PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak baru dilaksanakan pada 27 November 2024 mendatang. Namun, sejumlah tokoh yang digadang-gadangkan akan maju dalam pilkada serentak sudah ramai dibicarakan. Di Kalimantan Tengah (Kalteng) nama Abdul Razak ramai diperbincangkan, dan sosok yang layak untuk memimpin Kalteng kedepan.
Politisi Senior Partai Golongan Karya (Golkar) Yurikus Dimang, menilai, sosok Abdul Razak masuk kandidat yang layak untuk memimpin Kalteng kedepan bukan tanpa alasan. Alasan utama dinilai layak adalah pengalaman yang dimiliki, baik sebagai kepala daerah ataupun anggota dewan.
Pengalaman menjadi penting, kata Yurikus, demi membawa Kalteng semakin lebih baik lagi. Sebab itu, wajar nama Abdul Razak digadang-gadang sebagai salah satu kandidat yang layak untuk memimpin Kalteng. Terlebih, target Golkar Kalteng adalah menjadi pemenang, dan mampu mengusung sendiri pada pilkada khususnya pilgub Kalteng.
”Namun, Golkar bukanlah partai yang menutup diri dari figur ataupun kader-kader yang memang memiliki potensi. Selain pak Razak (sapaan akrab Abdul Razak) ada nama Edy Pratowo, Mukhtarudin, Nurhidayah, Fairid Nafarin, Hendra Lesmana, Jaya S Monong, maupun kader yang lainnya,” kata Yurikus, saat menanggapi nama Razak sebagai calon dalam Pilgub Kalteng, Rabu (14/9) di Palangka Raya.
Perlu diingat bersama, kata Yurikus, yang diusung dalam Pilgub Kalteng tidak hanya gubernur semata, tapi bersama dengan wakilnya, atau sederhananya berpasangan. Sebab itu, Partai Golkar terbuka untuk menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh-tokoh yang memungkinkan berpasangan dengan calon dari Partai Golkar.
Tokoh-tokoh seperti Nadalsyah, lanjut Yurikus, Ben Brahim S Bahat, Willy M Yoseph, ataupun Halikinor. Beberapa tokoh ini, ataupun tokoh lainnya bagi Golkar sangat terbuka untuk menjalin komunikasi. Partai Golkar adalah partai terbuka dan aspiratif tidak eksklusif.
Kalau ditanya, tambah Yurikus, mengapa bupati dan walikota ditampilkan juga dalam kandidat yang berpotensi diusung Partai Golkar, jawabnya sederhana karena secara riil mereka adalah tokoh daerah yang mempunyai pengaruh kuat untuk memenangkan pilkada dan pilpres di daerah.
”Kembali, berbicara pak Razak, pak Razak lebih unggul karena beliau punya pengalaman dalam mengelola pemerintahannya, dan dapat mengelola politik daerah yang plural dengan baik. Yang ke-dua, para bupati dan walikota dari Partai Golkar cukup banyak yang baru menjabat satu periode. Kita harapkan bisa melanjutkan ke periode berikutnya,” tutup Yurikus.ded











