PALANGKA RAYA/tabengan.co.id- Invasi yang dilakukan Rusia atas Ukraina, Rabu (23/2), dikhawatirkan memicu dampak luas terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah.
Mencermati hal tersebut, pengamat ekonomi Kalteng yang juga Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Universitas Palangka Raya Fitria Husnatarina menyebut, kemungkinan dampak buruk invasi Rusia ke Ukraina yang utama adalah memperlambat pemulihan ekonomi pada kondisi pandemi Covid-19.
Invasi ini, sambung mantan Ketua Ikatan Akuntansi Indonesia Wilayah Kalteng, memang secara global menjadi keresahan sendiri dan memunculkan permasalahan baru di tengah upaya-upaya semua negara di dunia untuk pulih dan bangkit.
Selanjutnya, geopolitik dan mekanisme perekonomian global yang paling terdampak adalah akses akan sumber daya energi, karena Rusia merupakan salah satu pengekspor minyak terbesar dan minyak masih menjadi penggerak semua sektor dan barometer harga komoditas lainnya.
“Logikanya adalah jika akses terhadap ekspor minyak dari Rusia berkurang akan menurunkan akses terhadap komoditas pertambangan lainnya menjadi bergejolak,” bebernya kepada Tabengan, Jumat (25/2).
Bisa dipastikan jika akses terhadap energi tergganggu menimbulkan Multiplier effect bagi proses produksi, komoditas pangan dan hal lainnya dalam aktivitas pasar dunia. Yang paling penting untuk diingat adalah kondisi invasi (perang) ini menjadi hal yang sangat serius untuk memicu pemilik modal wait and see, mengamankan aset dan menunda investasi global.
“Ini sangat mengganggu proses pemulihan ekonomi global,” imbuhnya.
Fitria juga menjelaskan, jika perekonomian global pasti akan terdampak, maka Indonesia juga akan terdampak dari sisi kerja sama bilateral, baik dengan Rusia maupun Ukraina, juga negara-negara besar lainnya yang memiliki keterlibatan dalam pertikaian Rusia-Ukraina ini.
Indonesia yang juga sebagai penghasil komoditas baik energi dan pangan ke pasar global tentu akan merasakan dampaknya. Tentu secara tepat dan presisi, tidak melihat sejauh mana dampak itu akan menjadikan ekonomi Indonesia mengalami turbulensi, yang pasti adalah akan ada kebijakan-kebijakan pasar dunia yang nantinya berimbas ke Indonesia.
Disebutkannya pula, mitigasi dari risiko yang mungkin terjadi dari dugaan kelangkaan energi terutama minyak yang nanti akan memicu terjadinya inflasi dan memunculkan perilaku investasi yang wait and see harus dilakukan dengan strategi penguatan akses dan aktivitas produksi dan distribusi secara internal.
Kebijakan Pemerintah Indonesia untuk melakukan penghentian ekspor batu bara dan komoditas lainnya serta membangun infrastruktur industri dalam negeri menjadi salah satu kebijakan membantu Indonesia sendiri tetap recovery dalam pergolakan ini.
“Intinya bahwa sektor-sektor yang bisa menjadi back up pertumbuhan perekonomian dalam negeri menjadi perhatian untuk di-manage semaksimal mungkin,” jelasnya. dsn
Perang Rusia-Ukraina Ganggu Pemulihan Ekonomi





