Spirit Kalteng

Gelorakan Gairah Petani Milenial Demi Wujudkan Ketahanan Pangan 

45
×

Gelorakan Gairah Petani Milenial Demi Wujudkan Ketahanan Pangan 

Sebarkan artikel ini
Gelorakan Gairah Petani Milenial Demi Wujudkan Ketahanan Pangan 
FOTO ISTIMEWA PANEN PERDANA- Tabel Pertumbuhan Ekonomi Kalteng Tahun 2020-2024 dan foto Kepala BI Kalteng sebelumnya, Taufik Saleh, Wakil Bupati Kotim Irawati, dan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng, Sunarti melakukan panen perdana cabai hasil implementasi digital farming Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), beberapa waktu lalu.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang dikenal dengan sebutan Bumi Tambun Bungai memiliki potensi perekonomian yang cukup besar. Ada 2 modal dasar Kalteng untuk meningkatkan kondisi perekonomian wilayahnya, pertama memiliki wilayah yang sangat luas, mencapai 1,5 kali pulau jawa.

Modal dasar kedua adalah memiliki jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. Berdasar Sensus Penduduk (SP2020), persentase penduduk usia produktif di Kalteng mencapai 71,36 persen.  Penduduk usia produktif diartikan sebagai penduduk yang berusia 15-64 tahun.

Potensi ini sebaiknya dimanfaatkan dengan maksimal oleh pemerintah Kalteng beserta jajaran terkait, termasuk Bank Indonesia perwakilan Kalteng, agar menjadi amunisi terbaik dalam mewujudkan ketahanan pangan pokok.

Sehingga pada masa mendatang, Kalteng tidak lagi mengalami ketergantungan pasokan bahan pangan pokok dari daerah lain. Namun sebaliknya, mampu mandiri memenuhi kebutuhan pangan pokoknya sendiri dan menjadi pemasok bagi daerah lain.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng yang sebelumnya. Sunarti, pernah mengungkapkan, dari sekitar 91 ribu petani di Kalteng, petani di bawah usia 35 tahun jumlahnya kurang dari 30 persen.

Menurutnya, keberadaan petani milenial saat ini sangat dibutuhkan terkhusus di kawasan food estate untuk membantu pemasaran di era yang serba digital bahkan sistem pertanaman yang beralih dari manual ke mekanisasi.

“Kondisi petani kita itu sudah sangat sepuh. Jadi range antara usia petani ini sangat jauh. Jadi saya harapkan dengan adanya petani milenial ini dapat menjadi trigger kepada pemuda-pemuda yang ada di desa ini untuk mau terjun ke dunia pertanian,” tuturnya.

Pernyataannya ini sejalan dengan hasil Sensus Pertanian 2023 tahap pertama, dimana jumlah petani milenial di Kalteng adalah 82.649 orang. Jumlah ini setara dengan 28,71 persen dari total petani di Kalteng.

Petani milenial adalah petani yang berusia antara 19–39 tahun dan adaptif terhadap teknologi digital. Mereka juga memiliki minat atau pengalaman di bidang pertanian.

Apabila jumlah petani milenial sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan di Kalteng dapat ditingkatkan dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah, berupa pemberian ilmu, wawasan teknologi, keterampilan, suntikan modal serta fasilitasi pemasaran yang tepat, diyakini harapan mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri di Bumi Tambun Bungai dapat terwujud.

Sedangkan untuk merubah stigma negatif profesi petani yang identik dengan kegiatan yang berkecimpung dengan tanah, lumpur dan kotoran. Serta berhadapan dengan panas matahari, namun  penghasilan minim tentu bisa diubah dengan pemberian pemahaman yang baik.

Sudah saatnya kaum milenial disadarkan bahwa teknologi pertanian saat ini sangat maju. Misalnya petani cabai, tidak perlu berjaga seharian hanya untuk menyiram atau memberi pupuk tanamannya. Semua bisa dilakukan secara digitalisasi melalui aplikasi yang sudah dirancang khusus.

Demikian pula peternak ayam atau ikan, tidak harus 24 jam memantau kondisi ternaknya, karena ada alat pemantau berupa drone atau cctv untuk mengawasi. Alat pemantau ini dilengkapi pengatur suhu ruang atau radar untuk mengetahui tingkat keasaman air bagi peternak ikan.

Pelaksanaan pertanian digital atau digital farming bahkan sudah diterapkan Bank Indonesia perwakilan Kalteng, yakni penanaman cabai di lahan seluas 0,5 hektare di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), beberapa waktu lalu.

Inovasi digital di bidang pertanian ini sangat memudahkan petani dalam bertani dan meningkatkan hasil panen cabai.

Bahkan melalui digital farming, petani bisa berkebun dari jarak jauh. Pasalnya, di lokasi tanam, ada alat untuk melakukan pemeliharaan tanaman secara otomotis.

Alat dipasang untuk menyalurkan air dan nutrisi di pipa berbeda ke demplot cabai. Alat tersebut dapat dikontrol selama 24 jam dari jarak jauh, dengan hanya membuka aplikasi, bahkan bisa menggunakan gawai.Disamping pemasangan cctv sebagai kamera pengawas di lokasi tanam.

“Digital farming sangat mempermudah kami sebagai petani. Sebab dengan digital farming lebih praktis dan petani tidak capek. Walaupun kami pergi jauh dari lokasi tanam, kami tetap bisa melakukan pemupukan dan penyiraman,” kata Agusyanto, Ketua Kelompok Tani Margo Mulyo yang melaksanakan proyek penanaman cabai bekerja sama dengan BI perwakilan Kalteng, beberapa waktu lalu.

“Hanya dengan membuka aplikasi, sistem pemumpukannya kami tahu, nutrisinya kami tahu, PH tanah kami tahu, dan kekurangan unsur hara juga bisa kami ketahui,” sambungnya.

Sementara, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng Agnes Widiastuti turut menyampaikan bahwa wilayah Kalteng hingga saat ini masih bergantung pada hasil tambang dan galian untuk pemasukan kas daerahnya.

Seiring perkembangan perekonomian global, dengan segala kebijakannya, seperti moratorium batu bara, tentu berpengaruh pada sumber pendapatan ekonomi di Kalteng.

“Adanya moratorium ekspor batu bara pada 2023 lalu, sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan perekonomian di Kalteng,” katanya.

Dijelaskan, pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Kalteng secara kumulatif sempat mencapai 6,45 persen namun hingga 2 tahun kedepan (2023-2024), angka pertumbuhan ekonomi Kalteng terus turun.

“Setelah pandemi Covid-19 pada pada 2020-2021, ada peningkatan ekonomi Kalteng yang bersumber dari tingginya permintaan batu bara dan bahan tambang secara global pada 2022. Setelah keluar moratorium batu bara pada 2023, tentu berpengaruh pada penurunan pendapatan Kalteng mengingat sektor bahan tambang dan galian masih menjadi sektor pendapatan utama Kalteng. Dan pada 2024, ekonomi Kalteng mulai tumbuh kembali,” kata Agnes.rca