PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Persoalan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Kalteng pada 2025 tercatat sebanyak 58.612 orang.
Di balik angka tersebut, lulusan baru atau fresh graduate disebut menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak menyumbang angka pengangguran. Kondisi itu terjadi karena lulusan baru membutuhkan waktu untuk bertransisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalteng Farid Wajdi mengatakan, kondisi tersebut merupakan hal yang lazim terjadi. Menurutnya, tidak semua lulusan baru dapat langsung memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Fresh graduate, karena begitu lulus kan belum tentu langsung bekerja. Misalnya ada seribu orang yang diwisuda, mungkin yang sudah memiliki pekerjaan hanya sekitar seratus orang. Sisanya masih mencari pekerjaan selama satu, dua, bahkan tiga bulan,” ujar Farid, Jumat (6/8).
Ia menjelaskan, selama lulusan baru masih aktif mencari pekerjaan, mereka tetap masuk dalam kategori pengangguran berdasarkan indikator ketenagakerjaan. Karena itu, angka pengangguran cenderung mengalami peningkatan ketika memasuki periode kelulusan dari sekolah maupun perguruan tinggi.
Menurut Farid, mayoritas pengangguran di Kalteng berasal dari kelompok usia produktif. Hal ini tidak terlepas dari definisi angkatan kerja yang mencakup penduduk usia kerja yang bekerja maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.
“Sebagian besar sebenarnya sudah terserap di lapangan kerja. Tingkat pengangguran kita relatif kecil karena masih di bawah empat persen,” katanya.
Berdasarkan data BPS Kalteng, jumlah pengangguran tersebar di seluruh kabupaten/kota. Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tercatat memiliki jumlah pengangguran paling tinggi, yakni 10.114 orang.
Selanjutnya, Kota Palangka Raya mencapai 8.175 orang, Kabupaten Kapuas 7.986 orang, Kotawaringin Barat 6.546 orang, Barito Utara 4.211 orang, Katingan 4.035 orang, Seruyan 3.180 orang, dan Barito Selatan 2.972 orang.
Sementara itu, jumlah pengangguran di Kabupaten Gunung Mas tercatat sebanyak 2.461 orang, Barito Timur 2.267 orang, Pulang Pisau 1.757 orang, Lamandau 1.771 orang, Sukamara 1.638 orang, serta Murung Raya menjadi daerah dengan jumlah pengangguran paling rendah, yakni 1.499 orang.
Farid menilai tingginya angka pengangguran tidak selalu menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan di Kalteng tidak tersedia. Menurutnya, terdapat faktor lain yang turut memengaruhi, salah satunya ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Ada lowongan, tetapi tidak diminati karena lokasinya jauh. Ada juga lowongan yang tersedia tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau kompetensi pencari kerja,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan mismatch atau ketidaksesuaian antara kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi yang dimiliki pencari kerja. Di sisi lain, faktor geografis Kalteng yang memiliki wilayah luas juga menjadi tantangan tersendiri dalam mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
Untuk menekan angka pengangguran sekaligus mempercepat penyerapan tenaga kerja, Disnakertrans Kalteng terus mendorong berbagai program peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Salah satunya melalui pelatihan berbasis kompetensi yang diarahkan agar pencari kerja memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja. Selain itu, pemerintah juga menggencarkan pelaksanaan bursa kerja atau job fair untuk mempertemukan pencari kerja secara langsung dengan perusahaan.
Disnakertrans juga terus memperkuat koordinasi dengan dunia usaha agar perusahaan lebih aktif membuka serta menginformasikan lowongan pekerjaan yang tersedia.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mempersempit kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dengan kompetensi tenaga kerja yang tersedia. Terlebih, tantangan bagi lulusan baru bukan hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memastikan keterampilan yang dimiliki relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Pemerintah daerah berharap melalui peningkatan kompetensi, perluasan informasi lowongan, serta kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan dan dunia usaha, proses transisi fresh graduate dari dunia pendidikan menuju dunia kerja dapat berlangsung lebih cepat.
Dengan demikian, angka pengangguran di Kalteng diharapkan dapat terus ditekan, sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja lokal di tengah kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang. ldw/ded-red











