PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Mayoritas mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) menginginkan sosok Rektor yang memiliki integritas tinggi, kepemimpinan visioner, serta latar belakang akademik kuat sebagai Guru Besar atau profesor.
Hal itu terungkap dalam hasil survei preferensi mahasiswa terhadap figur Rektor UPR ke depan yang dilakukan lembaga konsultan politik In-depth Politics pada 8–14 Maret 2026. Survei tersebut melibatkan 1.035 responden mahasiswa dari delapan fakultas di lingkungan UPR.
Ketua Tim Surveyor, Roby Krystanto, menjelaskan survei dilakukan menggunakan metode penentuan sampel rumus Slovin dengan teknik stratified random sampling agar hasilnya dapat mewakili populasi mahasiswa di seluruh fakultas.
“Metode Slovin digunakan untuk menentukan jumlah sampel dari total populasi mahasiswa yang ada. Dengan metode ini, kami dapat menentukan jumlah responden yang representatif dengan tingkat kesalahan atau margin of error sebesar tiga persen dan tingkat kepercayaan 95 persen,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, metode tersebut digunakan untuk memastikan bahwa jumlah responden yang diambil benar-benar mencerminkan kondisi populasi mahasiswa UPR secara keseluruhan.
“Dengan pendekatan itu, sebanyak 1.035 responden dipilih dari delapan fakultas yang ada di Universitas Palangka Raya sehingga hasil survei dapat menggambarkan preferensi mahasiswa secara proporsional,” jelasnya.
Ia mengatakan, hasil survei menunjukkan mahasiswa menginginkan pemimpin kampus yang memiliki integritas moral tinggi sekaligus mampu membawa perubahan inovatif bagi universitas.
“Mayoritas mahasiswa Universitas Palangka Raya menginginkan figur Rektor yang memiliki kombinasi antara integritas moral yang tinggi dan visi kepemimpinan inovatif serta visioner terhadap perubahan sebagai kualitas personal yang paling mendasar,” katanya.
Dari aspek integritas, hasil survei menunjukkan angka yang sangat dominan. Sebanyak 95,10 persen responden menilai rekam jejak yang bersih dari korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) serta plagiarisme merupakan syarat yang sangat penting bagi seorang Rektor.
“Sebanyak 95,10 persen responden menekankan pentingnya rekam jejak bebas KKN dan plagiarisme bagi figur Rektor ke depan,” ungkap Roby.
Selain integritas, mahasiswa juga menaruh perhatian besar pada latar belakang akademik calon pemimpin kampus. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 95,32 persen responden menyatakan pentingnya Rektor yang memiliki latar belakang Guru Besar atau profesor.
“Pada aspek akademis terlihat sangat kuat. Sebanyak 95,32 persen responden mengharapkan Rektor berlatar belakang Guru Besar atau profesor yang memiliki kapasitas akademik serta pengalaman keilmuan yang mumpuni,” ujarnya.
Menariknya, dalam hal asal-usul kedaerahan, mahasiswa cenderung bersikap terbuka dan meritokratis. Sebanyak 88,32 persen responden menilai tidak terlalu relevan jika Rektor harus berasal dari daerah lokal.
Meski demikian, mayoritas mahasiswa tetap berharap figur Rektor berasal dari lingkungan internal Universitas Palangka Raya. Hal ini tercermin dari 80,45 persen responden yang menyatakan setuju jika Rektor berasal dari internal kampus.
“Hasil survei ini memberikan gambaran bahwa mahasiswa UPR menginginkan sosok pemimpin kampus yang tidak hanya kuat secara integritas, tetapi juga memiliki kapasitas akademik tinggi sebagai Guru Besar, mampu meningkatkan fasilitas kampus, serta membuka ruang komunikasi yang lebih demokratis dengan mahasiswa,” imbuhnya.
Roby menegaskan, survei ini dilakukan murni atas kesadaran sendiri mengingat UPR adalah rumah bagi seluruh civitas akademika, dan siapa yang memimpin rumah ini akan menentukan kenyamanan serta kualitas masa depan UPR.
“Menjelang pemilihan pimpinan UPR, kami ingin memastikan bahwa aspirasi mahasiswa menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kriteria Rektor yang ideal. Survei ini bertujuan untuk memetakan harapan, kebutuhan, dan pandangan mahasiswa. Murni tidak ada pihak manapun di belakangnya,” pungkasnya. fwa/red





