
RITUAL – Warga melakukan ritual adat Dayak pada Jembatan Layang Bukit Rawi yang sudah mulai beroperasi beberapa hari lalu, Desa Penda Barania, Kabupaten Pulang Pisau, Jumat (16/9)
*Kerap Lakalantas, Pemangku Adat Gelar Ritual Adat
PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Jembatan Layang Bukit Rawi menjadi salah satu infrastruktur andalan Kalteng, yang kini menjadi solusi pengguna jalur darat, saat banjir musiman bagi pengendara baik roda dua dan empat. Posisinya tepat berada di Desa Penda Barania, Kabupaten Pulang Pisau. Jembatan ini memang belum diresmikan dan masih dalam tahap ujicoba. Kendati begitu kendaraan apapun jenisnya, sudah bisa melewati jembatan tersebut.
Namun beberapa waktu terakhir ini, sejumlah kecelakaan lalu lintas (lakalantas), sering kali terjadi di ruas jembatan baru tersebut. Dari sudut pandang logika, memang bisa saja hal itu terjadi karena kelalaian ataupun faktor lainnya. Namun bagi masyarakat setempat, jembatan atau infrastruktur apapun yang baru dibangun dan diawalnya sudah memakan korban, maka perlu adanya pembersihan serta antisipasi melalui ritual ini.
Hal inilah yang dilakukan oleh para pemangku adat serta masyarakat setempat di wilayah itu, dalam upaya menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Ritual adat yang digelar, Jumat (16/9), dilaksanakan sejumlah unsur seperti pihak damang pemangku adat, kepala desa (kades setempat) dan lainnya.
Terkait itu, Pemangku Adat setempat Bobo Herdiansyah menuturkan, pihaknya telah meminta petunjuk dengan “penghuni” jembatan tersebut.”Saat kita minta petunjuk, dan saat itu kita diberi petunjuk, agar menyediakan hewan kurban berupa babi putih, ayam tiga warna,” ujarnya. Maka ritual adat yang pihaknya lakukan untuk “pembayaran” janji tersebut kepada penghuni gaib setempat.
Artinya, ujar dia, pihaknya meminta agar siapapun yang lewat jembatan itu, tidak terkena celaka serta mendapat sial berupa kecelakaan berbagai jenis apapun. Dirinya menceritakan, untuk persiapan ritualnya sendiri, dilakukan dalam satu hari dan dilaksanakan bersama-sama gotong royong oleh masyarakat setempat.
“Mamapas, Ritual ini sebagai pemindah jalan bagi penguasa disini, karena menurut mereka jalan atau jembatan yang dibangun ini melewati jalan mereka,” ucapnya.
Maka pihaknya membuat tanda, bahwa di sekitarnya merupakan jalan manusia dan yang diberikan berupa bendera kuning dari ujung jembatan satu dan diujung lainnya, merupakan jalan mereka.
Intinya, ujar dia, ritual “memanggil datu” hari ini berjalan sukses dan didukung dengan cuaca yang sangat bagus. Sementara itu Kades Bukit Rawi Kilat berharap, melalui ritual ini masyarakat yang lewat bisa selamat dan berkendara dengan nyaman tanpa “gangguan” dari pihak “sebelah”. Tentunya aman tanpa hambatan.drn











