Agustiar dan Aisyah Dianugerahi Gelar Adat Dayak

Agustiar dan Aisyah Dianugerahi Gelar Adat Dayak
GELAR ADAT-H Agustiar Sabran resmi menyandang gelar adat Tamanggung Antang Pasihai, Penyang Lewu Mandereh Danum ang memiliki makna pemimpin arif dan bijaksana, pemberani, pantang mundur, serta mampu menjaga dan melindungi masyarakat Kalteng. GELAR ADAT-Ny Aisyah Thisia Agustiar Sabran dianugerahi gelar Nyai Rantian Intan, yang berarti seorang perempuan penjaga kehormatan dan kesucian keluarga, pembawa kedamaian, serta menjadi panutan bagi masyarakat. HUT KALTENG-Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kalteng Ny Aisyah Thisia Agustiar Sabran meniup lilin HUT Ke-68 Kalteng.  HUT KALTENG-Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran menyuapkan kue HUT K3-68 Kalteng kepada Plt Sekda Kalteng Leonard S Ampung.FOTO TABENGAN/YULIANUS

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID-Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-68 Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kalteng Ny Aisyah Thisia Agustiar Sabran, dianugerahi gelar adat Dayak. Acara sakral ini digelar di Kantor Gubernur Kalteng, Jumat (23/5), dengan penuh khidmat dan kearifan budaya lokal.

Agustiar Sabran resmi menyandang gelar adat Tamanggung Antang Pasihai, Penyang Lewu Mandereh Danum yang memiliki makna sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana, pemberani, pantang mundur, serta mampu menjaga dan melindungi masyarakat Kalteng.

Sementara, Ny Aisyah Thisia Agustiar Sabran dianugerahi gelar Nyai Rantian Intan, yang berarti seorang perempuan penjaga kehormatan dan kesucian keluarga, pembawa kedamaian, serta menjadi panutan bagi masyarakat.

Sekretaris Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng Yulindra Dedy menyampaikan, gelar adat tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi keduanya terhadap masyarakat dan budaya Dayak.

“Bapak Agustiar Sabran dan Ibu Aisyah Thisia Agustiar Sabran bisa menjadi suri tauladan bagi masyarakat Kalimantan Tengah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Belom Bahadat sesuai filosofi Huma Betang dan manggatang utus masyarakat Adat Dayak,” ucap Yulindra.

Prosesi penganugerahan dimulai dengan pemasangan busana adat dan kelengkapannya yang dipimpin Forum Koordinasi Damang Kepala Adat dan Dewan Adat Dayak Provinsi Kalteng. Gubernur dipasangkan atribut adat seperti Ewah/Sangkarut, Lilis Lamiang, Mandau, Duhung, Lunju, Mahkota (Luhing), serta Tongkat Komando (Tungkeh Salaka Baputung) sebagai simbol kepemimpinan dan kekuatan.

Sedangkan Ketua TP PKK Kalteng menerima pemasangan Sangkarut, Lilis Lamiang, Sumping, dan Syal Adat sebagai simbol kelembutan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan perempuan Dayak. Acara dilanjutkan dengan ritual Tampung Tawar yang dipimpin Ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan Kota Palangka Raya, sebagai bentuk pemberkatan dan doa keselamatan. ldw