Ekobis

Harga Cabai di Palangka Raya “Meroket” Lagi, Kini Tembus Rp100 Ribu/Kg, Dipicu Cuaca, BBM, dan Momentum Nataru

72
×

Harga Cabai di Palangka Raya “Meroket” Lagi, Kini Tembus Rp100 Ribu/Kg, Dipicu Cuaca, BBM, dan Momentum Nataru

Sebarkan artikel ini
Harga Cabai di Palangka Raya "Meroket" Lagi, Kini Tembus Rp100 Ribu/Kg, Dipicu Cuaca, BBM, dan Momentum Nataru
ILUSTRASI

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Harga komoditas cabai di Pasar Besar Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai menunjukkan kenaikan signifikan dan “meroket” di awal Desember 2025 ini, jauh menjelang puncak perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026.
Berdasarkan pantauan Tabengan di Pasar Besar Palangka Raya dan pantauan harga bapok pada Kamis (4/12/) di Pasar Besar menunjukkan lonjakan harga yang cukup mencolok. Cabai merah keriting saat ini dijual dengan harga Rp80.000 per kilogram.
Sementara itu, jenis cabai rawit biasa bahkan menembus angka Rp100.000 per kilogram. Hanya cabai rawit hijau yang masih dibanderol lebih rendah, yakni Rp40.000 per kilogram.
Kenaikan harga yang terjadi di awal bulan ini mulai menimbulkan keresahan di kalangan pedagang maupun konsumen.
Tiga Faktor Utama Penyebab Kenaikan
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM, dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangka Raya, Samsul Rizal, menjelaskan bahwa lonjakan harga ini disebabkan oleh gabungan beberapa faktor, mulai dari alam hingga kebijakan.
“Yang pasti sekarang kan musim penghujan. Musim hujan ini sangat memengaruhi masa tanam, sehingga pasokan dari sentra produksi berkurang,” ujar Samsul saat dihubungi Tabengan, Kamis (4/12).
Faktor kedua adalah biaya logistik. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi baru-baru ini secara otomatis berdampak pada ongkos angkut barang dari luar kota, yang mana Palangka Raya sangat bergantung pada pasokan luar.
“Kenaikan BBM baru-baru ini otomatis berdampak pada ongkos angkut barang dari luar kota,” tambahnya.
Selain faktor cuaca dan transportasi, faktor permintaan menjelang hari besar juga sangat mendorong kenaikan harga.
“Masyarakat mulai stok bahan pokok untuk perayaan Natal dan Tahun Baru, jadi wajar kalau harga melonjak,” kata Samsul.
Tidak hanya perayaan Nataru, momentum keagamaan lokal juga ikut berperan. Haul Guru Sekumpul, yang digelar setiap 5 Rajab di Martapura, Kalimantan Selatan, turut meningkatkan permintaan cabai di Palangka Raya karena banyak warga yang menggelar selamatan atau tradisi di rumah maupun masjid.
“Walaupun pusat haul berada di Kalimantan Selatan, permintaan di Palangka Raya juga meningkat menjelang hari itu,” jelasnya.
Untuk menekan kenaikan harga dan menjaga daya beli masyarakat, Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya segera mengambil langkah intervensi. Samsul menjelaskan, pihaknya akan menggelar pasar murah di beberapa titik mulai akhir pekan ini.
“Kami juga akan menyiapkan pasar penyeimbang, Sabtu besok sudah mulai, sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga wajar,” jelas Samsul.
Selain itu, DPKUKMP terus melakukan pemantauan intensif di pasar-pasar besar melalui petugas yang secara rutin mencatat harga dan stok bahan pokok setiap hari.
Kenaikan harga cabai ini juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha makanan. Alida, pemilik usaha katering di Palangka Raya, mengaku cukup terbebani dengan lonjakan harga ini.
“Harga cabai naik lumayan bikin ‘nangis’. Harga makanan yang dijual tetap, jadi untung yang didapat jadi makin kecil,” keluhnya, menggambarkan sulitnya menjaga keseimbangan antara harga bahan baku dan harga jual produk. Rmp