PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Musim kemarau di Kalimantan Tengah (Kalteng) diperkirakan masih akan berlangsung cukup panjang pada tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut memprediksi durasi musim kemarau di wilayah tersebut berkisar antara 13 hingga 18 dasarian atau sekitar empat sampai enam bulan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Neng Arini menyampaikan, berdasarkan analisis BMKG, panjang musim kemarau tahun ini diprediksi lebih lama dibandingkan kondisi normalnya. Dibandingkan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir, durasi musim kemarau di seluruh wilayah Kalteng diperkirakan lebih panjang sekitar tiga dasarian atau kurang lebih satu bulan.
Selain berlangsung lebih lama, puncak musim kemarau juga diprakirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Kalteng. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan lahan gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan berkepanjangan.
Menurut Neng Arini, sepanjang Agustus 2026 curah hujan di Kalteng diprakirakan berada pada kategori rendah dengan sifat hujan di bawah normal. Artinya, peluang terjadinya hujan yang mampu membantu proses pembasahan lahan dan menekan risiko kebakaran masih sangat kecil.
“Untuk bulan Agustus, berdasarkan prakiraan curah hujan dan sifat hujan, seluruh wilayah Kalimantan Tengah berada pada kategori rendah dan bawah normal. Sehingga potensi hujan yang dapat membantu mengurangi risiko karhutla masih sangat rendah,” ujarnya saat dikonfirmasi Tabengan, Jumat (7/8/2026).
Minimnya hujan tersebut membuat potensi kebakaran hutan dan lahan diperkirakan masih akan terus terjadi selama musim kemarau berlangsung. Dampak lanjutan yang perlu diwaspadai adalah penurunan kualitas udara akibat munculnya kabut asap dari kebakaran.
Ia menerangkan bahwa kualitas udara sangat dipengaruhi oleh banyaknya asap yang dihasilkan dari peristiwa karhutla. Selama titik-titik kebakaran masih muncul, potensi peningkatan konsentrasi polutan di udara juga akan tetap ada.
“Kalau untuk penurunan kualitas udara memang dipengaruhi oleh asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan. Jadi selama potensi karhutla masih ada, potensi munculnya kabut asap dan penurunan kualitas udara juga tetap perlu diwaspadai,” terangnya.
Di sisi lain, fenomena El Nino yang tengah berkembang turut memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia, termasuk Kalteng.
BMKG memprediksi El Nino tahun 2026 akan mencapai kategori sangat kuat sehingga berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dengan kondisi yang lebih kering dibandingkan biasanya.
Kondisi tersebut diperkirakan akan memperbesar peluang terjadinya kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini oleh seluruh pihak.
Sementara itu, untuk prakiraan cuaca dalam sepekan ke depan, BMKG belum melihat adanya potensi hujan dengan intensitas yang signifikan di wilayah Kalteng. Hujan yang berpeluang terjadi hanya bersifat lokal dengan durasi singkat sehingga belum mampu memberikan dampak berarti terhadap kondisi kekeringan yang sedang berlangsung.
Melihat kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan serta dampak kesehatan akibat penurunan kualitas udara.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar ataupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api di tengah kondisi cuaca yang sangat kering. Selain itu, warga juga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara mulai menurun akibat kabut asap.
“Selama musim kemarau masih berlangsung, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun. Selain itu, apabila kualitas udara menurun akibat asap karhutla, masyarakat sebaiknya menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan,” pungkasnya. dte/fwa-red









