-
Spirit Kalteng

280 Hari Hidup Bersama Karhutla dan Asap-Kalteng 5.761 Kejadian Karhutla, Hotspot Tembus 254.056 Titik, 109.813 Kasus ISPA dan 25.701 Kasus Diare

35
×

280 Hari Hidup Bersama Karhutla dan Asap-Kalteng 5.761 Kejadian Karhutla, Hotspot Tembus 254.056 Titik, 109.813 Kasus ISPA dan 25.701 Kasus Diare

Sebarkan artikel ini
280 Hari Hidup Bersama Karhutla dan Asap-Kalteng 5.761 Kejadian Karhutla, Hotspot Tembus 254.056 Titik, 109.813 Kasus ISPA dan 25.701 Kasus Diare. FOTO DODDY
-

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kalimantan Tengah (Kalteng). Berdasarkan data akumulasi penanganan karhutla Provinsi Kalteng, sejak 1 Januari hingga 6 Oktober 2026 (280 hari) tercatat sebanyak 5.761 kejadian karhutla dengan jumlah titik panas atau hotspot mencapai 254.056 titik.

Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng juga mencatat luasan area terdampak kebakaran mencapai 17.116,39 hektare berdasarkan perhitungan luas area terbakar dari laporan lapangan kabupaten/kota. Sementara berdasarkan perhitungan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS, luas area terbakar tercatat sekitar 7.634 hektare.

Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, tingginya akumulasi titik panas dan kejadian karhutla menjadi perhatian serius pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait.

Menurut dia, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul, tetapi harus dibarengi dengan upaya pencegahan, pemantauan dan pembasahan di wilayah yang rawan terbakar.

“Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga pada upaya pencegahan maupun pembasahan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api,” kata Ahmad Toyib.

Berdasarkan sebaran wilayah, Pulang Pisau tercatat menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 48.508 titik, disusul Kotawaringin Timur 41.614 titik, Kapuas 36.149 titik, Palangka Raya 26.213 titik, dan Seruyan 25.157 titik.

Sementara dari sisi jumlah kejadian, Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan angka tertinggi, yakni 1.027 kejadian, kemudian Palangka Raya 845 kejadian, Barito Timur 722 kejadian, Seruyan 560 kejadian, dan Kapuas 478 kejadian.

Dari sisi luas area terbakar berdasarkan laporan kabupaten/kota, Kotawaringin Timur juga tercatat paling tinggi dengan 3.052 hektare. Berikutnya Kotawaringin Barat 2.534 hektare, Pulang Pisau 2.215 hektare, Kapuas 1.654 hektare, dan Seruyan 1.721 hektare.

Adapun wilayah lainnya yakni Palangka Raya 1.094 hektare, Barito Selatan 1.258 hektare, Barito Timur 1.136 hektare, Sukamara 727,4 hektare, Gunung Mas 454,2 hektare, Katingan 418 hektare, Lamandau 358 hektare, Barito Utara 335,2 hektare, serta Murung Raya 190 hektare.

Untuk menangani ancaman karhutla tersebut, BPB-PK Kalteng bersama unsur terkait telah mengerahkan 13.699 personel gabungan. Penanganan juga diperkuat dengan dukungan sarana udara berupa tujuh unit helikopter dan dua unit pesawat untuk OMC/patroli.

Selain itu, data hingga 6 Oktober 2026 mencatat terdapat 47 penegakan hukum terkait karhutla.

Ahmad Toyib menegaskan, kecepatan respons menjadi salah satu kunci dalam mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Kunci penanganan karhutla adalah kecepatan informasi, kecepatan respons dan kesinambungan penanganan,” tegas Toyib.

Ia mengatakan pemantauan titik panas terus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap indikasi kebakaran diharapkan dapat segera ditindaklanjuti sehingga api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.

“Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah kami lakukan secara berkelanjutan, sehingga setiap potensi karhutla dapat segera ditindaklanjuti,” katanya.

Tingginya aktivitas karhutla juga memberikan dampak terhadap masyarakat. Dalam data tersebut tercatat 109.813 kasus ISPA dan 25.701 kasus diare.

Di bidang pendidikan, tercatat 223 sekolah PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) pada tingkat kabupaten/kota, sedangkan sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka tercatat nihil dalam data infografis tersebut.

Untuk mendukung masyarakat terdampak, tercatat 169 lokasi rumah oksigen, sementara unit mobil oksigen tercatat nol unit.

Menurut Toyib, kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keselamatan, kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Karena itu, ia meminta seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, dunia usaha hingga masyarakat, terus memperkuat koordinasi dalam pencegahan dan penanganan karhutla.

“Pencegahan menjadi langkah yang paling efektif untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan,” kata Toyib.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran. ldw/ded-red

 

-
-
-