SAMPIT/TABENGAN.CO.ID-Upacara dan ritual umat agama hindu kaharingan mampakanan sahur dan mamapas lewu merupakan salah satu warisan leluhur dan budaya yang patut untuk dijaga kelestariannya. Selain itu kegiatan ini juga sarat akan nilai-nilai budaya yang bisa menjadi daya tarik wisatawan.
Hal tersebut diungkapkan Bupati Kotim Halikinnor saat menghadiri kegiatan upacara adat mampakanan sahur dan mamapas lewu yang diselenggarakan di Balai Basarah Sampit Senin (12/12).
Dikatakannya, ritual keagamaan mampakanan sahur tersebut menunjukkan rasa syukur dengan membayar hajat dimana kegiatan ini disimbolkan dengan mengundang masyarakat untum makan dan minum bersama dalam suasana kegembiraan. Sedangkan ritual mamapas lewu bermakna membersihkan kampung atau daerah dari hal-hal buruk atau juga sebagai tolak bala.
“Dengan harapan masyarakat dan daerah Kabupaten Kotim ini terhindar dari bala dan bencana,” katanya.
Dilanjutkannya Pemkab Kotim berusaha seoptimal mungkin untuk memfasilitasi kegiatan ritual tahunan tersebut. Diharapkan dapat menjadi wahana untuk menunmbuhkan semangat dan motivasi dalam upaya menggali , melestarikan dan mengembangkan nilai- nilai budaya yang hidup tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat. Langkah tersebut dinilainya perlu dilakukan agar nilai-nilai budaya positif yang telah diwariskan oleh para leluhur tidak luntur dan sirna oleh pengaruh budaya luar. (C-May)











