SUKAMARA/TABENGAN.CO.ID – Kabupaten Sukamara masih berada dalam status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukamara terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Sukamara, Anderson, mengatakan berdasarkan data aplikasi BRIN, hingga 31 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB tercatat sebanyak 1.162 titik api (fire hotspot) sepanjang Agustus.
Sebaran titik api tersebut meliputi Kecamatan Sukamara sebanyak 174 titik, Pantai Lunci 427 titik, Jelai 389 titik, Balai Riam 24 titik, dan Permata Kecubung 148 titik.
Sementara berdasarkan aplikasi SIPONGI pada periode yang sama, tercatat 3.412 titik api. Rinciannya, Kecamatan Sukamara 475 titik, Pantai Lunci 1.522 titik, Jelai 982 titik, Balai Riam 42 titik, dan Permata Kecubung 391 titik.
Anderson menyebutkan, luas lahan yang terbakar di Kabupaten Sukamara sejak Januari hingga 29 Agustus 2026 mencapai 444,95 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 204,35 hektare telah berhasil dipadamkan.
Menurutnya, penanganan karhutla masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki BPBD. Kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan melalui koordinasi dan kerja sama lintas instansi.
“BPBD masih memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dalam penanganan karhutla. Karena itu, kami selalu berkoordinasi dan bekerja sama dengan TNI, Polri, KPHP, perusahaan perkebunan kelapa sawit, serta instansi terkait lainnya,” ujar Anderson.
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, BPBD Sukamara juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bantuan tersebut antara lain berupa selang pemadam dan dua unit sepeda motor patroli karhutla. Sarana itu diharapkan dapat menunjang pemantauan sekaligus mempercepat mobilitas petugas dalam melakukan pencegahan dan penanganan kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga juga diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya. afd/fwa-red











