PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Perpustakaan Bajenta di Kelurahan Pager, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangka Raya, dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembelajaran masyarakat. Namun, potensi tersebut perlu ditopang pengelolaan layanan yang konsisten, program literasi berkelanjutan, serta dukungan berbagai pihak.
Hal itu menjadi salah satu temuan tim peneliti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Palangka Raya (UPR) dalam penelitian mengenai strategi optimalisasi layanan Perpustakaan Bajenta.
Ketua tim peneliti, Dr. Kusnida Indrajaya, M.Si., mengatakan perpustakaan saat ini tidak cukup hanya diposisikan sebagai tempat menyimpan dan meminjamkan buku. Lebih dari itu, perpustakaan harus mampu menjadi ruang belajar yang mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Perpustakaan harus dikelola secara berkelanjutan agar mampu menghadirkan layanan yang mudah diakses, menarik, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya, baru-baru ini.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi.
Kajian difokuskan pada kondisi layanan perpustakaan, faktor pendukung dan penghambat, serta penyusunan strategi pengembangan yang dapat diterapkan secara bertahap sesuai karakteristik masyarakat Kelurahan Pager.
Hasil penelitian menunjukkan Perpustakaan Bajenta memiliki daya tarik bagi masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan remaja. Berdasarkan data kegiatan sebelumnya, tercatat sebanyak 409 kunjungan dalam kurun waktu sekitar satu bulan.
Angka tersebut menunjukkan adanya minat masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan. Namun, tingginya kunjungan dalam periode tertentu belum otomatis menunjukkan terbentuknya kebiasaan membaca secara berkelanjutan.
Karena itu, konsistensi jam operasional, kesinambungan kegiatan literasi, serta pemantauan terhadap kunjungan ulang menjadi bagian penting yang perlu diperkuat.
Kusnida menjelaskan, penelitian juga menemukan sejumlah faktor yang dapat mendukung pengembangan Perpustakaan Bajenta. Di antaranya potensi pengguna, pengalaman pengelola, ketersediaan administrasi dasar, serta dukungan dari lingkungan pendidikan.
Di sisi lain, masih terdapat sejumlah kendala yang perlu dibenahi. Keterbatasan sumber daya manusia, pengelolaan koleksi, kesinambungan program literasi, hingga pendampingan membaca menjadi tantangan dalam pengembangan layanan perpustakaan.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, tim peneliti kemudian menyusun enam komponen strategi optimalisasi layanan. Komponen itu meliputi pemetaan kebutuhan, penguatan input, pelaksanaan layanan, kemitraan dan promosi, monitoring dan evaluasi, serta perbaikan berkelanjutan.
Keenam komponen tersebut dirancang sebagai satu rangkaian yang saling berkaitan. Dengan demikian, pengembangan perpustakaan tidak dilakukan secara parsial, melainkan berdasarkan kebutuhan dan kondisi yang ditemukan di lapangan.
Menurut Kusnida, penggunaan data sederhana juga penting dalam menentukan arah pengembangan layanan. Catatan kunjungan, peminjaman buku, jumlah anggota, keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan literasi, hingga masukan pengguna dapat menjadi bahan evaluasi.
“Data tersebut dapat menjadi dasar untuk melihat kebutuhan pengguna dan menentukan langkah perbaikan layanan yang sesuai,” jelasnya.
Tim peneliti juga merekomendasikan pembenahan dilakukan secara bertahap. Langkah awal dapat dimulai dari penataan jadwal operasional, pembaruan inventaris, pencatatan layanan, serta pembagian tugas pengelola secara lebih jelas.
Selanjutnya, pengembangan dapat diarahkan pada penguatan program literasi dan perluasan jejaring kemitraan. Sekolah, pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, hingga komunitas dinilai dapat dilibatkan untuk memperluas jangkauan layanan perpustakaan.
Melalui penelitian tersebut, tim FKIP UPR menilai perpustakaan kelurahan perlu dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran masyarakat. Keberadaan perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan buku, tetapi juga bagaimana layanan mampu mendorong masyarakat untuk datang, membaca, belajar, dan kembali memanfaatkan fasilitas tersebut secara berkelanjutan.
Hasil kajian itu diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola Perpustakaan Bajenta, Pemerintah Kelurahan Pager, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat budaya literasi masyarakat di wilayah Rakumpit. rmp











