PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.- Program pengiriman anak-anak yang dianggap “nakal” ke barak militer untuk pembinaan karakter, seperti yang digagas oleh Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat (Jabar) tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah di Indonesia. Gagasan ini mengundang beragam respons, termasuk dari para wakil rakyat di daerah tidak terkecuali Kota Palangka Raya.
Wakil Ketua II Komisi I DPRD Palangka Raya Syaufwan Hadi menyebut bahwa program tersebut merupakan langkah menarik dan patut untuk diperhatikan lebih lanjut, terutama dalam konteks penanganan kenakalan remaja yang semakin marak belakangan ini.
“Program Kang Dedi Mulyadi yang mengirim anak nakal ke barak militer untuk pembinaan karakter adalah langkah yang menarik dan patut diperhatikan. Dari sisi positif, pendekatan ini bisa memberikan disiplin dan pembinaan karakter yang kuat melalui lingkungan yang terstruktur dan profesional,” jelasnya, Rabu (14/5).
Namun, ia juga menekankan bahwa program ini tidak bisa serta-merta diadopsi tanpa kajian mendalam. Menurutnya, terdapat pula potensi dampak negatif dari pendekatan militeristik ini, seperti tekanan psikologis yang bisa dialami anak-anak, hingga potensi hilangnya rasa kebebasan yang justru dapat mengganggu perkembangan mental dan sosial mereka.
“Namun, ada juga potensi dampak negatif, seperti tekanan psikologis dan hilangnya kebebasan yang bisa berdampak pada perkembangan anak,” tambahnya.
Di Kota Palangka Raya sendiri beberapa waktu lalu pihak kepolisian dari Polresta Palangka Raya berhasil mengamankan enam remaja yang terlibat dalam aksi tawuran di salah satu titik keramaian kota. Dengan adanya kejadian ini Syaufwan menilai jika kebijkan tersebut ingin diadopsi untuk diterapkan di Kota Palangka Raya, perlu dengan bijak menilai dan mempertimbangkan berdasarkan tingkat kenakalan anak.
“Secara pribadi, saya menganggap program ini layak untuk dicoba dan diterapkan di Kota Palangka. Namun dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan berat-ringannya kenakalan yg dilakukan oleh anak-anak kita,” jelasnya.
Meski mengapresiasi inisiatif pembinaan berbasis militer, Syaufwan menegaskan bahwa solusi jangka panjang tetap terletak pada aspek pendidikan, pembinaan keluarga, dan pengawasan sosial.
“Yang paling penting dan utama sekarang adalah pendidikan, pembinaan dan pengawasan dari dalam keluarga serta sekolah juga lingkungan tempat di mana mereka belajar dan bersosialisasi setiap harinya,” pungkasnya. nws





