PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Abrasi kembali menggerus bantaran Sungai Kahayan di kawasan Jalan A Yani, Gang Sepakat, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Rabu (1/7/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.
Peristiwa yang terjadi saat warga masih terlelap itu menyebabkan sebagian bangunan ambruk ke sungai dan menimbulkan kerugian materi yang diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Risa Astrinopa (39), salah seorang saksi mata yang menyaksikan langsung detik-detik terjadinya abrasi, mengaku terbangun setelah mendengar suara benda jatuh ke sungai yang terdengar cukup keras.
“Awalnya hanya terdengar bunyi seperti tanah yang jatuh ke sungai, jadi buru-buru keluar rumah untuk melihat kondisi sekitar,” ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Suara tersebut langsung mengingatkannya pada kejadian serupa yang pernah terjadi beberapa waktu lalu di kawasan tersebut. Dengan rasa khawatir, ia membuka pintu rumah dan keluar untuk memastikan kondisi di sekitar bantaran sungai.
Menurutnya, bagian bangunan yang paling dekat dengan tepi sungai mengalami kerusakan paling parah. Area kamar gudang yang digunakan untuk menyimpan berbagai barang ikut terdampak sehingga keluarga terpaksa memindahkan barang-barang yang masih dapat diselamatkan ke tempat yang lebih aman.
Ia memperkirakan kerugian akibat kejadian tersebut mencapai lebih dari Rp20 juta. Sejumlah material bangunan bernilai tinggi seperti kayu ulin dan papan ikut hanyut terbawa longsoran tanah ke sungai.
“Kurang lebih kerugiannya di atas Rp20 juta. Banyak material bangunan, terutama kayu ulin dan papan, yang hilang terbawa longsor,” ungkapnya.
Tak lama setelah menerima laporan dari masyarakat, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya langsung menuju lokasi untuk melakukan asesmen dan pendataan.
Analis Kebencanaan BPBD Kota Palangka Raya Balap Sipet mengatakan, pihaknya menerima informasi mengenai kejadian tersebut. Berdasarkan hasil pendataan sementara, terdapat dua bangunan yang ambruk akibat abrasi.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut memang telah lama masuk kategori rawan abrasi. Bahkan, kejadian serupa sudah beberapa kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini merupakan kejadian yang ketiga kalinya. Dua tahun lalu abrasi juga terjadi di lokasi yang sama dan tahun ini kembali terjadi penyusutan tanah akibat abrasi,” jelasnya.
Hasil pemantauan BPBD menunjukkan abrasi kali ini cukup signifikan. Tanah di bantaran sungai mengalami penyusutan hingga sekitar delapan meter dari bibir sungai ke arah daratan dengan panjang area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 20 meter.
Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah berulang kali memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai potensi bahaya abrasi di kawasan tersebut.
Bahkan beberapa tahun lalu, Pemerintah Kota Palangka Raya bersama BPBD telah mengumpulkan warga untuk memberikan sosialisasi sekaligus mengimbau agar selalu meningkatkan kewaspadaan.
“Beberapa tahun lalu kami bersama Wali Kota sudah mengumpulkan warga dan mengimbau agar selalu berhati-hati karena kawasan ini memang sangat rawan abrasi,” katanya.
Selain memberikan edukasi, pemerintah juga telah mengusulkan relokasi bagi warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Namun hingga kini proses tersebut masih membutuhkan kesiapan lahan maupun lokasi relokasi yang harus disediakan pemerintah.
“Kami sudah mengusulkan relokasi bagi masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai. Namun tentu perlu disiapkan lokasi dan tempat relokasi oleh pemerintah sehingga prosesnya membutuhkan waktu,” ujarnya.
Sambil menunggu langkah tersebut, BPBD meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan serta memahami prosedur evakuasi apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.
Balap menuturkan, abrasi di bantaran Sungai Kahayan tidak terjadi setiap saat. Fenomena tersebut umumnya dipicu oleh perubahan debit air sungai akibat pasang maupun surut yang cukup signifikan sehingga mempercepat pengikisan tanah di tepi sungai.
“Kejadian abrasi biasanya dipengaruhi oleh kondisi pasang surut air sungai. Ketika terjadi perubahan debit air yang cukup besar, potensi abrasi juga meningkat,” tuturnya.
Atas kejadian tersebut, BPBD akan menyampaikan hasil kajian dan rekomendasi kepada pimpinan serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar dilakukan langkah penataan maupun penanganan kawasan bantaran sungai yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda awal terjadinya abrasi. Retakan tanah, munculnya getaran, hingga perubahan kondisi di sekitar bantaran sungai harus segera direspons dengan meningkatkan kewaspadaan dan mengungsi apabila diperlukan.
“Kita tidak bisa memprediksi kapan abrasi akan terjadi. Jika melihat tanda-tanda seperti tanah mulai retak, terjadi getaran, atau perubahan kondisi di sekitar bantaran sungai, segera lakukan langkah antisipasi demi keselamatan,” pungkasnya. dte/fwa-ded











