-
Spirit Kalteng

Asap Karhutla Mulai Berdampak, 2.052 Kasus ISPA Tercatat di Kalteng

255
×

Asap Karhutla Mulai Berdampak, 2.052 Kasus ISPA Tercatat di Kalteng

Sebarkan artikel ini
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat mulai menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan Kalteng mencatat sebanyak 2.052 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi di 14 kabupaten/kota selama periode 7–11 Agustus 2026.

Jumlah tersebut meningkat seiring dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah yang terdampak asap karhutla.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalteng, dr. Riza Syahputra, mengatakan pada 11 Agustus saja tercatat 600 kasus ISPA baru.

“Selama periode 7 sampai 11 Agustus 2026 tercatat 2.052 kasus ISPA di 14 kabupaten dan kota. Pada 11 Agustus terdapat 600 kasus baru, dengan sembilan pasien dirawat inap,” ujarnya, di Palangka Raya, Jumat (14/8).

Kasus ISPA tertinggi pada 11 Agustus tercatat di Kota Palangka Raya dengan 115 kasus, disusul Kabupaten Kotawaringin Barat sebanyak 111 kasus.

Riza mengatakan, jumlah kasus tersebut meningkat sekitar 39,2 persen dibandingkan kondisi pada 7 Agustus 2026.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas karhutla masih berlangsung di sejumlah daerah. Berdasarkan data BMKG hingga 11 Agustus 2026, terdapat 645 hotspot di Kalimantan Tengah.

Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni 189 titik, kemudian Kabupaten Kapuas sebanyak 114 titik.

Pergerakan asap terpantau menuju arah barat laut. Kondisi berkabut asap mulai terjadi di Buntok dan Muara Teweh dengan jarak pandang sekitar 5–7 kilometer.

Sementara itu, kualitas udara di sejumlah wilayah berada pada kategori Tidak Sehat hingga Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif.

Katingan dan Barito Selatan berada pada kategori Tidak Sehat, sedangkan enam wilayah lainnya berada pada kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif. Kotawaringin Barat masih tercatat dalam kategori Baik dengan ISPU 21.

Dinas Kesehatan Provinsi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota terus melakukan langkah antisipasi untuk menekan dampak kesehatan akibat kondisi udara.

Upaya tersebut dilakukan melalui pemantauan kasus, pelayanan kesehatan, edukasi kepada masyarakat, pembagian masker, pemantauan kesehatan petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla, serta penyaluran masker dan oxygen portable.

Namun, penanganan kesehatan masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya keterbatasan masker dan obat-obatan, gangguan sinyal serta listrik yang memengaruhi pelaporan, hingga perlunya validasi data kasus.

Riza menjelaskan, ISPA tidak selalu disebabkan oleh paparan asap karhutla sehingga data yang masuk tetap perlu diverifikasi dan dianalisis berdasarkan kondisi di lapangan.

“Kami terus melakukan pemantauan dan validasi data. ISPA juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya, sehingga data harus dilihat secara komprehensif,” katanya.

Untuk mencegah peningkatan kasus, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika berada di luar rumah dan menjaga kondisi kesehatan, khususnya kelompok rentan.

“Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika kualitas udara menurun, mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila asap semakin pekat, dan segera mendapatkan pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya,” ujarnya.

Selain persoalan kesehatan, masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan. Dinas Kesehatan mengingatkan upaya menjaga kesehatan harus berjalan beriringan dengan pencegahan karhutla.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui tim gabungan terus melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan dan pendinginan di sejumlah lokasi. Operasi udara juga diperkuat melalui waterbombing dan pemantauan hotspot.

Dengan kondisi cuaca yang masih relatif kering serta potensi hujan yang rendah hingga sedang pada periode 11–18 Agustus 2026, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.

Pemerintah berharap sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan petugas kesehatan dapat mengendalikan karhutla sekaligus mencegah dampak asap terhadap kesehatan masyarakat di Kalimantan Tengah.ldw/ded-red

 

-
-
-