-
Spirit Kalteng

Sampit Terancam Kekurangan Air Minum, PDAM Sampit: Kadar Garam Tinggi, Air Sungai Tak Layak Konsumsi

291
×

Sampit Terancam Kekurangan Air Minum, PDAM Sampit: Kadar Garam Tinggi, Air Sungai Tak Layak Konsumsi

Sebarkan artikel ini

+“Kami bisa produksi, Tetapi Hanya Diperuntukkan Mck, Bukan Untuk Minum”

Direktur Perumdam Tirta Mentaya, Ismanadi
-

SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-Tingginya salinitas atau kadar garam pada air sungai mulai menjadi perhatian Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mentaya. Kondisi tersebut membuat air baku dari sejumlah wilayah tidak dapat diproduksi menjadi air untuk kebutuhan konsumsi, sehingga hanya dapat dimanfaatkan untuk mandi, mencuci dan kakus (MCK).

Direktur Perumdam Tirta Mentaya, Ismanadi, mengatakan hasil pengukuran menunjukkan tingkat salinitas di sejumlah wilayah sudah cukup tinggi. Bahkan, kadar salinitas telah berada di atas ambang 500 sehingga air tersebut tidak disarankan untuk dikonsumsi.

“Salinitas airnya, kadar garamnya terlalu tinggi. Kami bisa produksi, tetapi hanya diperuntukkan MCK, bukan untuk minum,” ujar Ismanadi Rabu (19/6).

Menurutnya, kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah selatan Kotawaringin Timur (Kotim) yang terdampak masuknya air asin akibat pasang. Perumdam terus melakukan pemantauan secara langsung setiap hari untuk mengetahui perkembangan kualitas air baku.

Untuk membantu masyarakat yang terdampak, Perumdam Tirta Mentaya menyiapkan pasokan air dari Sampit untuk dikirim ke sejumlah wilayah selatan. Sedikitnya enam unit armada tangki disiapkan, dengan dukungan sejumlah perangkat daerah seperti BPBD, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan, serta pemadam kebakaran.

“Untuk mengatasi di sana, kami menyediakan enam unit tangki. Ada dari BPBD, Cipta Karya dan pemadam yang ikut menyiapkan armada,” jelasnya.

Pasokan air bersih tersebut didistribusikan ke sejumlah titik, di antaranya Kota Besi, Cempaka Mulia dan wilayah lainnya. Air yang diproduksi Perumdam diberikan kepada masyarakat terdampak secara gratis.

Namun, untuk mencegah bantuan air bersih tersebut diperjualbelikan, masyarakat yang membutuhkan harus mendapatkan surat atau rekomendasi dari otoritas setempat, baik camat maupun lurah.

“Air yang kami bagikan kepada masyarakat terdampak itu gratis. Tetapi harus ada surat dari otoritas setempat, bisa camat atau lurah. Ini untuk menghindari air tersebut dikomersialkan,” tegas Ismanadi.

Surat tersebut tidak harus diajukan oleh setiap orang secara sendiri-sendiri. Dalam kondisi tertentu, satu kelompok masyarakat dapat mengajukan permintaan dengan mencantumkan alamat dan wilayah distribusi. Dengan demikian, armada tangki yang mengambil air dapat langsung mendistribusikannya kepada masyarakat di lokasi yang telah ditentukan.

Ismanadi menyebutkan, kebutuhan air bersih saat ini semakin meningkat karena masyarakat membutuhkan pasokan air yang aman di tengah kondisi air sungai yang mengalami peningkatan salinitas.

“Air sekarang menjadi sangat dibutuhkan masyarakat. Karena itu kami ingin memastikan bantuan air ini benar-benar sampai kepada masyarakat yang terdampak dan tidak diperjualbelikan,” katanya.

Sementara itu, untuk wilayah Sampit dan sekitarnya, Perumdam juga terus melakukan pengukuran kualitas air secara berkala. Kondisi di bagian tertentu masih relatif aman, namun pemantauan tetap dilakukan karena perubahan pasang dapat memengaruhi salinitas air Sungai Mentaya.

“Untuk bagian tertentu di wilayah Sampit masih relatif aman. Tetapi kami mengukur secara langsung setiap hari karena kondisi ini bisa berubah,” ungkapnya.

Ia mengingatkan masyarakat tidak memaksakan menggunakan air dengan kadar garam tinggi untuk dikonsumsi. Air dengan salinitas tinggi lebih berisiko apabila digunakan sebagai air minum.

“Kalau dipaksakan untuk konsumsi, tentu tidak kami sarankan. Dampaknya bisa mengganggu kesehatan, termasuk berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Perumdam Tirta Mentaya mengirimkan air dari produksi di Sampit ke wilayah selatan. Untuk kebutuhan konsumsi, pasokan tersebut diprioritaskan sebagai air bersih yang aman bagi masyarakat.

Pengiriman dilakukan menggunakan sejumlah armada tangki dengan kapasitas yang disesuaikan kebutuhan. Di Pelangsian, misalnya, kondisi air juga telah masuk kategori waspada sehingga pemantauan dan pengiriman pasokan air bersih terus dilakukan.

“Kami mengirim air dari Sampit ke wilayah selatan untuk kebutuhan minum. Sekitar 5.000 liter dengan empat sampai enam armada setiap hari, dan di Pelangsian kami sudah masuk kategori waspada,” pungkas Ismanadi. may/jsi-red

 

-
-
-