PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Upaya pemerintah meningkatkan peluang turunnya hujan untuk membantu mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah belum membuahkan hasil maksimal. Sebanyak 32 ton garam atau natrium klorida (NaCl) telah ditebar melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), namun hujan yang diharapkan belum kunjung turun.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama keberadaan awan yang memenuhi persyaratan untuk dilakukan penyemaian.
“Garam yang kita siapkan dan gunakan untuk penyemaian awan sudah sekitar 32 ton. Namun, hujan tidak serta-merta turun karena OMC sangat bergantung pada pertumbuhan awan yang memenuhi syarat,” kata Ahmad Toyib, di Palangka Raya, Senin (7/9).
Menurut dia, penyebaran garam dari pesawat bertujuan membantu proses kondensasi pada awan yang potensial menghasilkan hujan. Karena itu, ketika pertumbuhan awan di atmosfer masih rendah, efektivitas penyemaian menjadi terbatas.
“OMC bukan berarti setiap garam yang ditebar kemudian langsung menghasilkan hujan. Kami tetap menunggu dan memantau kondisi awan. Kalau awannya tidak memenuhi syarat, penyemaian juga tidak bisa dilakukan secara optimal,” ujarnya.
Sebelumnya, pada tahap pertama OMC di Kalteng periode 16–30 Juni 2026, sebanyak 31.000 kilogram atau 31 ton NaCl digunakan dalam 31 sorti penerbangan dengan total waktu terbang mencapai 63 jam 18 menit.
Operasi kemudian kembali dilakukan dengan penyebaran sekitar 800 kilogram garam selama 2 jam 8 menit. Dengan tambahan tersebut, total garam yang telah digunakan mencapai sekitar 31,8 ton atau dibulatkan menjadi 32 ton.
Namun, kondisi atmosfer Kalteng masih menjadi tantangan. Pertumbuhan awan yang rendah menyebabkan hujan belum turun sesuai harapan.
Ahmad menegaskan, pelaksanaan OMC akan terus menyesuaikan hasil pemantauan BMKG. Pemerintah tidak hanya mengandalkan OMC, tetapi juga tetap melakukan operasi pemadaman karhutla di darat dan udara.
“Pelaksanaan OMC tetap bergantung pada pemantauan BMKG. Ketika ada pertumbuhan awan yang memenuhi syarat, kita akan manfaatkan untuk penyemaian. Sementara penanganan karhutla di darat dan udara tetap berjalan,” tegasnya.
Hingga 1 September 2026, tercatat sebanyak 50 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 77 hektare di Kalteng. Lebih dari 48 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan.
Sebanyak 10.700 personel Satgas dikerahkan di 10 kabupaten/kota untuk menangani karhutla. Selain itu, empat helikopter disiagakan untuk mendukung operasi udara, meski satu helikopter water bombing masih menjalani perawatan.ldw/ded-red









