Spirit Kalteng

Sampaikan Kritik dengan Santun

42
×

Sampaikan Kritik dengan Santun

Sebarkan artikel ini
Sampaikan Kritik dengan Santun
ISTIMEWA GEMBIRA - Senator Kalteng, Agustin Teras Narang, gembira dan senang saat mendengarkan cerita, harapan, dan cita-cita anak-anak di Desa Belanti Siam Kabupaten Pulang Pisau.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Warga Indonesia rata-rata memiliki media sosial. Tidak saja untuk mengekspresikan diri atau mempromosikan berbagai hal, tapi juga menyampaikan kritik kepada pemerintah. Namun sayang, era demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat justru dilakukan melebihi batas.

Presiden RI Joko Widodo pada saat pidato kenegaraan, Kamis (16/8), menyinggung, yang membuat sedih budaya santun budi pekerti luhur bangsa ini, kok kelihatannya mulai hilang. Atas apa yang disampaikan Presiden RI Joko Widodo tersebut, Senator Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang (Terang), merespons bahwa dalam bermedia sosial haruslah berpegangan pada 4K.

Kritik, kata Teras Narang, silakan disampaikan secara kritis. Tentu kritisnya kritikan itu bertujuan untuk sesuatu yang sifatnya konstruktif. Kritisnya kritikan yang konstruktif, semua untuk kebersamaan. Dari kritis, konstruktif dan kebersamaan itu, yang tidak kalah penting adalah kesantunan.

“Betul sekali apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden itu. Ini merupakan suatu peringatan bagi kita, sebagai bangsa Indonesia. Kesantunan adalah menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita paham betul, negara kita adalah negara demokrasi. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Tapi kita juga paham dan harus mengerti bahwa kita ini juga adalah negara hukum,” kata Bapak Pembangunan Kalteng ini, saat memberikan masukan dan mengingatkan masyarakat, untuk dapat mengedepankan kesantunan dalam menyampaikan kritik menggunakan media sosial, via WhatsApp, Kamis (17/8).

Artinya, jelas Teras Narang, segala tutur kata, sikap, tentunya harus diperhitungkan dengan baik. Kemajemukan bangsa ini merupakan aset bangsa. Tidak semua bisa menerima sikap kita. Misalnya saja, sikap kita yang keras, tidak bisa semuanya menerima.

“Momentum Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan ini, kita mulai menyadari diri kita, kesantunan adalah menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” kata Teras Narang.

Teras Narang mengingatkan, kritik yang disampaikan arahnya harus konstruktif. Momen 17 Agustus, mulai menyadari dan menyadarkan diri bahwa kita tidak hidup sendiri. Tapi kita hidup bermasyarakat dan bernegara, dan penuh dengan keragaman yang mempunyai adat dan kebudayaan yang berbeda. Semangat  Bhinneka Tunggal Ika yang menyatakan kita berbeda, tapi kita adalah satu.

Masyarakat, kata Anggota  DPD RI Dapil Kalteng ini, harus paham betul bahwa ketika kita membuat kalimat-kalimat di dalam media sosial, maka itu adalah menjadi tanggung jawab kita pribadi. Namun kita juga jangan lupa, bahwa itu tidak hanya untuk diri kita, tapi juga dibaca oleh orang lain yang mungkin berbeda pandangan, yang mungkin berbeda pemikiran, yang berbeda sikap, yang berbeda tingkah laku.

Sebab itu, ungkap Teras Narang, berhati-hatilah mempergunakan media sosial. Karena, secara hukum juga ada pertanggungjawabannya, secara moral pun ada pertanggungjawabannya, dan etika keagamaan pun memberikan batasan kepada kita. Norma hukum, norma agama, norma sosial, dan norma moral, harus menjadi perhatian.

Penyampaian kritik melalui media sosial, tambah Teras Narang, menjadi masukan dan otokritik bagi pemerintah dan juga DPD RI. Apa yang salah, sampai masyarakat dalam menyampaikan kritikan harus melalui media sosial, dan harus viral dulu. Kembali, bermedia sosial kembali ke diri pribadi. Dimulai dari lingkungan keluarga, RT, RW, sampai pada lingkungan sosial yang lebih luas. Apabila kesantunan selalu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, maka kesantunan itu akan terpatri dalam menggunakan media sosial. ded