-
Hukrim

Pemadaman Listrik Masih Berlangsung, 4.000 Bangkai Ayam Busuk Dilempar ke Halaman Kantor PLN Palangka Raya

71
×

Pemadaman Listrik Masih Berlangsung, 4.000 Bangkai Ayam Busuk Dilempar ke Halaman Kantor PLN Palangka Raya

Sebarkan artikel ini
BANGKAI AYAM - Aksi gerakan Palangka Raya gelap melempar ribuan bangkai ayam di halaman dan depan kantor PLN UP3 Palangka Raya, Jum'at (30/10)FOTO TABENGAN/YULIANUS
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kantor PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palangka Raya kembali menjadi sasaran aksi unjuk rasa. Kali ini, masa aksi yang tergabung dalam Gerakan Palangka Raya Gelap Jilid VII membawa dan melemparkan 4.000 bangkai ayam yang mati akibat pemadaman bergilir. Jumat (30/10/2026).

Aksi tersebut merupakan bentuk protes sekaligus kekecewaan masyarakat, khususnya kalangan peternak ayam, terhadap pemadaman listrik bergilir yang dinilai masih terus terjadi dan berdampak langsung terhadap aktivitas usaha serta perekonomian warga.

Bangkai ayam yang dibawa massa menimbulkan bau busuk yang menyengat di sekitar kantor PLN. Aksi itu sekaligus menjadi simbol kekecewaan akibat kerugian yang dialami peternak yang disebabkan terganggunya pasokan listrik, terutama untuk menunjang operasional kandang ayam.

Juru Bicara Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap Jilid VII, Fiteli Waruwu, mengatakan aksi tersebut merupakan lanjutan dari rangkaian protes yang telah dilakukan sebanyak tujuh kali. Menurutnya, persoalan pemadaman listrik di Palangka Raya hingga kini belum mendapatkan penyelesaian sebagaimana yang diharapkan masyarakat.

“Hari ini kami kembali datang menuntut PLN atas tindakan pemadaman listrik bergilir yang masih sampai saat ini terjadi di Palangka Raya. Ini bukan hanya aksi satu atau dua kali, tetapi sudah jilid ketujuh,” ujar Fiteli.

Ia menjelaskan, bangkai ayam yang dibawa dalam aksi tersebut merupakan hasil usaha peternak yang mengalami kerugian akibat pemadaman listrik. Bahkan jumlah yang dibawa ke kantor PLN disebut hanya sebagian dari total ayam yang mati.

“Ini juga kedua kalinya kami membawa bangkai ayam hasil usaha peternak di Palangka Raya. Yang kami bawa hari ini baru sebagian.tidak semuanya,” katanya.

Berdasarkan keterangan perwakilan peternak, jumlah ayam yang mati mencapai sekitar 7.000 ekor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.000 bangkai ayam dibawa dalam aksi unjuk rasa.

Fiteli menegaskan, tuntutan utama massa sejak aksi jilid pertama adalah menghentikan pemadaman listrik bergilir di Palangka Raya. Selain itu, mereka meminta PLN membuka secara transparan penyebab gangguan pasokan listrik yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

Ia juga menyoroti pernyataan PLN dalam aksi-aksi sebelumnya yang menyebutkan adanya kerusakan mesin dan proses perbaikan yang ditargetkan selesai pada awal September. Namun, menurutnya, pemadaman bergilir masih berlangsung meskipun tenggat waktu tersebut telah berlalu.

“Pada aksi sebelumnya disampaikan ada mesin yang rusak dan masih dalam tahap penyelesaian sampai awal September. Tetapi sampai sekarang masih ada pemadaman listrik bergilir,” ungkapnya.

Tidak hanya meminta penghentian pemadaman dan keterbukaan informasi, massa juga mendesak pencopotan General Manager PLN UID Kalselteng serta jajaran manajer PLN di Kalteng, termasuk manajemen PLN UP3 Palangka Raya.

Fiteli memastikan aksi serupa berpotensi kembali digelar apabila persoalan pasokan listrik belum diselesaikan.

“Kalau tidak ada penghentian pemadaman listrik bergilir di Kota Palangka Raya, kemungkinan aksi pasti akan kembali dilakukan,” tegasnya.

Dalam aksi tersebut, massa mengaku tidak meminta pihak PLN keluar untuk menemui mereka. Fiteli menyebut unjuk rasa kali ini lebih ditujukan sebagai penyampaian ekspresi kekecewaan masyarakat terhadap persoalan yang dinilai terus berulang.

Ia juga mempertanyakan realisasi kompensasi yang sebelumnya disebut akan diberikan PLN kepada masyarakat terdampak pemadaman. Menurutnya, hingga aksi jilid VII berlangsung, belum ada kejelasan mengenai pemberian kompensasi maupun koordinasi dengan para peternak yang mengalami kerugian.

“PLN memang pernah menyampaikan akan ada kompensasi dan sebagainya pada aksi sebelumnya. Tetapi sampai sekarang tidak ada hal yang dimaksud. Koordinasi dengan pihak terdampak juga tidak ada, termasuk pengumuman terkait kompensasi,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang peternak ayam, Satrio, mengungkapkan pemadaman listrik berulang telah menyebabkan kerugian besar terhadap usaha peternakan yang dijalankannya.

Ia menyebut, pada periode sebelumnya ribuan ayam juga mati. Untuk mengantisipasi kejadian serupa, dirinya telah berupaya memperbaiki genset agar operasional kandang tetap berjalan ketika pasokan listrik PLN terputus. Namun, genset yang diandalkan tersebut kembali mengalami kerusakan ketika pemadaman listrik kembali terjadi. Akibatnya, ayam-ayam di kandangnya kembali menjadi korban.

“Periode kemarin sudah mati juga. Saya berharap periode ini bisa mendapatkan hasil, supaya ada dana untuk pembelian genset. Namun, pemadaman kembali terjadi, genset kita kembali jebol dan akhirnya ayam yang menjadi korban,” tutur Satrio.

Ia mengatakan, ayam yang mati pada kejadian terbaru tersebut berusia sekitar 16 hari. Jumlahnya diperkirakan mencapai 7.000 ekor, dengan kerugian materiil ditaksir sekitar Rp200 juta, termasuk biaya operasional dan produksi.

“Kerugian materiil ini sekitar Rp 200 jutaan. Itu sudah termasuk biaya operasional dan produksi ayam kita,” jelasnya.

Satrio menilai persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena kerugian yang dialami peternak merupakan dampak nyata dari terganggunya pasokan listrik. Ia juga menyebut terdapat peternak lain yang mengalami kejadian serupa, meskipun jumlah ayam yang mati tidak sebanyak di kandangnya.

Menurutnya, tuntutan peternak bukan hanya agar PLN menormalkan pasokan listrik, tetapi juga memberikan perhatian dan kejelasan penyelesaian terhadap kerugian yang dialami pelanggan.

“Kami minta pertama, suplai listrik harus benar-benar normal. Kedua, tolong kami yang terdampak ini diperhatikan. Tidak susah mendata kami karena kami sudah berulang kali datang ke sini. Kerugian kami nyata,” tegasnya.

Ia turut mengkritik komunikasi dan publikasi PLN melalui media sosial yang dinilainya belum sejalan dengan kondisi serta keluhan masyarakat di lapangan.

Satrio berharap PLN tidak hanya menyampaikan informasi melalui media sosial, tetapi juga memberikan solusi konkret terhadap gangguan listrik dan dampak yang dirasakan pelanggan.

“PLN harus serius menyelesaikan masalah ini. Kami minta kompensasi, tetapi tidak ada. Untuk menghubungi kami pun tidak ada. Kami ini benar-benar terdampak dan kerugian kami nyata,” pungkasnya. mak/fwa-red.

 

-
-
-