-
Hukrim

85 Kasus Selama 2 Bulan, Total Karhutla Kobar Capai 113,51 Hektare

145
×

85 Kasus Selama 2 Bulan, Total Karhutla Kobar Capai 113,51 Hektare

Sebarkan artikel ini
KARHUTLA-TRC BPBD Kobar melakukan pemadaman karhulta. FOTO BPBD KOBAR
-

PANGKALAN BUN/TABENGAN.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat seiring cuaca panas ekstrem yang melanda Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Dalam kurun Juni hingga pertengahan Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar mencatat sebanyak 85 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 113,51 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, mengatakan Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, disusul Kecamatan Kumai. Hampir setiap hari petugas menerima laporan kebakaran dan harus turun melakukan pemadaman.

“Dalam hampir dua pekan terakhir, laporan karhutla terus berdatangan, terutama dari Kecamatan Arut Selatan dan Kumai. Bahkan dalam sehari bisa terjadi dua hingga tiga kali penanganan,” ujar Samuel, Selasa (14/7/2026).

Dari enam kecamatan di Kabupaten Kobar, saat ini karhutla hanya terjadi di Arut Selatan dan Kumai. Di Kecamatan Arut Selatan tercatat sekitar 30 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 21,61 hektare.

Sementara di Kecamatan Kumai, BPBD mencatat 25 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 62,65 hektare. Secara keseluruhan, luas lahan yang hangus akibat karhutla di dua kecamatan tersebut mencapai 113,51 hektare.

Meski jumlah kejadian terus bertambah, status penanganan karhutla di Kabupaten Kobar masih berada pada level siaga. Namun, BPBD memastikan Tim Reaksi Cepat (TRC) selalu bersiaga selama 24 jam untuk merespons setiap laporan masyarakat.

“Hingga saat ini status masih siaga. Kami terus memantau perkembangan di lapangan. Begitu menerima laporan, tim langsung bergerak. Penanganan juga didukung TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, serta berbagai pihak lainnya sehingga upaya pemadaman dapat dilakukan secara cepat,” kata Samuel.

Dalam proses pemadaman, petugas kerap menghadapi medan yang sulit. Jauhnya sumber air dan lokasi titik api yang berada di dalam lahan membuat tim harus berjalan kaki sambil membawa peralatan pemadam.

“Sesulit apa pun medannya, tim tetap berupaya memadamkan api. Setelah api padam pun kami melakukan pendinginan karena sering kali bara muncul kembali di lokasi yang sama,” jelasnya.

Selain fokus pada pemadaman, BPBD juga terus mengintensifkan langkah pencegahan dengan mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Samuel mengatakan hingga kini penyebab pasti kebakaran di sejumlah lokasi masih dalam penyelidikan. Namun, pihaknya berharap karhutla dapat segera dikendalikan agar tidak berkembang menjadi bencana kabut asap yang berdampak luas terhadap kesehatan, transportasi, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. uli/fwa-red

 

-
-
-