PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin parah di Kota Palangka Raya tak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga mulai memengaruhi aktivitas dan keputusan masyarakat untuk bepergian. Bahkan, sebagian warga memilih meninggalkan kota untuk sementara waktu demi mendapatkan udara yang lebih bersih, sekaligus menghindari dampak buruk paparan asap yang berkepanjangan.
Warga Palangka Raya mulai mengeluarkan keluarganya keluarganya yang sudah manula hingga balita, terutama yang menderita penyakit pernapasan akut dan stroke.
Kebanyakan mereka membawa keluarganya ke Banjarmasin hingga keluar Kalimantan.
Salah satunya Desi, warga Palangka Raya yang memutuskan bertolak ke Bali untuk sementara waktu. Keputusan tersebut awalnya merupakan bagian dari rencana liburan yang telah disusun sebelum karhutla semakin meluas. Namun, kondisi kabut asap yang tak kunjung membaik selama berbulan-bulan membuatnya semakin mantap meninggalkan Palangka Raya untuk sementara.
“Awalnya memang mau liburan saja, kebetulan sudah direncanakan sebelum adanya karhutla ini. Namun, melihat keadaan asap yang sudah berbulan-bulan ini, saya jadi makin memantapkan diri untuk mengungsi sebentar agar dapat menghirup udara segar,” ungkap Desi, Senin (12/10/2026).
Di balik keputusannya tersebut, Desi harus menghadapi persoalan lain akibat kabut asap, yakni terganggunya perjalanan udara dari Palangka Raya. Padahal, ia sebelumnya telah memesan tiket pesawat dari Palangka Raya menuju Bali.
Namun, karena asap tebal mengganggu sejumlah penerbangan dan jadwal keberangkatannya semakin dekat, sementara kondisi udara belum juga membaik, Desi akhirnya memilih membatalkan tiket yang telah dipesan dan membeli tiket baru dengan rute Banjarmasin menuju Bali.
Keputusan itu membuatnya harus mengeluarkan biaya tambahan. Selain tidak memperoleh pengembalian dana tiket secara penuh, ia juga perlu menyiapkan ongkos perjalanan darat menuju Banjarmasin menggunakan bus atau travel.
“Betul, cukup dirugikan. Karena meski ada refund, dana yang dikembalikan tidak 100 persen. Belum lagi harus membeli tiket bus atau travel menuju Banjarmasin dan biaya lainnya,” tuturnya.
Pengalaman Desi menjadi gambaran bagaimana kabut asap akibat karhutla dapat menimbulkan dampak berlapis bagi masyarakat. Persoalan yang awalnya berkaitan dengan kebakaran lahan dan kualitas udara, kini turut memengaruhi mobilitas warga hingga menambah beban pengeluaran untuk perjalanan.
Di tengah kondisi tersebut, Desi berharap Pemerintah Kota Palangka Raya memberikan perhatian lebih serius terhadap penanganan karhutla. Menurutnya, upaya pemadaman perlu menjadi prioritas utama agar kabut asap tidak terus berlarut-larut dan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas dengan aman.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap para petugas pemadam dan relawan yang selama ini berjuang di lapangan untuk mengendalikan kebakaran.
“Pesan dan harapan saya, pastinya agar Pemko bisa menjadikan ini prioritas utama dan juga memperhatikan para pemadam serta relawan yang berjuang, supaya mereka merasa diperhatikan dan semakin semangat,” ujarnya.
Desi berencana berada di Bali hingga 20 Oktober mendatang. Selama berada di luar kota, ia berharap kondisi kabut asap di Palangka Raya segera membaik sehingga masyarakat tidak perlu mengambil langkah serupa hanya untuk mendapatkan udara yang lebih sehat.
Sebelumnya, Anggota Komisi I DPRD Kota Palangka Raya Hatir Sata Tarigan juga mengungkapkan adanya warga yang memilih meninggalkan Palangka Raya untuk sementara waktu karena terdampak kabut asap, terutama mereka yang mengalami gangguan pernapasan.
“Bahkan ada masyarakat kota ini yang mengungsi sementara ke kota lain karena memang mengalami asma dan lain-lain,” ungkap Hatir.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga menyangkut perlindungan kesehatan, kelancaran aktivitas masyarakat, dan keselamatan warga yang terdampak. nws/fwa-red











