-
Spirit Kalteng

DUKA TRAGEDI KANJURUHAN-Brimob Polda Kalteng dan Suporter Bola Doa Bersama

36
×

DUKA TRAGEDI KANJURUHAN-Brimob Polda Kalteng dan Suporter Bola Doa Bersama

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/LIU DOA BERSAMA- Dansat Brimob Polda Kalteng dan jajarannya foto bersama dengan suporter sepak bola di Palangka Raya, usai gelar doa bersama di Stadion Tuah Pahoe, Kamis (13/10), untuk korban tragedi Stadion, Kanjuruhan Malang.
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Brimob Polda Kalteng bersama pecinta sepak bola di Palangka Raya menggelar doa bersama di Stadion Tuah Pahoe, Kamis (14/10) sore, sebagai bentuk ungkapan duka cita kepada korban tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Dansat Brimob Polda Kalteng bersama jajarannya, suporter tim sepak bola Arema, persebaya, Kalteng Mania dan perwakilan Kalteng Putra serta Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kalteng.

Acara tersebut diawali dengan doa bersama, kemudian sambutan dari perwakilan Kalteng Mania sekaligus Wakil Wali Kota Palangka Raya Umi Mastikah, kemudian diakhiri dengan foto bersama. Acara tersebut diinisiasi oleh Brimob Polda Kalteng.

“Sejak kejadian itu memang memberikan rasa trauma tersendiri bagi kita semua. Bagi teman-teman Aremania, rasa duka itu tetap ada, mari kita memanjatkan doa kepada saudara-saudari kita yang telah berpulang maupun masih dirawat di rumah sakit semoga lekas pulih dan ini menjadikan pelajaran bagi kita semua,” kata Umi.

Menurut Umi, kurang lebih 10 tahun membina Kalteng Mania, sehingga dirinya tahu bagaimana rasa kekeluargaan itu tumbuh dalam diri para suporter. Menjadi suporter bola tidak sesederhana atau sekadar nonton sepak bola, tetapi ada rasa nasionalisme dan juga di perkembangannya, bola menjadi salah satu hiburan untuk keluarga.

Sehingga, lanjut Umi, melihat anak-anak, bahkan satu keluarga menjadi korban dalam tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, menonton bola saat ini tidak seperti pada jaman dahulu yang hanya orang dewasa. Kini bola menjadi ajang hiburan hingga silaturahmi.

“Saya punya keluarga besar namanya Kalteng Mania. Walaupun jadi apa pun ini kapasitas saya. Walaupun saya sebagai Wakil Wali Kota, namun ada batas masa jabatannya, tetapi  di Kalteng Mania, di bola saya adalah keluarga besar Kalteng Mania sebagai seorang suporter bola,” imbuh Umi.

Setiap pertandingan Kalteng Putra, Umi mengaku tidak pernah duduk di VVIP, tetapi bersama Kalteng Mania di tribun untuk beraksi. Selain itu, juga bisa mengawasi langsung para suporter supaya menjadi pendukung bola itu bagaimana pun harus mengasyikan.

Umi menekankan dengan tragedi Kanjuruhan, untuk menjadi bahan evaluasi bersama dari aparat keamanan, ke depan bahwa bagaimana menangani suporter, penonton ataupun massa yang sedemikian rupa dari berbagai karakter bisa lebih humanis lagi.

“Saya masih sedih, tapi ini sudah terjadi dan ini musibah dengan hal yang kita tidak kehendaki dan tidak menduganya. Ini adalah musibah yang kita alami sebagaimana di dalam keluarga kita karena keluarga besar, kita ini aliansi bola dari manajemen hingga suporternya,” pungkas Umi.

Sebagai suporter, tentunya cinta kepada klub dan rela mengeluarkan uang sendiri beli tiket, pergi dengan sukarela karena cinta dengan sepak bola dan daerahnya. Nilai yang ditanamkan dari nonton bola itu rasa nasionalisme, kekeluargaan dan persatuan. Atas kejadian yang menimpa aremania di Kanjuruhan, bisa mengambil pelajaran dan semuanya bisa lebih bersatu. yml

-
-
-