mendorong lahirnya inovasi dari mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR). Empat mahasiswa UPR mengembangkan bedak dingin berbasis bahan lokal yang dirancang untuk membantu mengatasi masalah kulit berminyak.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Tim memadukan arang aktif kayu tumih (Combretocarpus rotundatus) dengan ekstrak daun putat (Planchonia valida) sebagai bahan aktif dalam formulasi bedak dingin.
Ketua Tim Riset, Anisa Nugraha Heni mengatakan, gagasan penelitian tersebut berangkat dari persoalan kulit berminyak yang cukup banyak dialami masyarakat, terutama remaja dan dewasa muda yang tinggal di daerah beriklim tropis.

“Iklim tropis Indonesia membuat produksi minyak atau sebum pada wajah cenderung tinggi. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan munculnya jerawat dan komedo,” ujar Anisa.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim mencoba mengembangkan kembali bedak dingin yang selama ini dikenal sebagai salah satu kosmetik tradisional berbahan dasar beras. Namun, produk yang dikembangkan tidak sekadar mempertahankan konsep kosmetik tradisional, melainkan menggabungkannya dengan pendekatan ilmiah dan pengujian secara kuantitatif.
Menurut Anisa, penggunaan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat memiliki fungsi yang saling melengkapi. Arang aktif kayu tumih, yang berasal dari tumbuhan khas ekosistem lahan gambut Kalimantan Tengah, dimanfaatkan karena memiliki struktur mikropori dan luas permukaan yang memungkinkan penyerapan minyak serta kotoran pada permukaan kulit.
Sementara ekstrak daun putat dipilih karena mengandung sejumlah senyawa bioaktif, seperti flavonoid, tanin, serta senyawa antioksidan lainnya. Kandungan tersebut berpotensi memberikan aktivitas antibakteri sekaligus membantu menjaga kondisi kulit.

“Jadi, kami tidak hanya mengandalkan satu bahan aktif. Arang aktif kayu tumih berperan dalam menyerap minyak, sedangkan ekstrak daun putat memberikan aktivitas bioaktif,” jelasnya.

Tak berhenti pada tahap formulasi, tim juga melakukan pengujian untuk mengetahui efektivitas produk. Pengukuran dilakukan secara kuantitatif menggunakan skin analyzer guna melihat perubahan kadar sebum pada kulit setelah penggunaan produk.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda penelitian ini dari pengembangan bedak dingin pada umumnya. Tim berupaya menggabungkan kearifan kosmetik tradisional dengan pemanfaatan bahan alam lokal dan metode pengujian berbasis data sehingga efektivitas produk dapat dinilai secara lebih objektif.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan. Anisa Nugraha Heni dan Ade Theresia Hutauruk berasal dari Program Studi Fisika, Muhammad Ramadhani dari Program Studi Farmasi, serta Rumita dari Program Studi Kimia. Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan dosen pendamping Made Dirgantara, S.Si., M.Si.

Kolaborasi lintas disiplin menjadi bagian penting dalam proses pengembangan inovasi tersebut. Keilmuan fisika, farmasi, dan kimia dipadukan mulai dari pengolahan bahan, formulasi hingga pengujian produk. Hasil penelitian juga telah didiseminasikan melalui sejumlah forum ilmiah, di antaranya SEMIRATA, Seminar Mahasiswa, dan BASISTORA.

Melalui riset tersebut, mahasiswa UPR tidak hanya berupaya menghadirkan alternatif kosmetik berbasis bahan alam, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal Kalimantan Tengah agar memiliki nilai tambah melalui penelitian dan inovasi.

“Harapannya, penelitian ini dapat menjadi salah satu langkah dalam mengembangkan potensi bahan alam lokal Kalimantan Tengah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” pungkas Anisa. rmp/rca-red

 

 

-
-
-