-
Hukrim

Api Mulai Merembet ke Lingkungan Kampus, Mahasiswa FISIP UPR Turun Padamkan Karhutla di Peat Techno Park

195
×

Api Mulai Merembet ke Lingkungan Kampus, Mahasiswa FISIP UPR Turun Padamkan Karhutla di Peat Techno Park

Sebarkan artikel ini
-

Api Mulai Merembet ke Lingkungan Kampus, Mahasiswa FISIP UPR Turun Padamkan Karhutla di Peat Techno Park. FOTO ISTIMEWA

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID— Ketika kobaran api mulai mendekati lingkungan kampus, mahasiswa FISIP Universitas Palangka Raya (UPR) memilih tidak tinggal diam. Bersama sejumlah organisasi mahasiswa dan relawan dari fakultas lain, mereka turun langsung membantu tim gabungan memadamkan kebakaran lahan gambut di kawasan Peat Techno Park, Jumat (21/8/2026).

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan sekaligus respons atas ancaman kebakaran yang berpotensi meluas ke kawasan kampus dan permukiman warga di sekitar lokasi.

Gubernur BEM FISIP UPR, Yosafat, mengatakan mahasiswa telah bergerak dan bersiaga sejak tiga hari terakhir bersama relawan dari sejumlah fakultas untuk membantu proses pemadaman.

Menurutnya, karakteristik lahan gambut membuat penanganan kebakaran membutuhkan waktu dan upaya ekstra. Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar hilang karena bara dapat kembali muncul dari dalam lapisan gambut.

“Melihat kondisi tersebut, kami dari BEM FISIP UPR bersama beberapa ormawa FISIP lainnya tergerak untuk ikut turun langsung membantu memadamkan api dengan daya dan upaya yang kami miliki. Apalagi saat ini api sudah mulai merembet ke kawasan lingkungan UPR,” tutur Yosafat.

Para mahasiswa bersama tim pemadam gabungan tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga membantu melokalisasi titik api agar tidak merambat lebih luas. Setelah api berhasil dikendalikan, mereka melanjutkan proses pendinginan atau mopping up untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.

Dekan FISIP UPR, Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang turun langsung membantu penanganan kebakaran. Ia menilai keterlibatan tersebut menunjukkan kepedulian lingkungan sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat dalam semangat Tridharma Perguruan Tinggi.

“Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah menjaga ketenangan, keselamatan, dan semangat gotong royong,” kata Bhayu.

Ia menegaskan, keterlibatan mahasiswa dalam penanganan karhutla harus tetap mengedepankan keselamatan serta dilakukan secara terkoordinasi dengan petugas yang memiliki kewenangan dan kompetensi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

“Setiap aksi di lapangan harus tetap mengutamakan keselamatan dan dilakukan secara terkoordinasi dengan tim yang memiliki kewenangan dan kompetensi dalam penanganan karhutla,” ujarnya.

Bhayu menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menunjukkan kepekaan sosial ketika masyarakat menghadapi persoalan yang membutuhkan solidaritas bersama.

“Mahasiswa adalah bagian penting dari masyarakat. Kehadiran mereka di tengah situasi sulit seperti ini hendaknya menjadi energi positif bagi semua pihak,” katanya.

Sementara itu, Yosafat berharap kebakaran di kawasan Peat Techno Park dapat segera dikendalikan. Menurutnya, keberadaan UPR yang berada di kawasan dengan hamparan lahan gambut cukup luas membuat ancaman karhutla harus mendapat perhatian serius.

Ia khawatir jika tidak segera ditangani, api dapat terus meluas dan menimbulkan dampak lebih besar terhadap lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar.

Hingga Jumat petang, mahasiswa bersama petugas gabungan masih melakukan proses pendinginan di sejumlah titik. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala akibat kondisi lahan gambut dan hembusan angin.

“Hingga Jumat petang, para relawan mahasiswa bersama petugas gabungan masih terus melakukan pendinginan (mopping up) untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala akibat hembusan angin,” ujar Yosafat.

Bhayu berharap keterlibatan mahasiswa dapat memperkuat semangat gotong royong sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak dalam menghadapi ancaman karhutla.

“Mari kita jaga semangat solidaritas, saling membantu, dan bersama-sama mencari solusi agar persoalan karhutla dapat ditangani dengan baik serta tidak terus berulang,” pungkasnya. rmp/rca-red

 

 

 

-
-
-