PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Banjir parah sejumlah daerah di Kalimantan Tengah berdampak signifikan terhadap ribuan penduduk dan infrastruktur. Menurut data Pusat Data Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) per 18 Juni 2024, kabupaten terdampak meliputi Seruyan, Kotawaringin Barat (Kobar) dan Katingan. Total warga terdampak 24.262 jiwa, 206 fasilitas umum dan 4.437 bangunan rumah rusak.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Republik Indonesia Alue Dohong turut angkat bicara mengenai banjir yang kerap melanda wilayah Kalteng. Menurut Alue, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya bencana banjir.
“Intensitas cuaca akhir-akhir ini memang sedang meningkat. Maka faktor penyebab banjir pertama, karena perubahan iklim dan itu tidak bisa kita hindari. Selain itu juga pemanasan global terjadi dan itu berpotensi terjadinya el nino dan la nina,” ujar Alue Dohong saat ditemui di aula Rahan Rektorat UPR, Kamis (20/6).
Kedua, lanjut Alue, kondisi atau tipikal permukiman warga Kalteng itu banyak yang berada di dataran banjir.
“Ini mau bagaimana juga pasti kena, misalnya di Muara Teweh (Barito Utara) dan di daerah Kotawaringin Timur sebelum ada pembukaan lahan sawit itu juga sudah banjir. Itu penyebabnya karena warga memang bermukim di daerah dataran banjir,” jelasnya.
Ketiga, kata Alue, adalah kondisi sungai-sungai di Kalteng yang sudah mulai terkikis akibat penambangan yang menyebabkan daya tampung di sungai-sungai berkurang.
“Karena semua sedimen dan lainnya itu berkumpul di situ (sungai). Dan kita juga sekarang tidak ada lagi program mengeruk sungai dan menyebabkan juga terjadinya erosi,” imbuhnya.
Sehingga kata putra Dayak Kalteng itu, salah satu hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah melakukan rehabilitasi hutan terhadap daerah-daerah yang rawan terjadi banjir.
“Rehabilitasi hutan perlu untuk dilakukan agar daerah-daerah yang rawan terjadi banjir itu mampu kembali pulih,” pungkasnya. rmp











