Spirit Kalteng

1,4 Juta Bekerja Sawit dan Tambang di Kalteng, Berapa Warga Lokal yang Terserap?

41
×

1,4 Juta Bekerja Sawit dan Tambang di Kalteng, Berapa Warga Lokal yang Terserap?

Sebarkan artikel ini
Farid Wajdi

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Jumlah angkatan kerja di Kalimantan Tengah (Kalteng) terus menunjukkan tren peningkatan dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini dinilai masih mampu diimbangi oleh pertumbuhan lapangan kerja, meski tantangan kualitas sumber daya manusia dan ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri masih menjadi pekerjaan rumah.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalteng Farid Wajdi mengatakan, jumlah angkatan kerja di Kalteng pada Agustus 2024 tercatat sebanyak 1.460.906 orang berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS yang dirilis Januari 2025. Jumlah tersebut meningkat pada Agustus 2025 menjadi sekitar 1,476 juta orang atau naik sekitar 15,39 ribu orang.

“Peningkatan ini menunjukkan tren pertumbuhan angkatan kerja di Kalimantan Tengah masih stabil. Hal ini dipengaruhi bonus demografi, meningkatnya partisipasi kerja, masuknya lulusan baru, serta mobilitas tenaga kerja,” ujar Farid, di Palangka Raya, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami kenaikan dari 68,71 persen pada 2024 menjadi sekitar 69 persen pada 2025.

Menurut Farid, pertumbuhan angkatan kerja sejauh ini masih dapat diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja. Pada Agustus 2025 jumlah penduduk bekerja tercatat sebanyak 1.417,68 ribu orang atau meningkat sekitar 15,41 ribu orang dibanding Agustus 2024.

“Pertambahan jumlah penduduk bekerja hampir sebanding dengan kenaikan jumlah angkatan kerja yang mencapai 15,39 ribu orang. Ini menunjukkan pasar kerja di Kalimantan Tengah masih mampu menyerap tenaga kerja baru,” katanya.

Selain itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kalteng juga mengalami penurunan dari 4,01 persen pada Agustus 2024 menjadi 3,97 persen pada Agustus 2025.

Farid menegaskan, sektor swasta masih menjadi motor utama penyerapan tenaga kerja di Kalteng, terutama pada sektor perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan industri pengolahan.

“Penyerapan tenaga kerja oleh sektor swasta tetap dominan dan menunjukkan tren positif, tercermin dari meningkatnya jumlah tenaga kerja yang terserap serta menurunnya tingkat pengangguran terbuka,” ujarnya.

Pada Agustus 2024, proporsi pekerja di sektor formal tercatat sebesar 50,67 persen. Meski demikian, ia mengakui penyerapan tenaga kerja masih didominasi sektor primer sehingga produktivitas tenaga kerja secara umum masih menjadi tantangan.

Di sisi lain, Disnakertrans juga menyoroti persoalan ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri atau skill mismatch. Mayoritas tenaga kerja di Kalteng masih didominasi lulusan SMA dan SMK, sementara sektor unggulan seperti sawit dan pertambangan membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan teknis dan sertifikasi khusus.

“Industri saat ini membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu seperti operator alat berat, sertifikasi K3, dan sertifikasi kompetensi lainnya. Kondisi ini menyebabkan tidak semua angkatan kerja dapat terserap optimal, terutama di sektor formal dan industri berbasis teknologi,” jelas Farid.

Ia menambahkan, pemerintah daerah telah menjalankan berbagai program pelatihan vokasi melalui Balai Latihan Kerja (BLK), Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), serta kerja sama pendidikan dengan dunia industri. Namun, kapasitas pelatihan tersebut dinilai masih belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja yang terus meningkat.

Terkait tenaga kerja muda atau fresh graduate, Farid menyebut lulusan baru masih menghadapi tantangan cukup besar dalam memasuki dunia kerja.

“Meskipun TPT Kalimantan Tengah tergolong rendah, masih ada pengangguran terutama usia muda. Banyak perusahaan mensyaratkan pengalaman kerja dan keterampilan khusus sehingga lulusan baru sering kali belum memenuhi kriteria,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, sebagian lulusan baru memilih bekerja di sektor informal atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikan mereka. Meski demikian, peluang kerja tetap terbuka terutama pada sektor perkebunan, pertambangan, dan industri hilirisasi yang membutuhkan tenaga kerja teknis.

Sementara itu, terkait investasi yang masuk ke Kalteng, Farid menilai secara umum investasi sudah mampu membuka peluang kerja baru, khususnya pada sektor perkebunan dan pertambangan.

“Namun investasi yang ada masih terkonsentrasi di sektor primer sehingga pekerjaan yang tercipta cenderung terbatas dan berkeahlian rendah. Dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja berkualitas dan berkelanjutan masih belum maksimal,” pungkasnya.ldw/ded-red

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *