Spirit Kalteng

5 Faktor Pengaruhi Kemiskinan di Kalteng

35
×

5 Faktor Pengaruhi Kemiskinan di Kalteng

Sebarkan artikel ini
TABENGAN/DANIEL SG PERS RILIS- Kepala BPS Kalteng Eko Marsoro saat memaparkan tingkat kemiskinan Kalteng, Senin (17/7).

+Penduduk Miskin Perkotaan Turun 0,31 Persen, Penduduk Miskin Desa Naik 0,03 Persen

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah (BPS Kalteng) Eko Marsoro menyebutkan, bahwa sedikitnya ada 5 faktor yang berpengaruh tingkat kemiskinan di Kalteng saat ini.

“Beberapa faktor tersebut berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode September 2022-Maret 2023, antara lain adalah pertama, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah Triwulan I 2023,” kata Eko, dalam pers rilis BPS Kalteng, Senin (17/7).

Dikatakan Eko, ekonomi Kalteng triwulan I-2023 terhadap triwulan I-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 3,22 persen (y-on-y). Pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2023 mengalami pertumbuhan sebesar 3,18 persen (y-on-y). Dibandingkan dengan terhadap triwulan IV-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 0,26 persen (Q to Q).

Yang kedua, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2023 sebesar 3,84 persen pada Februari 2023, terjadi penurunan dibandingkan Agustus 2022 yang sebesar 4,26 persen dan Fabruari 2022 yang sebesar 4,20 persen. Kemudian ketiga, bantuan sosial konsisten disalurkan, dan tetap diupayakan untuk mengurangi beban pengeluaran penduduk miskin. Pemanfaatan Bansos Program Keluarga Harapan (PKH) triwulan 1 mencapai 82,2 persen. Sementara pemanfaatan bansos sembako Januari-Maret telah mencapai 93,6 persen. (Sumber: Kemenko PMK).

“Keempat, selama periode September 2022-Maret 2023, inflasi terjaga sebesar 1,09 persen. Komoditi yang mengalami kenaikan paling tinggi berdasarkan andil inflasi terbesar (Maret 2023 terhadap September 2022), yaitu beras (13,36 persen), rokok kretek filter (10,73 persen), emas perhiasan (3,89 persen), rokok kretek (5,11 persen), rokok putih (8,32 persen), dan bawang putih (14,60 persen),” kata Eko.

Dan terakhir, kata Eko, produksi tanaman pangan (padi, palawija) dan hortikultura menurun di periode Oktober 202-Maret 2023, ini menurun dibandingkan April-September 2022 dikarenakan tingginya intensitas hujan yang disertai angin kencang.

Dalam penjelasannya Eko memaparkan tentang persentase penduduk miskin Kalteng pada Maret 2023 sebesar 5,11 persen, ini menurun 0,11 persen poin terhadap September 2022 dan turun 0,17 persen poin terhadap Maret 2022

“Di mana bila dalam angka jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 sebesar 142,17 ribu orang, ini turun 2,35 ribu orang terhadap September 2022 dan turun 2,93 ribu orang terhadap Maret 2022,” jelasnya.

Sedangkan persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2023 sebesar 4,78 persen, turun 0,31 persen poin dari September 2022. Tetapi untuk wilayah perdesaan, persentase penduduk miskin sebesar 5,35 persen mengalami peningkatan 0,03 persen dari September 2022.
Jumlah penduduk miskin perkotaan turun sebanyak 2,83 ribu orang dari 59,93 ribu orang pada September 2022 menjadi 57,10 ribu orang pada Maret 2023. Tetapi, pada periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan naik sebanyak 0,46 ribu orang dari 84,60 ribu orang pada September 2022 menjadi 85,06 ribu orang pada Maret 2023.

“Sehingga Garis Kemiskinan pada Maret 2023 tercatat sebesar Rp596.184/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp461.296 (77,37 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp134.888 (22,63 persen).

“Pada Maret 2023, secara rata-rata rumah tangga miskin di Kalteng
memiliki 4,58 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan/rumah tangga miskin secara rata-rata sebesar Rp2.730.523/rumah tangga miskin/bulan,” kata Eko. dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *