PEMKAB KOTIM

Bupati Prihatin di Pelosok Banyak Terjadi Kasus Pernikahan Dini

24
×

Bupati Prihatin di Pelosok Banyak Terjadi Kasus Pernikahan Dini

Sebarkan artikel ini

PEDULI MASYARAKAT-Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor dalam sebuah kegiatan.

 

SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengungkapkan bahwa angka pernikahan dini di wilayah itu cenderung tinggi. Terutama untuk wilayah di pelosok. Hal itu diperkirakan disebabkan oleh faktor lingkungan dan pendidikan yang rendah.

Dituturkan Halikinnor, rata-rata usia warga yang menikah dini mencapai usia 14-16 tahun. Padahal, idealnya usia pernikahan yaitu laki-laki 25 tahun dan perempuan 21 tahun.”Bahkan di Kotim angka pernikahan dini tertinggi di Kalteng. Hal ini harus kita atasi dan kita beri edukasi agar kasus bisa kita tekan,” ujarnya Senin (19/9).

Menurutnya faktor sosial dan budaya masyarakat, tingkat pendidikan, ekonomi, geografis serta faktor psikologi keluarga menjadi pengaruh penting yang membuat warga setempat memutuskan untuk menikah pada usia dini. Padahal menurutnya pernikahan dini sangat tidak dianjurkan baik itu dilihat dari sisi kesehatan maupun mental anak itu sendiri. Sebab untuk memutuskan menikah setiap orang harus benar-benar mempersiapkan diri lahir dan batin.

“Kalau menikah itukan tidak hanya satu urusan saja yang diurus tapi kompleks. Kalau usia terlalu dini saya rasa sangat riskan karena belum tentu mentalnya sudah siap,“ terangnya.

Sejumlah dampak buruk dari pernikahan dini dijabarkan Halikinnor diantaranya rentan KDRT, risiko meninggal pada ibu dan bayi, dan terputusnya akses pendidikan. Ditambah, pernikahan dini juga akan berpengaruh pada pola pengasuhan anak dan berisiko rentan perceraian karena emosi yang belum stabil pada remaja di bawah usia 20 tahun. Kemudian menikah di usia dini bagi perempuan berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan karena organ tubuh yang berkaitan dengan alat reproduksi belum siap.

Untuk itu pihaknya selalu mengimbau, agar remaja di bawah usia 20 tahun untuk dapat mencari kesibukan lain yang bersifat positif untuk menghindari terjadinya pernikahan dini. Seperti dengan sibuk menuntut pendidikan, olahraga maupun kegiatan positif lainnya. (C-May)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *