Spirit Kalteng

Jembatan Mandomai Tali Busur Minta Direvitalisasi Sesuai Aslinya

40
×

Jembatan Mandomai Tali Busur Minta Direvitalisasi Sesuai Aslinya

Sebarkan artikel ini
Senator Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang

PALANGKA RAYA/TABENGAN.CO.ID – Senator Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang, diundang Ikatan Arsitek Indonesia  Kalteng, berdiskusi tentang Historic Urban Landscape atau Lanskap Kota Bersejarah kawasan Mandomai di Kabupaten Kapuas, Minggu (22/1).

Dipilihnya Mandomai, sebab Mandomai adalah salah satu perkampungan Dayak tertua di Kecamatan Kapuas Barat. Letaknya strategis dengan jarak sekitar 120 km dari Palangka Raya, dan 60 Km dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Di Mandomai, kata Teras Narang, terdapat warisan besar sejarah kebudayaan, khususnya berkaitan dengan teknik perkayuan, sebagai bagian dari kemajuan peradaban Dayak kala itu. Terdapat satu jembatan ikonik yang dibangun beberapa dekade lalu. Jembatan buatan arsitek asal Swiss, Heinz Frick, menggunakan bahan kayu jenis ulin, dimana masyarakat lokal dilibatkan secara langsung dalam proses pembangunannya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalteng ini menceritakan, Jembatan Bowstring atau tali busur ini merupakan gabungan dari jembatan gantung, dan jembatan lengkung, yang dibangun menyesuaikan kondisi wilayah Mandomai dengan anjirnya yang eksotis. Jembatan Bowstring dibangun pada tahun 1975. Ini merupakan satu dari 3 jembatan kayu yang dulu dibangun di wilayah Kalteng.

“Sayangnya, jembatan kayu terakhir di Mandomai telah dirobohkan pada 2020 lalu karena alasan keamanan. Para arsitek yang mencintai sejarah, peradaban, dan kebudayaan Dayak di kawasan Mandomai ini, meminta agar kawasan eksotis dengan sumber daya perairannya ini dapat direvitalisasi. Revitalisasi ini berkaitan dengan penataan dan pengembangan kawasan kebudayaan dengan ikon jembatan Mandomai yang dibangun kembali menurut versi lawasnya, menggunakan kayu ulin dengan penyesuaian ketinggian dari versi aslinya,” kata Gubernur Kalteng Periode 2005-2015 ini, terkait hasil diskusi dengan Ikatan Arsitek Indonesia Kalteng.

Teras Narang menyampaikan, revitalisasi, kawasan dengan pembangunan kembali jembatan kayu Mandomai, penting sebagai edukasi kesejarahan, sekaligus landasan menangkap perubahan zaman yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan. Jadi, revitalisasi kawasan, dan pembangunan kembali jembatan kayu Mandomai, berarti membangun jembatan kesejarahan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Simbol jembatan peradaban yang terus berkembang dengan nilai-nilai kebudayaan yang tetap terpelihara.

Teras Narang berharap, kementerian terkait, baik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, beserta dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dapat meninjau kawasan ini. Dukungan pemerintah daerah sangat penting, agar revitalisasi kawasan ini dapat dilakukan sebagai bagian dari pembangunan ciri khas dan keunggulan daerah.

Teras Narang mengatakan, revitalisasi kawasan dengan pembangunan kembali, atau rekonstruksi Jembatan Mandomai menggunakan bahan kayu sesuai model aslinya, bisa jadi pintu masuk untuk membangun keunggulan khas daerah ini. Terlebih, di kawasan ini ada SMK Mandomai yang memiliki sejarah sebagai lembaga pendidikan teknik kayu tertua di Indonesia.

SMK Mandomai ini, kata Teras Narang, aset GKE sekaligus aset daerah, yang dapat diintegrasikan dengan revitalisasi kawasan, dengan harapan dapat menjadi wisata sosial, budaya, dan arsitektur. Selain membangun kawasan, ada semangat pembangunan kualitas sumber daya manusia dari teknik perkayuan.

Langkah revitalisasi ini, lanjut Teras Narang, diyakini oleh para intelektual muda Kalteng ini, akan mendapat perhatian secara global. Mengingat Jembatan Kayu Mandomai, bila direkonstruksi sesuai bentuk aslinya akan menjadi diskursus pecinta arsitek global. Terlebih catatan sejarah dan detail catatan pembangunannya juga masih tersimpan rapi.

Atas pertimbangan ini, ungkap Teras Narang, revitalisasi kawasan dengan pendekatan Historic Urban Landscape di Mandomai, dapat memperkuat daya saing dan keunggulan daerah. Mendorong agar ini menjadi diskursus bersama kalangan pecinta sejarah, kebudayaan, arsitektur, dan teknik perkayuan. Melalui seminar nasional, wacana ini dapat memberi pencerahan dan inspirasi pembangunan yang berkelanjutan bagi kita semua.ded

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *