-
Hukrim

Dua Anak di Sampit Terseret Kasus Bom di SMA Jakarta

743
×

Dua Anak di Sampit Terseret Kasus Bom di SMA Jakarta

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI/NET
-

SAMPIT/TABENGAN.CO.ID – Dua anak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang menjadi sorotan Densus 88 ternyata masuk dalam pengembangan kasus pemboman di salah satu SMA di Jakarta.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Rihel menyebutkan, ada dua anak di Kotim yang terdata dalam pengembangan kasus tersebut dan terindikasi terpapar paham radikalisme.

Rihel menegaskan bahwa informasi tersebut diperoleh dari hasil pendalaman aparat penegak hukum, namun identitas kedua pelajar tersebut masih dirahasiakan dan menjadi kewenangan Densus 88.

“Setelah dibuka grup di ponselnya, ternyata terkait kasus pemboman di salah satu SMA di Jakarta, ternyata di Kotim ini ada dua orang. Untuk identitasnya masih bersifat privasi dan belum dibuka oleh Densus 88,” ungkap Rihel, Rabu (7/1).

Ia menjelaskan, pola perekrutan radikalisme terhadap anak-anak saat ini banyak dilakukan melalui media digital, khususnya permainan gim berbasis kekerasan. Anak-anak direkrut secara perlahan melalui interaksi di dunia maya hingga akhirnya menerima doktrin tertentu.

“Polanya itu melalui permainan game kekerasan. Lama-lama anak direkrut, diajak komunikasi, kemudian diberi arahan. Biasanya anak akan mulai memisahkan diri, menyendiri, dan tidak mau bergabung dengan anak-anak lain,” jelasnya.

Menurut Rihel, secara nasional terdapat lebih dari 100 anak di Indonesia yang terindikasi terpapar paham radikalisme dan nikotin. Sementara di Kotim sendiri, berdasarkan data sementara, terdapat dua anak usia sekolah yang masuk dalam pendataan tersebut.

“Kalau kita buka secara nasional, ada lebih dari 100 anak di Indonesia yang terindikasi. Rata-rata yang terpapar ini mulai usia 12 tahun sampai tingkat SMA,” katanya.

Rihel menekankan peran orang tua menjadi faktor paling krusial dalam upaya pencegahan. Pengawasan terhadap aktivitas anak, khususnya dalam penggunaan handphone dan akses internet, harus dilakukan secara konsisten. Selain keluarga, sekolah juga diminta mengambil peran aktif dalam pengawasan dan pembinaan karakter anak. Rihel menilai peran guru Bimbingan Konseling (BK) perlu kembali diperkuat untuk meminimalisir kenakalan dan penyimpangan perilaku pelajar.

Dari sisi Pemerintah Daerah, Kesbangpol Kotim berencana melakukan sosialisasi secara masif ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Sosialisasi ini difokuskan pada bahaya radikalisme, penyalahgunaan gawai, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.

Ia juga mengingatkan kembali pentingnya pengaturan waktu penggunaan handphone bagi anak. Rihel menilai pola pengasuhan lama, seperti jam belajar malam, masih relevan untuk diterapkan di tengah kemajuan teknologi saat ini.

“Peran orang tua sangat penting. Kalau ada perubahan perilaku atau kelainan, itu harus diperhatikan. Anak perlu pendampingan sejak dini. Sekolah harus dilibatkan. Peran guru BK ini perlu ditegaskan kembali agar bisa mendeteksi lebih awal dan meminimalisir kenakalan anak,” tegasnya. c-may

 

-
-
-