Ekobis

ANJLOKNYA SAHAM-Fitria Husnatarina: Ciptakan Investor Cerdas

41
×

ANJLOKNYA SAHAM-Fitria Husnatarina: Ciptakan Investor Cerdas

Sebarkan artikel ini
Pengamat Ekonomi Kalteng, Fitria Husnatarina

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Kamis (5/1)  terjun bebas. Disebutkan bahwa IHSG terkoreksi 2.34 persen. Anjloknya IHSG Kamis lalu tersebut menarik perhatian Pengamat Ekonomi Kalteng, Fitria Husnatarina. Dijelaskan Fitria bahwa fenomena di bursa efek adalah yang sebagian besar mengakumulasi faktor psikologis.
“Jadi, dalam aktivitas-aktivitas perdagangan yang dilakukan ini kita mengetahui analisa fundamental dan teknikal. Yang dilakukan ini menjadi sebuah bentuk dari prediksi terhadap aktivitas-aktivitas melalui harga saham.
Tercermin di Indeks Harga Saham Gabungan atau Harga Saham secara Individu,” beber Fitria, Jumat (6/1).
Selanjutnya, Direktur Galeri Investasi Kampus UPR itu juga mengatakan ketika melihat fenomena turunnya harga saham atau terjun bebasnya harga-harga saham itu pasti sebuah refleksi dari bagaimana sentimen pasar yang ditunjukan dari sentimen investor secara agregat atau secara keseluruhan terhadap informasi.
“Yang berharga itu adalah informasi kalau di bursa efek. Jadi informasi apa? Kalau kemudian kita melihat turun turunnya harga saham berarti yang berperan besar itu adalah sentimen negatif terhadap informasi. Kita mengetahui bahwa informasi itu tidak sertamerta sebagai sebuah prosesi yang datang dengan sendirinya atau single informasi. Tapi itu adalah berurutan,” imbuhnya.
Yang seringkali dipahami ketika melihat fenomena-fenomena global kemudian refleksi juga dengan fenomena nasional, semua orang juga mengatakan, baik dari pakar ekonomi, pemerintah sampai pada tingkat internasional itu, bahwa dunia akan menghadapi resesi. Logikanya, siapa yang kira-kira mau berinvestasi pada saat resesi ini.
Semua faktor yang sekiranya fundamentalnya itu bagus, itu normal dan sangat rasional. Kalau perusahaannya bagus dia akan tetap bagus. Tapi yang kalau bicara teknikal dengan berbagai macam rumus itu termasuk di antaranya adalah mengikuti pola massa dan sentimen pasar itu kadang-kadang bicara tentang psikologis.
“Kalau fundamental itukan menganalisa dari perspektif rasio keuangan yang ditunjukkan dalam laporan keuangan,” bebernya lagi.
Jadi bicara resiko adalah bicara bagaimana kemudian managemen portofolio investor itu ditaruh atau dipindahkan kepada bagian-bagian investasi yang sangat aman, kalau mau investasi. Tapi saving itu jauh lebih baik pada kondisi turbulensi yang sangat tinggi, tambah dia.
Jadi, lanjut Fitria. feedback realnya adalah harga saham tadi ditunjukkan dari refleksi psikologis para investor, yang tentunya ingin mengamankan asetnya. Padahal kemungkinan besar juga perusahaan-perusahaan ini tetap beroperasi dengan baik, fundamentalnya baik. Mungkin akan ada restrukturisasi tapi kemudian tidak akan juga menjadikan perusahaan itu bangkrut secara aktifitas realnya.
“Tapikan sekali lagi saya katakan dalam pasar itu ada fundamental teknikal kemudian asimetri informasi, informasi itu paling berharga. Kemudian juga akan berkembang psikologi pasar. Itu ada sentimen namanya, sentimen pasar dan ini yang kemudian bisa mengakumulasi semua yang ada itu terlihatnya ke arah sisi negatif,” imbuhnya.

 Solusi
Selanjutnya, Dosen Fakultas Ekonomi UPT tersebut mengatakan pula solusinya  yang cukup baik itu adalah menciptakan investor-investor yang cerdas. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa investor yang cerdas, investor yang konten informasinya tidak terimbas oleh hoak akan cenderung untuk berpikir rasional dan lebih mengarahkan analisanya kepada fundamental.
Kalau perusahaan yang ada kinerjanya tetap baik, masyarakat tetap mengkonsumsi produk yang diproduksi kenapa mesti takut, masih stabil. Tapi yang mengguncang itu adalah bagaimana orang-orang tertentu yang memang dengan tujuan menggoreng informasi itu bertindak.
“Opportunistik Investor bertindak untuk return nya sendiri. Ini yang akan menjadikan pengambilan keputusan yang salah dan sayangnya untuk pasar modal seperti di Indonesia ini, dominannya adalah investor yang mayoritas mungkin agak kecil. Modal kecil itu dengan informasi yang digoreng oleh Big Boy-nya, itu latah,” bebernya.
Jadi, kecerdasan dari basis literasi, secara spesifik literasi dibidang perpasarmodalan dan kemudian pendidikan inklusi juga disisi praktiknya clear, akan menciptakan investor-investor yang cerdas.
Kemudian pertanyaan, lanjutannya apakah pasar saham itu tidak merefleksikan ekonomi real, tidak juga. Betul pasar saham gambaran protret dari ekonomi real.
Ekonomi real berbicara tentang trust. Bagaimana kemudian orang melihat bahwa ada hal-hal ke depan yang tidak bisa diprediksi. Atau kalau sentimen positifnya adalah hal-hal ke depan itu akan mendatangkan benefit dan profit bagi global maupun secara individu. Jadi solusinya adalah satu edukasi. Menciptakan investor-investor yang cerdas.
“Cukup banyak sudah, OJK, pasar modal, Securitas, BEI sudah banyak melakukan itu. Dan hal lainnya adalah menciptakan bagaimana fenomena-fenomena bisnis itu tidak hanya lagi berkutat di bidang-bidang yang sudah leading.
Kalau di BEI perusahaan-perusahaannya pasti perusahaan dengan kriteria-kriteria yang memang sudah dianggap memenuhi syarat. Tapi kan yang sedang dibuka dengan cukup lebar itu untuk menciptakan startup-startup,” ujarnya.
Jadi, sambung Fitria, menciptakan sebuah domain lain dari sektor industri yang nantinya juga tidak hanya bergerak dibidang konvensional. Jika sudah bicara startup itu terfasilitasi juga dengan pendanaan dari BEI yang artinya bisa mengeluarkan sahamnya itu juga menjadi geliat tersendiri yang menurut Fitria sangat bagus.
“Jadi solusi secara praktisnya adalah bagaimana kita menciptakan sentimen positif, pakar ekonomi, pemerintah, orang-orang yang selalu berbicara di publik kemudian orang-orang yang selalu bisa dan mampu share influencer itu harus menceritakan bahwa kita punya proyeksi optimis ke depan dengan sektor-sektor yang terus bergeliat, manufaktur, industri pertambangan, perbankan, kimia dan segala macam kesehatan. Itu harus kita sampaikan bahwa jangan berkutat atau terkurung dalam informasi yang negatif dan merugikan tapi juga kita harus mampu juga untuk melihat sisi dari informasi yang positif,” tukasnya. dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *