Spirit Kalteng

Ribuan Warga Palangka Raya Ziarah Paskah

33
×

Ribuan Warga Palangka Raya Ziarah Paskah

Sebarkan artikel ini
ZIARAH-Tradisi warga Palangka Raya melaksanakan ziarah makam di malam Paskah, TPU Kristen Jalan Tjilik Riwut Km 2,5, Palangka Raya, Sabtu (19/4). FOTO YULIANUS

+Mengenang dan Memperbarui Hubungan Rohani

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID- Kabut malam dan rintik hujan yang turun perlahan tak mampu meredupkan lautan cahaya yang memancar dari ribuan lilin di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen Km 12 Palangka Raya, TPU Kristen Pasar Besar, TPU Kristen Km 2.5, TPU Kristen Karanggan dan TPU Kristen Jalan Matal pada Jumat (18/4) dan Sabtu (19/4). Malam itu, ribuan umat Kristiani berkumpul dalam keheningan yang syahdu, memperingati Malam Jumat Agung penyaliban dan kematian Tuhan Yesus, dan Malam Suci Paskah mengenang Kemenangan Kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian dengan ziarah penuh doa dan harapan.

Kebangikitan Yesus memberikan pengharapan bagi umat-Nya yang telah ditebus dengan darah milik Tuhan Yesus

Sejak matahari mulai condong ke barat, satu per satu peziarah berdatangan. Di tangan mereka tergenggam lilin dan bunga. Wajah-wajah mereka menyiratkan duka, rindu, pengampunan, dan ketulusan iman. Di sela kepadatan umat, terdengar bisik doa dan lantunan pujian yang menembus langit malam.

“Saya selalu datang setiap tahun. Bagi kami, ini bukan hanya tentang mengenang, tapi juga memperbarui hubungan rohani dengan Tuhan Yesus  dan keluarga yang telah pergi,” ujar Nikolas, seorang peziarah TPU Kristen Km 12.

Berbeda dari provinsi lain, tradisi ziarah Paskah di Palangka Raya dan semua kabupaten lainnya di Kalimantan Tengah,  telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas spiritual masyarakat Kristiani setempat. Meski sederhana, ritual ini sarat makna. Menyalakan lilin sebagai lambang kebangkitan, menabur bunga sebagai simbol kasih, dan mengucap doa sebagai jembatan menuju harapan kekal.

Adelia Putri, peziarah muda yang datang bersama teman-temannya, mengaku selalu tersentuh saat mengikuti ziarah ini.

“Ada kedamaian yang tak bisa dijelaskan. Kita merasakan betapa kecilnya kita di hadapan Tuhan, tapi juga betapa besar kasih-Nya,” ujarnya lirih.

Puncaknya terjadi saat ribuan lilin dinyalakan serentak. Langit yang gelap berubah menjadi samudera cahaya yang hangat, seolah menghubungkan dunia dengan surga. Di momen itu, kesunyian menjadi saksi bisu dari rindu yang belum sempat selesai.

Ziarah Suci Paskah di Palangka Raya tak sekadar peringatan, melainkan refleksi mendalam tentang makna pengorbanan, kebangkitan, dan cinta yang abadi, cinta yang dinyalakan dalam setiap cahaya lilin malam itu.

Marlinda (26), peziarah lainnya menjelaskan, kegiatan nyekar bunga sudah menjadi tradisi sejak bertahun-tahun lamanya. Hari itu mereka kembali mengenang wafatnya keluarga sekaligus mengingat Tuhan.

“Saya di sini berziarah ke makam keluarga, untuk mengenang masa-masa kami bersama, iya kami sore tadi sudah membersihkan area makam dan juga menaruh bunga,” ungkap Marlinda.

Selain berziarah dan menyekar bunga, ia beserta keluarganya melaksanakan kegiatan ibadah kebaktian dengan berdoa dan menyanyikan kidung pujian kepada tuhan.

“Kami sekeluarga tadi melaksanakan ibadah kebaktian singkat berdoa bersama setelah itu menyanyikan puji-pujian,” terangnya. jef/mak

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *