PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya jumlah titik panas selama musim kemarau. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), patroli udara, water bombing, hingga pemadaman gabungan di sejumlah wilayah.
Hingga Senin (13/07/2026), sebanyak 2,36 juta liter air telah dijatuhkan melalui operasi water bombing di sejumlah wilayah rawan kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBPK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib mengungkapkan, berdasarkan data Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla per 12 Juli 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 2.446 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan Tengah.
Selain itu, terdapat 435 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai 674,04 hektare. Sementara hasil analisis citra satelit menunjukkan luas area terdampak mencapai 2.915,11
BPBD Kalteng mencatat 640 kejadian bencana terjadi di wilayah tersebut selama periode 1 Januari hingga 13 Juli 2026
Berdasarkan data, sebanyak 435 kejadian merupakan karhutla. Selain itu, tercatat 99 kebakaran permukiman, 50 kejadian cuaca ekstrem, 47 banjir, empat kekeringan, tiga abrasi, dan dua tanah longsor.
Dari sisi dampak, bencana yang terjadi sepanjang 2026 memengaruhi 68.493 jiwa. Sebanyak 10 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan satu orang meninggal dunia.
Kerusakan akibat bencana juga meliputi 8.412 rumah terendam, 193 rumah rusak berat, 57 rumah rusak ringan, dan 25 rumah rusak sedang.
Selain permukiman, bencana turut berdampak pada 43 rumah ibadah, 89 satuan pendidikan, 25 fasilitas kesehatan, 16 kantor, 91 ruas jalan, serta 60 jembatan.
Luas lahan yang terbakar mencapai 674,04 hektare hingga pertengahan Juli 2026.
Berdasarkan sebaran wilayah, Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kejadian bencana terbanyak, yakni 217 kejadian. Selanjutnya diikuti Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 101 kejadian, Barito Utara 83 kejadian, dan Kotawaringin Barat 52 kejadian.
Kabupaten Sukamara mencatat 30 kejadian, Gunung Mas 29 kejadian, Pulang Pisau 24 kejadian, Lamandau dan Murung Raya masing-masing 22 kejadian, Katingan 18 kejadian, Kapuas 16 kejadian, Seruyan 13 kejadian, Barito Selatan 11 kejadian, serta Barito Timur dua kejadian.
“Dari data ini kita melihat bahwa ancaman karhutla masih perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan terus dilakukan secara terpadu bersama seluruh stakeholder,” ujar Toyib, di Palangka Raya, Selasa (14/7/2026).
Ia menyebut, Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi, yakni 217 kejadian. Selanjutnya Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 101 kejadian dan Kabupaten Barito Utara sebanyak 83 kejadian.
Menurut Toyib, salah satu fokus penanganan saat ini berada di wilayah Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau. Operasi pemadaman gabungan yang melibatkan BPBPK Provinsi Kalteng, Dinas Kehutanan, Polda Kalteng, Manggala Agni, BPBD kabupaten, Polres Pulang Pisau, KPH, serta instansi terkait lainnya telah memasuki hari ke-12.
“Pemadaman di Tumbang Nusa masih terus dilakukan secara terpadu. Seluruh personel gabungan dikerahkan untuk mencegah api meluas, terutama di kawasan lahan gambut yang cukup sulit dipadamkan,” ujarnya.ldw/ded-red











