PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus membara. Lahan yang terbakar hingga Jumat (11/9/2026), seluas 2.141,430 hektare, dan api yang dapat dipadamkan hanya seluas 541,08 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel, melalui Plt Kepala Bidang kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar Andhan Santana menyampaikan, kobaran api terbanyak di Kecamatan Arut Selatan, Kotawaringin Lama dan Kumai, terutama di ruas jalan Km 13 sampai dengan Km 20 Jalan Penghubung Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama. Tim Satgas mengalami kendala dalam pemadaman di ruas jalan tersebut karena titik api berada di dalam dan kurangnya sumber air.
“Untuk wilayah Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama saja hampir 449,68 hektare yang terbakar, kawasan tersebut merupakan lahan gambut sehingga titik api sulit dipadamkan, apalagi pada saat angin kencang,” ungkap Andhan, Sabtu (12/9/2026).
Andhan menambahkan, kondisi kebakaran di ruas Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama terjadi mulai bulan Agustus hingga kini. Tim Satgas masih berada di lapangan menangani kobaran api di sejumlah titik. Kondisi kebakaran yang terus berkembang membuat petugas harus bekerja dalam situasi yang tidak mudah.
Tak hanya menghadapi ancaman api, keselamatan personel juga menjadi perhatian. Satu orang anggota Satgas Karhutla dilaporkan harus dibawa ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun untuk mendapatkan penanganan medis dan yang sebelumnya pun tim relawan Aries Sutio Lutfhil Hadi, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Posko Danau Masoraian, Kecamatan Kotawaringin Lama, menghembuskan napas terakhirnya setelah berjibaku dengan kobaran api pada Kamis (10/9/2026).
Danton TRC BPBD Kobar, Sayid Abdul Badawi, membenarkan adanya satu anggota Satgas Karhutla yang dibawa ke rumah sakit. Namun, hingga informasi tersebut disampaikan, pihaknya belum dapat memastikan identitas maupun instansi asal anggota tersebut.
“Satu lagi Satgas Karhutla harus dibawa ke RSUD. Kami belum tahu pasti satgas dari mana. Kalau berdasarkan informasi, KPHP, tapi saya belum tahu pasti personelnya atau relawannya,” ujar Sayid.
Dengan demikian, anggota yang dibawa ke RSUD tersebut untuk sementara diketahui sebagai anggota Satgas Karhutla, sementara statusnya apakah personel KPHP atau relawan masih menunggu kepastian dari pihak terkait.
Kondisi ini menambah berat situasi penanganan karhutla di kawasan tersebut. Selain titik api utama di Km 20, munculnya titik baru di Km 15 membuat wilayah yang harus dipantau semakin bertambah.
Jarak lokasi tersebut juga menjadi perhatian karena Km 15 dan Km 20 merupakan dua titik berbeda di sepanjang jalur Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama. Petugas harus memastikan masing-masing titik mendapat penanganan dan pemantauan sesuai kondisi di lapangan.
Karhutla yang terus berkembang menjadi ancaman bagi lingkungan sekaligus keselamatan para pejuang api. Para personel di lapangan menghadapi risiko paparan asap, panas, serta kondisi medan saat berusaha mengendalikan kebakaran.
Hingga kini, penanganan di lapangan masih berlangsung. Sementara itu, kondisi anggota Satgas yang dibawa ke RSUD serta asal instansinya masih menunggu informasi resmi lebih lanjut dari pihak terkait.
Sementara itu, Bupati Kobar Hj Nurhidayah menegaskan, dalam upaya penanganan karhutla di wilayah Kobar perlu adanya dukungan helikopter water bombing agar pemadam di lokasi yang tersulit dapat teratasi.
Hal tersebut disampaikan Bupati saat rapat koordinasi di Posko Induk Penanganan Karhutla di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kobar, Jumat (11/9/2026) malam.
Bupati menyampaikan, berdasarkan surat Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah tertanggal 11 September 2026, helikopter WB tipe Super Puma AS332L dengan registrasi C-FPUM milik PT Dominic Asasta Aviasi akan direposisi ke Bandara Iskandar Pangkalan Bun paling lambat 12 September 2026 untuk mendukung operasi udara penanganan karhutla.
“Pengerahan helikopter water bombing ini menjadi salah satu langkah strategis dalam menghadapi perkembangan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kobar. Operasi udara nantinya akan diprioritaskan pada lokasi-lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, sehingga pemadaman dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif,” kata Hj Nurhidayah. uli/jsi-red











