-
Spirit Kalteng

Sambut Nyepi, Umat Hindu Ritual Melasti

209
×

Sambut Nyepi, Umat Hindu Ritual Melasti

Sebarkan artikel ini
MELASTI–Umat Hindu Kota Palangka Raya melaksanakan Upacara Melasti dalam Rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun 2026 di Kawasan Sungai Kahayan, Senin (16/3/2026). FOTO TABENGAN/YULIANUS
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Ratusan umat Hindu di Kota Palangka Raya melaksanakan upacara Melasti sebagai bagian dari rangkaian persiapan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Ritual suci tersebut berlangsung dengan penuh khidmat di Dermaga Tugu Soekarno, Senin (16/3/2026).

Upacara Melasti merupakan salah satu rangkaian penting dalam perayaan Nyepi yang memiliki makna penyucian diri, baik secara jasmani maupun rohani. Dalam prosesi ini, umat Hindu memohon berkah serta keseimbangan hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum memasuki hari penyepian.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalimantan Tengah, I Wayan Suata, menyampaikan bahwa Melasti menjadi momen bagi umat Hindu untuk membersihkan diri dari berbagai kekotoran lahir dan batin.

“Melalui upacara ini, kami menyucikan diri dan memohon berkah kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar diberikan ketenangan serta kesejahteraan dalam kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, Melasti juga memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai bentuk refleksi diri sebelum umat Hindu menjalani tapa brata penyepian saat Hari Raya Nyepi.

Ia menuturkan, prosesi tersebut menjadi sarana untuk melebur segala kekotoran batin sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.

“Prosesi ini menjadi sarana kami untuk melebur segala kekotoran batin serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Kami berharap melalui ritual ini dapat memperoleh ketenangan dan keseimbangan dalam menjalani kehidupan,” tuturnya.

Ritual Melasti diawali dengan arak-arakan umat dari pura menuju lokasi pelaksanaan upacara di tepi Sungai Kahayan. Dalam prosesi tersebut, para pemuda Hindu membawa berbagai perlengkapan upacara seperti banten atau sesaji serta benda-benda suci yang akan digunakan dalam rangkaian perayaan Nyepi.

Sepanjang prosesi, umat berjalan dengan tertib dan khidmat sambil mengiringi perlengkapan upacara menuju lokasi penyucian. Suasana sakral terasa saat pemangku memimpin doa dan prosesi penyucian di tepi sungai.

Sementara itu, pada perayaan Nyepi tahun ini pawai ogoh-ogoh di Kota Palangka Raya dipastikan tidak diselenggarakan. Padahal sebelumnya wacana pelaksanaan pawai tersebut sempat direncanakan oleh panitia.

Menurutnya, secara teknis tidak ada kendala berarti yang menjadi alasan pembatalan kegiatan tersebut. Namun keputusan itu juga mempertimbangkan situasi perayaan keagamaan lain yang berlangsung dalam waktu berdekatan.

“Tahun ini perayaan Nyepi berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri. Karena itu kami juga menjaga agar tidak mengganggu umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa,” ungkapnya.

Meski tanpa pawai ogoh-ogoh, ia memastikan seluruh rangkaian ritual keagamaan Nyepi tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya. Pihaknya berharap perayaan Nyepi tahun ini dapat berlangsung dengan khidmat dan membawa kedamaian bagi seluruh masyarakat.

“Kami berharap seluruh rangkaian ritual, upacara, dan upakara tetap berjalan harmonis. Semoga ke depan perayaan Nyepi bisa kembali dilaksanakan lebih meriah,” pungkasnya. dte/red

 

-
-
-